Rudal AS Tak Cukup untuk Perang Habis-habisan Lawan Iran

Kekurangan Rudal: Tantangan AS dalam Konfrontasi Total dengan Iran

Ceritaberkat.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih terus memanas tanpa tanda-tanda mereda. Meskipun kedua negara saling berhadapan, Washington kini mengakui bahwa stok rudal mereka mungkin tidak memadai untuk menghadapi perang skala penuh melawan Teheran. Pengakuan ini muncul di tengah eskalasi militer yang semakin intensif di kawasan Timur Tengah.

Posisi Strategis CENTCOM dan Serangan Udara

Komando Pusat Amerika Serikat atau yang dikenal sebagai CENTCOM menyampaikan pernyataan resmi pada hari Selasa mengenai target-target strategis yang telah mereka identifikasi. Menurut laporan tersebut, kekuatan militer AS membidik pusat komando militer Iran, fasilitas maritim penting, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta sistem pertahanan udara yang tersebar di berbagai wilayah.

Militer AS juga telah merilis rekaman visual terbaru yang menunjukkan serangan udara terhadap sejumlah lokasi di Iran. Rekaman tersebut memberikan gambaran visual tentang intensitas operasi militer yang sedang berlangsung.

“Pasukan Amerika tetap siaga dan siap meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan yang tidak beralasan terhadap awak kapal sipil yang berupaya melintasi selat secara bebas dan terbuka,” tulis CENTCOM dalam pernyataannya.

Trump Pertimbangkan Eskalasi Lebih Jauh

Menurut laporan yang beredar, Presiden AS Donald Trump sedang secara serius mempertimbangkan berbagai opsi untuk melancarkan “perang yang lebih luas” melawan Teheran. Pertimbangan ini sejalan dengan semakin banyaknya pesawat tempur Amerika yang dikerahkan ke wilayah Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir.

Namun, seorang pejabat AS yang mengetahui pembahasan internal pemerintah mengungkapkan bahwa operasi militer tersebut akan dibatasi oleh menipisnya persediaan pertahanan udara dan amunisi jarak jauh. Kekurangan ini menjadi faktor krusial dalam menentukan seberapa jauh AS dapat melanjutkan operasi militernya.

“Kita tidak memiliki cukup amunisi untuk mempertahankan operasi dengan aman, dan saya rasa Gedung Putih tidak menyadari hal itu,” kata pejabat AS tersebut kepada The Washington Post, seperti dilansir The Telegraph, Selasa (21/7/2026).

IRGC Serang Target di Tiga Negara

Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa mereka telah melakukan serangan terhadap target-target di Bahrain, Yordania, dan Suriah. Serangan-serangan ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya berfokus pada AS secara langsung, tetapi juga pada infrastruktur pendukung yang digunakan oleh Washington di kawasan tersebut.

IRGC bahkan bersumpah untuk memberikan pelajaran yang tak terlupakan kepada AS, yang akan mencegah siapa pun yang berupaya melakukan agresi terhadap Iran di masa depan. Pernyataan ini menegaskan keteguhan Iran dalam menghadapi tekanan internasional.

“Sekarang setelah Amerika yang kriminal sekali lagi memilih jalan kesalahan, agresi, dan petualangan, kami terikat teguh pada perjanjian ini: bahwa kami akan memberikan ‘pelajaran yang tak terlupakan’… pelajaran yang akan mencegah agresor mana pun untuk mengulangi kesalahannya,” demikian pernyataan IRGC.

IRGC juga menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah mempercayai AS dan janji-janjinya untuk mencapai penyelesaian dengan Iran melalui negosiasi. Mereka menekankan bahwa rekam jejak AS penuh dengan pelanggaran kepercayaan dan kebencian terhadap bangsa Iran.

“Kami berjanji bahwa… kami tidak akan pernah mengikat nasib negara ini pada janji-janji musuh pembunuh anak yang rekam jejaknya penuh dengan pelanggaran kepercayaan, tipu daya, dan kebencian terhadap bangsa Iran,” kata IRGC.

Pezeshkian: Iran dalam Perang Skala Penuh

Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara tegas mengatakan bahwa Teheran terlibat dalam “perang skala penuh” dengan AS. Ia menekankan bahwa Washington harus menerima konsekuensi dari konflik yang sedang berlangsung ini. Pernyataan ini memberikan konfirmasi resmi bahwa Iran memandang situasi saat ini sebagai konflik total, bukan sekadar ketegangan diplomatik.

Namun, kedua belah pihak telah memberi sinyal bahwa diplomasi terus berlanjut di balik layar. Meskipun pertempuran berlangsung, jalur komunikasi antara kedua negara tidak sepenuhnya tertutup.

“Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh,” ujar Pezeshkian, seperti dikutip dalam pernyataan resmi kepresidenan.

Pezeshkian menilai bahwa tantangan terbesar yang kini dihadapi Iran bukan hanya di medan militer, melainkan juga di bidang ekonomi. Ia menekankan bahwa stabilitas ekonomi dan mata pencaharian rakyat merupakan prioritas utama selama konflik berlangsung.

“Medan perang terpenting saat ini adalah ekonomi dan mata pencaharian rakyat,” katanya.

AS telah memperluas serangannya dalam serangan selama sembilan hari berturut-turut terhadap Iran, semakin mendekati perang habis-habisan di kawasan itu. Kekurangan amunisi yang dilaporkan menjadi penghambat signifikan bagi kelanjutan operasi militer Washington dalam jangka panjang.