Solving Problems: Bamsoet Tegaskan Idul Adha Jadi Momentum Perkuat Ketahanan Nasional
Table of Contents
Bamsoet Tegaskan Idul Adha Jadi Momentum Perkuat Ketahanan Nasional
Solving Problems – Ketua DPR RI ke-20, Bambang Soesatyo atau akrab disapa Bamsoet, baru-baru ini melaksanakan ritual qurban Idul Adha 1447 Hijriah di tiga lokasi berbeda di Jawa Tengah. Ia memotong tiga ekor sapi di DPD Partai Golkar Kebumen, DPD Partai Golkar Banjarnegara, serta DPD Partai Golkar Purbalingga. Upacara tersebut tidak hanya menjadi bagian dari tradisi agama, tetapi juga dianggap sebagai sarana menggali makna sosial dan ekonomi di balik perayaan tersebut.
Momen Idul Adha dalam Kondisi Global
Dalam suasana yang semakin dinamis, Bamsoet menegaskan bahwa Idul Adha harus dijadikan refleksi yang lebih dalam tentang kemampuan bangsa Indonesia untuk bertahan di tengah berbagai tekanan. Kondisi ekonomi global yang semakin tidak menentu, bersamaan dengan konflik geopolitik yang berkembang, serta gangguan rantai pasok yang menghimpit masyarakat, menjadi latar belakang pentingnya momen ini. “Idul Adha mengingatkan bahwa pengorbanan dan kepedulian sosial menjadi pondasi ketahanan bangsa,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (27/5/2026). “Negara yang kuat lahir dari masyarakat yang tidak membiarkan sesamanya berjalan sendiri ketika menghadapi tekanan ekonomi maupun perubahan global,” tambahnya.
Kurva Penurunan Kohesi Sosial
Bamsoet menyoroti bahwa ancaman terhadap bangsa Indonesia kini tidak lagi bersifat fisik, seperti agresi militer yang dulu umum, tetapi berubah menjadi bentuk-bentuk yang lebih kompleks. Perubahan ini mencakup pelemahan daya beli masyarakat, meningkatnya ketimpangan sosial, serta fragmentasi kepercayaan antar individu. “Kohesi sosial sedang mengalami penurunan yang signifikan, dan ini menjadi tantangan besar dalam membangun stabilitas nasional,” katanya. Ia menekankan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Idul Adha, seperti pengorbanan dan semangat berbagi, menjadi kunci untuk memulihkan ikatan antarwarga negara.
Dalam konteks global, laporan terbaru dari Global Report on Food Crises 2026 menyebutkan bahwa hingga tahun 2025, terdapat 266 juta orang di 47 negara mengalami krisis pangan akut, meningkat dua kali lipat dibandingkan periode satu dekade sebelumnya. Lebih dari 80% dari kasus tersebut terjadi di wilayah yang mengalami konflik berkepanjangan, disertai tekanan ekonomi dan gangguan iklim sebagai faktor utama. “Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan pangan tidak hanya terbatas pada produksi, tetapi juga mencakup distribusi dan akses yang tidak merata,” papar Bamsoet.
Semangat Berbagi sebagai Bentuk Persatuan
Menurut Bamsoet, Idul Adha tidak hanya tentang ritual agama, tetapi juga tentang kekuatan sosial yang terbangun melalui tindakan kolektif. “Semangat berbagi melalui kurban merupakan bentuk nyata bagaimana nilai agama memperkuat persatuan nasional,” ujarnya dalam kutipan yang diangkat. Ia menambahkan bahwa momentum ini menjadi peluang untuk memperkuat mekanisme distribusi sosial yang berjalan secara sukarela dan berlandaskan kesadaran moral. “Masyarakat yang berpartisipasi dalam kurban membuktikan bahwa kepedulian antar sesama tetap hidup, meski di tengah tantangan yang menghimpit,” imbuhnya.
Kurban: Pilar Dalam Ekonomi dan Budaya
Tradisi kurban, menurut Bamsoet, memiliki dampak yang luas karena memengaruhi tiga aspek utama: spiritual, sosial, dan ekonomi. Dalam konteks spiritual, ibadah ini memperkuat iman dan kepatuhan terhadap nilai-nilai agama. Sementara dalam aspek sosial, kurban memupuk rasa solidaritas dan kebersamaan antar kelompok. Dalam ranah ekonomi, distribusi daging qurban memberikan akses penting bagi keluarga miskin dan masyarakat rentan untuk memenuhi kebutuhan protein.
Lebih lanjut, Bamsoet menyoroti bahwa Idul Adha menjadi waktu yang strategis untuk menggerakkan sektor-sektor ekonomi lokal. “Pertanian, perdagangan, serta kegiatan usaha kecil-menengah di sekitar masyarakat kurban justru mendapat perhatian dan dukungan lebih besar,” katanya. Ia menjelaskan bahwa proses kurban tidak hanya menginspirasi kepedulian sosial, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang lebih inklusif. “Kurban menggambarkan bagaimana kegiatan ibadah bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan,” tegas Bamsoet.
Pesan Keberanian dan Kepedulian
Dalam era modern yang penuh persaingan, Bamsoet menegaskan bahwa Idul Adha memiliki pesan penting tentang keberanian menghadapi krisis bersama. “Pengorbanan yang dilakukan dalam kurban adalah simbol dari keberanian untuk menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan individu,” kata mantan Ketua MPR tersebut. Ia menggarisbawahi bahwa semangat ini juga memperkuat ekonomi nasional melalui transaksi lokal yang lebih efisien. “Dengan mengurangi konsumsi berlebihan, masyarakat berkontribusi langsung pada ketersediaan sumber daya bagi yang lebih membutuhkan,” papar Bamsoet.
Bamsoet juga menyoroti bahwa Idul Adha mendorong peran aktif masyarakat dalam menjaga persatuan. “Semangat berbagi ini harus menjadi bantalan kepedulian sosial yang terus berkembang, meski dalam kondisi yang tidak pasti,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa rasa kebersamaan yang terbangun selama perayaan bisa menjadi fondasi untuk membangun sistem ketahanan nasional yang lebih kuat. “Kurban bukan hanya tentang pemberian, tetapi juga tentang komitmen untuk saling mendukung di tengah krisis,” sambungnya.
Tradisi yang Menjadi Solusi
Bamsoet mengakui bahwa Indonesia memiliki modal sosial yang relatif baik, berkat budaya gotong royong dan tradisi tradisional yang telah mengakar. “Kurban menjadi bagian dari kultur bangsa yang mampu menggerakkan ekonomi dan hubungan sosial secara bersamaan,” kata politisi Partai Golkar ini. Ia menegaskan bahwa mekanisme distribusi sosial melalui qurban tidak hanya mengurangi kesenjangan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif tentang tanggung jawab.
Ketika kepedulian sosial melemah dan individu
