Special Plan: Buka LCC 4 Pilar di Sulut, MPR Perkuat Nilai Kebangsaan di Era Digital

Buka LCC 4 Pilar di Sulut, MPR Perkuat Nilai Kebangsaan di Era Digital

Special Plan – Ir Stefanus BAN Liow, anggota MPR RI dari Dapil Sulut, secara resmi meresmikan acara Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat provinsi di Manado. Perhelatan ini menjadi bagian dari inisiatif MPR untuk memperkuat kesadaran generasi muda tentang prinsip-prinsip kebangsaan, sekaligus menangkal berbagai ancaman yang muncul dari perubahan cepat di era digital.

Menjawab Tantangan Generasi Digital

Dalam pidatonya, Stefanus menegaskan bahwa LCC Empat Pilar bukan hanya kompetisi sekadar untuk menguji pengetahuan, melainkan alat strategis dalam mengajarkan nilai-nilai kebangsaan secara lebih efektif. Ia menyoroti betapa pentingnya pendekatan yang sesuai dengan dinamika zaman, terutama bagi kelompok usia yang kini menghadapi kehidupan digital.

“Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar hadir bukan sebagai doktrinasi satu arah, melainkan metode pembelajaran yang edukatif, kompetitif, sekaligus menyenangkan,” ujar Stefanus.

Menurutnya, generasi muda kini terpapar informasi yang sangat cepat bergerak, termasuk berita palsu dan disinformasi. Hal ini membuat pemahaman tentang prinsip kebangsaan menjadi semakin menantang. Oleh karena itu, LCC ini dirancang untuk menciptakan ruang interaktif yang mendorong partisipasi aktif dan pemikiran kritis di kalangan pelajar.

Persiapan dan Peserta

Sebanyak 87 sekolah di Sulawesi Utara mendaftar dalam lomba ini, dan dari jumlah tersebut, 57 sekolah mengikuti seleksi daring yang ketat. Setelah melalui proses filtrasi yang memerlukan kompetensi tinggi, sembilan institusi akhirnya lolos ke babak final. Sekolah-sekolah yang terpilih mencakup SMAS Dian Harapan Manado, SMA Katolik Rex Mundi Manado, SMAN 2 Tomohon, SMAN 1 Tahuna, SMA Kristen Eben Haezar Manado, MAN 1 Bolaang Mongondow Plus Keterampilan, SMAN 1 Pinogaluman, SMAN 2 Bitung, serta SMAS Katolik Theodorus Kota Kotamobagu.

Stefanus menjelaskan bahwa peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk mengikuti babak penyisihan yang terdiri dari tiga kategori: Wawasan Empat Pilar, Tematik Empat Pilar, dan babak rebutan. Setiap babak dirancang untuk menguji kemampuan berpikir kritis, kerja sama tim, serta kemampuan mengambil keputusan cepat. Sistem ini diharapkan mampu membentuk peserta yang tidak hanya menghafal materi, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam konteks nyata.

Penilaian dan Transparansi

Penyelenggaraan LCC 2026 memiliki beberapa inovasi, termasuk digitalisasi sistem bank soal, penilaian secara real time, dan standarisasi tata kelola dewan juri. Stefanus menyatakan bahwa perubahan ini bertujuan menjamin keadilan dan profesionalisme bagi semua peserta. Dewan juri terdiri dari Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi (FISIP UNSRAT) Dr Ferry Laud Liando, Wakil Dekan Fakultas Hukum (FH) UNSRAT Dr Dani R Pinasang, serta Lektor Kepala Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Manado (FISH UNIMA) Dr Julien Biringan.

Acara ini dijadwalkan berlangsung hingga Agustus 2026, dengan juara provinsi nantinya mewakili Sulut ke Grand Final Nasional yang akan dihelat di Gedung MPR RI, Jakarta. Stefanus menilai bahwa tata kelola yang baru ini menjadi jaminan bagi kualitas dan kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan lomba.

Analisis Kebanggaan Generasi Muda

Berdasarkan survei nasional yang melibatkan 1.200 responden di 38 provinsi, lebih dari 80% generasi muda Indonesia menunjukkan kebanggaan tinggi terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, hasil evaluasi kuantitatif menunjukkan bahwa kebutuhan akan metode pendidikan kebangsaan yang lebih menarik dan interaktif semakin mendesak.

Stefanus menjelaskan bahwa generasi Z dan awal Generasi Alpha, yang merupakan kelompok digital native, mendominasi lebih dari seperempat populasi Indonesia. Mereka terbiasa dengan teknologi dan media sosial, sehingga perlu pendekatan kreatif untuk memastikan nilai-nilai kebangsaan tidak hanya dipahami, tetapi juga dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

Empat Pilar sebagai Fondasi Keberlanjutan

Materi yang diperlombakan mencakup empat fondasi utama kehidupan berbangsa, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) Tahun 1945 beserta Ketetapan MPR RI, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Stefanus mengingatkan bahwa materi ini bukan sekadar hafalan, melainkan prinsip-prinsip yang harus diterapkan dalam setiap tindakan sehari-hari.

“Empat pilar ini tidak boleh berhenti sebagai hafalan. Nilai-nilainya harus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari karena menjadi fondasi yang menjaga Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan global,” kata Stefanus.

Dalam wawancara tambahan, ia menyebut bahwa Sulawesi Utara menjadi contoh daerah yang mampu memperlihatkan peningkatan literasi kebangsaan di kalangan pelajar. Antusiasme yang tinggi dari sekolah menunjukkan upaya kolaboratif dalam menjaga kesadaran kewarganegaraan. Selain itu, peserta lomba disebut sebagai representasi generasi muda yang akan menjalankan peran penting dalam mengawal Indonesia menuju target Emas 2045.

Kelanjutan dan Peran Sosial

Stefanus juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulut melalui Dinas Pendidikan Daerah serta pihak-pihak yang mendukung penyelenggaraan acara. Ia berharap LCC ini mampu menjadi bentuk pembelajaran aktif yang tidak hanya memperkuat pengetahuan, tetapi juga mendorong partisipasi aktif dalam pembangunan nasional.

Menurutnya, dalam era digital yang serba cepat, masyarakat perlu memahami bahwa kebangsaan bukan sekadar konsep abstrak. Ia menekankan bahwa nilai-nilai tersebut harus diimplementasikan dalam setiap interaksi dan keputusan yang diambil, terutama di tengah arus informasi yang begitu deras. LCC ini, menurut Stefanus, menjadi salah satu langkah untuk menjaga keutuhan bangsa dalam situasi yang terus berubah.

Keberhasilan penyaringan peserta dari 8