Main Agenda: Pakar Ragu Iran dan AS Resmi Damai Usai Perjanjian Difinalisasi
Table of Contents
Pakar Ragu Iran dan AS Resmi Damai Usai Perjanjian Difinalisasi
Penjelasan dari Pihak Iran
Main Agenda – Dalam pernyataan resmi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Teheran telah mencapai kesepakatan terkait sebagian besar isu yang diperdebatkan dengan Amerika Serikat (AS). Menurut Baghaei, langkah ini dianggap sebagai pengakhiran konflik yang signifikan, termasuk di wilayah Lebanon. Ia menyatakan bahwa perjanjian tersebut akan menjadi dasar bagi negosiasi lebih lanjut, seperti pencabutan sanksi dan pengaturan keamanan regional.
“Berakhirnya perang akan diumumkan di semua front, termasuk Lebanon,” kata Baghaei dalam wawancara dengan media Iran.
Menurut Baghaei, dokumen yang dinamakan Memorandum Kesepahaman Islamabad ini mencakup komitmen keduanya untuk tidak memulai perang, mengancam penggunaan kekerasan, atau mencampuri urusan internal masing-masing negara. Ia juga menyebutkan bahwa kesepakatan ini mengakui kedaulatan Republik Islam Iran, yang sebelumnya sering dianggap sebagai pengecut oleh pihak AS.
Kekhawatiran Pakar Indonesia
Mengenai perjanjian tersebut, pakar hukum internasional dari Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, menyatakan keraguan terhadap klaim perdamaian resmi. Menurutnya, pihak Iran mungkin menggunakan strategi ‘kartu’ untuk menipu pihak AS, terutama dalam konteks hubungan diplomatik yang terus memanas.
“Berita tersebut kemungkinan dari pihak Iran, yang oleh Trump dikatakan tidak benar. Kalau benar sih, bagus sekali buat Iran,” ujar Hikmahanto saat dihubungi, Minggu (14/6/2026).
Hikmahanto menekankan bahwa keputusan damai yang diumumkan Iran belum sepenuhnya disepakati oleh kedua belah pihak. Ia berargumen bahwa kesepakatan ini bisa jadi hanya sebagai langkah sementara, dengan AS yang kemungkinan besar mengambil keputusan sendiri. “Jadi saat ini belum ada dokumen yang disepakati oleh kedua belah pihak. Iran sepertinya main kartu seperti Trump. Mengklaim saja sepihak biar nanti dibantah,” terangnya.
Pakar ini juga memprediksi bahwa konflik antara Iran dan AS tidak akan berakhir secepat yang diharapkan. Menurutnya, momentum perdamaian tergantung pada kemampuan kedua pihak untuk mengakui keterbukaan dan keseriusan dalam negosiasi. “Nah ini sulit diperkirakan. Bisa jadi tidak ada titik temu. Jadi mereka akan mengambangkan perang,” tambah Hikmahanto.
Analisis tentang Proses Diplomasi
Memorandum Kesepahaman Islamabad, yang diperkenalkan oleh AS dan Iran, menjadi bahan perdebatan di tengah masyarakat internasional. Dokumen ini dirancang sebagai langkah awal untuk menyelesaikan konflik yang berlangsung sejak 1979, ketika revolusi Iran menggulingkan pemerintahan pro-Amerika. Namun, keberhasilan perjanjian ini bergantung pada komitmen yang sama dari kedua pihak, terutama dalam menjaga kesepakatan selama jangka waktu tertentu.
Dalam konteks politik regional, Hikmahanto menyoroti bahwa Iran mungkin bertindak defensif terhadap ancaman AS. “Pihak Iran kerap mengambil langkah strategis untuk menunjukkan kekuatan, bahkan jika itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan komitmen,” jelasnya. Ia mengingatkan bahwa sanksi ekonomi yang diberlakukan AS terhadap Iran sebelumnya berdampak besar pada perekonomian negara itu, sehingga keberhasilan perjanjian ini bisa menjadi alasan untuk melunakkan kebijakan.
Di sisi lain, Hikmahanto mengkritik sikap AS yang dianggap terlalu bersifat unilateral. Ia menyebut bahwa perjanjian ini mungkin diumumkan sebagai kesepakatan, tetapi masih bisa dibatalkan kapan saja oleh Trump. “Trump sering mengambil keputusan tanpa berkonsultasi dengan tim diplomatik, sehingga kesepakatan bisa jadi hanya simbolis,” lanjutnya. Ini memicu pertanyaan apakah perjanjian ini benar-benar akan mendorong proses perdamaian atau justru memperumit hubungan bilateral.
Penilaian tentang Keberlanjutan Perjanjian
Kedua belah pihak, meski berupaya menegaskan komitmen mereka, masih dihadapkan pada tantangan besar. Hikmahanto menekankan bahwa keberhasilan perdamaian tergantung pada kepercayaan yang terbangun antara Iran dan AS. “Jika AS terus merasa tidak puas, mereka bisa mencabut kesepakatan dalam waktu dekat,” ujarnya.
Menurut mantan menteri luar negeri Iran, Abbas Araghchi, perjanjian ini menjadi titik balik dalam hubungan Iran dan AS. Ia menyatakan bahwa memo kesepahaman ini akan diumumkan secara resmi sebagai pengakhiran perang di semua front, termasuk wilayah Lebanon yang sering jadi tempat konflik antara dua negara. “Ini adalah kesempatan untuk membangun kepercayaan, dan sekaligus menegaskan bahwa Iran mampu berdiri sendiri dalam diplomasi,” kata Araghchi.
“Untuk pertama kalinya dalam 47 tahun, Amerika Serikat secara eksplisit menyatakan bahwa mereka menghormati kedaulatan Republik Islam Iran,” ujar Araghchi dalam wawancara dengan stasiun televisi IRIB, Sabtu (13/6/2026).
Sementara itu, Araghchi memastikan bahwa dokumen ini tidak hanya sebagai perjanjian diplomatik, tetapi juga sebagai kerangka untuk diskusi lebih lanjut. Ia berharap dengan adanya perjanjian ini, Iran dan AS bisa mengurangi ketegangan di kawasan Timur Tengah. Namun, keberhasilan perjanjian tersebut juga bergantung pada kepatuhan kedua pihak terhadap komitmen yang dijanjikan.
Hikmahanto mengingatkan bahwa, meski ada kem
