Special Plan: Gejolak Selat Hormuz yang Tak Kunjung Usai

Gejolak Selat Hormuz yang Tak Kunjung Usai

Special Plan – Badan Militer Iran kembali memutuskan untuk menutup Selat Hormuz setelah serangan Israel terhadap wilayah selatan Lebanon menciptakan ketegangan baru. Pernyataan ini dibacakan oleh Komando Militer Pusat Iran dalam sebuah pengumuman resmi yang disiarkan oleh televisi negara, menunjukkan bahwa tindakan tersebut merupakan respons terhadap pelanggaran kesepakatan yang telah dijanjikan. Kebijakan penutupan ini dilakukan dengan tujuan memastikan keamanan jalur pelayaran internasional dan menekan pihak musuh yang dianggap bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Reaksi dari Negara-Negara Terlibat

Menurut laporan dari AFP pada hari Sabtu, 20 Juni 2026, Iran menegaskan bahwa serangan Israel terhadap Lebanon merupakan pelanggaran terhadap perjanjian dengan Amerika Serikat. Penutupan Selat Hormuz dianggap sebagai langkah penting untuk memperkuat tekanan terhadap negara-negara Barat. “Dengan ini, Selat Hormuz ditutup bagi lalu lintas kapal, dan langkah pertama ini dilakukan sebagai respons terhadap pelanggaran janji musuh,” jelas Markas Besar Pusat Khatam-al Anbiya dalam pernyataan resmi. Jika agresi terus berlanjut, Iran menyatakan akan mengambil langkah-langkah tambahan untuk memastikan pihak lawan mematuhi kewajibannya.

Dengan ini diumumkan bahwa Selat Hormuz akan ditutup untuk lalu lintas kapal. Perlu dicatat bahwa langkah pertama ini adalah tanggapan terhadap pelanggaran janji musuh, dan jika agresi berlanjut, langkah-langkah lebih lanjut akan direncanakan dan diambil untuk memaksa musuh mematuhi kewajibannya,” kata Markas Besar Pusat Khatam-al Anbiya dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah.

Sementara itu, media resmi Lebanon melaporkan bahwa serangan Israel ke sebuah desa di dekat kota Sidon pada hari Sabtu telah menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai tiga belas korban lainnya. Insiden ini terjadi meskipun gencatan senjata dengan Hizbullah telah diumumkan sehari sebelumnya, yang seharusnya memberikan ketenangan di wilayah tersebut. Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon menyebutkan bahwa serangan di Qannarit telah mengakibatkan “tujuh orang tewas dan tiga belas orang terluka, menurut perkiraan sementara,” yang menambah kekhawatiran tentang dampak peningkatan ketegangan di kawasan tersebut.

Kehadiran Pasukan AS di Selat Hormuz

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa pasukan mereka tetap “hadir dan waspada” di Selat Hormuz, menjelaskan bahwa mereka berupaya memastikan seluruh aspek perjanjian dengan Iran tetap dipatuhi. Dalam pernyataan yang dilansir AFP pada hari Sabtu, 20 Juni 2026, CENTCOM mengungkapkan bahwa lima puluh lima kapal komersial telah melewati jalur pelayaran itu sepanjang hari Sabtu, dengan “jalur aman melalui jalur air internasional tetap utuh hingga saat ini.”

Kehadiran pasukan AS di Selat Hormuz dinilai sangat strategis, mengingat wilayah tersebut merupakan jalur penting untuk distribusi minyak mentah dan perdagangan internasional. Penutupan strait oleh Iran berpotensi mengganggu aliran bahan bakar ke Eropa dan Asia, menimbulkan risiko kenaikan harga energi global. Meski demikian, pasukan AS menegaskan bahwa mereka siap mengambil langkah untuk menjaga kestabilan dan menghindari konflik yang lebih besar.

Peran Trump dalam Isu Biaya Tol

Dalam konteks lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan bahwa tidak akan ada biaya tol untuk melewati Selat Hormuz selama periode gencatan senjata. Hal ini disampaikan oleh Trump melalui unggahan di akun Truth Social pada hari Sabtu, sebelum pengumuman Iran tentang penutupan strait. Menurut laporan dari Al Jazeera dan Reuters, Minggu, 21 Juni 2026, Trump menegaskan bahwa biaya tol hanya akan dikenakan jika dipungut oleh negaranya sendiri.

“Tidak akan ada biaya tol di Selat Hormuz selama 60 hari selama Periode Gencatan Senjata, dan tidak akan ada biaya tol setelah periode 60 hari berakhir,” tulis Trump dalam pernyataannya. “Kecuali jika dikenakan oleh dan untuk Amerika Serikat, jika kesepakatan tidak tercapai, untuk layanan yang diberikan sebagai Malaikat Pelindung bagi negara-negara Timur Tengah untuk tujuan penggantian biaya di masa lalu, sekarang, dan masa depan,” tambahnya.

Pernyataan Trump ini mencerminkan keinginan untuk mengurangi beban ekonomi bagi negara-negara yang bergantung pada jalur pelayaran tersebut, terutama selama konflik masih berlangsung. Tindakan penutupan oleh Iran dianggap sebagai tanda keterlibatan aktif dalam kebijakan geopolitik Timur Tengah, dan Trump memperkirakan bahwa AS akan tetap menjadi penjamin keamanan bagi wilayah tersebut. Wakil Presiden JD Vance juga menyatakan bahwa dia berencana melakukan kunjungan ke Swiss dalam “beberapa hari ke depan” untuk terlibat dalam negosiasi dengan pihak-pihak terkait.

Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20 persen dari total minyak mentah yang diangkut ke pasar global, sering kali menjadi titik perhatian dalam konflik antara Iran dan negara-negara Barat. Penutupan jalur ini bukanlah yang pertama, tetapi menegaskan kembali komitmen Iran untuk melindungi kepentingannya di kawasan tersebut. Sejak awal tahun, Iran telah beberapa kali mengambil langkah serupa sebagai respons terhadap serangan atau ancaman dari negara-negara sekutu AS.

Kebijakan ini juga menimbulkan perdebatan di kalangan pakar internasional. Beberapa menilai bahwa penutupan Selat Hormuz berisiko memicu ketegangan lebih lanjut, terutama jika AS tidak mengambil langkah tegas untuk mencegahnya. Namun, lainnya menyatakan bahwa tindakan Iran adalah bagian dari strategi mereka untuk menegakkan kekuasaan di kawasan Timur Tengah. Dengan demikian, keputusan Iran mengenai Selat Hormuz menjadi simbol dari pertarungan kekuasaan yang berlangsung di luar perjanjian diplomatik.

Meskipun penutupan tersebut memicu kekhawatiran, Iran mempertahankan bahwa tindakan mereka diambil dalam rangka menjaga keseimbangan keamanan. Dengan adanya pasukan AS yang tetap aktif di area tersebut, para pengamat mengatakan bahwa situasi bisa berubah menjadi lebih kompleks. Apakah penutupan Selat Hormuz akan memperkuat posisi Iran atau mengurangi kemampuan mereka untuk menegakkan kebijakan ekonomi dan militer mereka, adalah pertanyaan yang masih terbuka.

Di sisi lain, Trump menegaskan bahwa biaya tol akan menjadi pertimbangan dalam penegakan kebijakan AS, terutama jika negosiasi tidak berhasil. Hal ini mengisyaratkan bahwa AS siap untuk memperkenalkan kebijakan ekonomi yang lebih fleksibel, namun tetap memprioritaskan kepentingan nasionalnya. Dengan pengumuman ini, Trump mencoba memperkuat reputasi AS sebagai negara yang siap memberikan dukungan ekonomi dan militer kepada negara-negara Timur Tengah.