Table of Contents
IDAI Berikan Panduan Penanganan Hipotermia pada Anak
Jakarta – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan langkah-langkah penting dalam mengatasi anak yang mengalami hipotermia, yaitu penurunan suhu tubuh secara drastis. “Anak bukanlah dewasa kecil, jangan menganggap mereka memiliki daya tahan tubuh seperti orang dewasa. Terlebih jika membawa si kecil ke gunung karena mereka sangat rentan kehilangan cairan tubuh,” jelas Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subs. ETIA (K), Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, saat ditemui ANTARA di Jakarta, Senin.
Penanganan Awal yang Harus Dilakukan
Menurut Yogi, salah satu faktor utama yang menyebabkan bayi di bawah tiga tahun mudah mengalami hipotermia adalah pakaian yang basah akibat cuaca yang terlalu lama. Langkah pertama yang sebaiknya diberikan adalah membuka baju anak dan mengeringkan tubuhnya. Pakaian basah akan mempercepat kehilangan panas yang biasanya dipertahankan tubuh.
“Kita lakukan dalam kondisi tubuh yang sama-sama kering, ya. Teknik ini mirip dengan Kangoro Mother Care (KMC), yang sering digunakan di Afrika. Di Indonesia, biasanya untuk bayi prematur,” ujar Yogi.
Orang tua juga dianjurkan menutup bagian luar tubuh anak dengan kain kering. Sementara itu, penggunaan alumunium foil bisa digunakan, tetapi tujuannya hanya untuk mencegah anak kehilangan panas tambahan.
Kasus Hipotermia di Semarang
Di sisi lain, Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), mengkritik terjadinya hipotermia pada anak berusia 1,5 tahun di Semarang, Jawa Tengah. Kecelakaan tersebut terjadi saat bayi perempuan dibawa mendaki Gunung Ungaran pada Sabtu (11/4).
Kasus ini diduga terjadi karena cuaca di area pendakian tiba-tiba memburuk. Video yang diunggah oleh @basarnasofficial di YouTube pada Minggu (12/4) menunjukkan bayi dalam kondisi kritis, dengan suhu tubuh turun drastis dan menunjukkan tanda-tanda kedinginan parah. Setelah dievakuasi dan diberi pertolongan oleh tim SAR, kondisi anak perlahan kembali normal.
“Menurut saya, tidak direkomendasikan membawa bayi usia 1,5 tahun ke gunung jika ada risiko hujan, basah, kuyup, atau terlalu panas,” tambah Piprim.
Piprim menekankan pentingnya kesadaran orang tua dalam memastikan anak tetap aman selama aktivitas di alam terbuka. Ia mengingatkan bahwa usia batita (bayi di bawah tiga tahun) memang rentan terhadap kondisi tubuh yang melemah. Misalnya, perlu mempersiapkan pakaian yang nyaman dan memperhatikan medan lokasi yang dituju.
Menurut Yogi, orang tua yang baru memulai eksplorasi alam dengan anak sebaiknya melakukan latihan secara perlahan. Ia menyarankan memulai dengan hiking di medan yang aman dan mudah diakses, lalu mengevaluasi kemampuan si anak setiap minggu.
