Key Issue: Kisah perempuan Nabire di garis depan lawan malaria

Kisah perempuan Nabire di garis depan lawan malaria

Pengabdian di Tengah Tantangan

Di Kampung Kalisusu, Kabupaten Nabire, pagi hari melihat seorang wanita berpakaian ungu dengan logo “Kader Perkasa” berjalan perlahan menuju rumah sederhana di lorong sempit. Namanya Siti Ismawati Made. Ia tak membawa peralatan rumit, hanya tas kecil berisi alat dasar dan pengetahuan yang didapat dari pelatihan. Di depan pintu, keluarga yang menunggu terlihat tegang. Satu anggota keluarga sedang sakit. Tanpa bertele-tele, Siti masuk ke kamar. Seorang warga terbaring di balik selimut. “Demam? Menggigil?” tanyanya dengan lembut. Beberapa pertanyaan sederhana itu menjadi awal pengecekan.

Peran Kader Perkasa

Ia kemudian menyarankan pasien segera pergi ke puskesmas karena diduga mengalami gejala malaria. Sebelum pamit, Siti mengingatkan keluarga untuk menjaga kebersihan sekitar rumah. Bagi Siti, kunjungan seperti ini sudah menjadi bagian dari rutinitas. Jika tidak ada jadwal di posyandu, ia tetap sempatkan turun ke rumah-rumah jika ada laporan dari warga. Lahir di Nabire pada 23 Maret 1979, perempuan ini kini dikenal sebagai kader kesehatan yang aktif di lingkungannya. Tinggal di Jalan Ambon, Kampung Kalisusu, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, Siti mengawali pengabdian setelah pandemi COVID-19, saat mengikuti pelatihan kader malaria.

Seiring berjalannya waktu, perannya semakin berkembang. “Dulu kami hanya kader malaria. Sekarang sudah jadi Kader Perkasa, fokus-nya malaria, TBC, dan HIV/AIDS,” ujarnya, saat ditemui ANTARA di kediamannya yang bertepatan dengan Hari Malaria Sedunia, Sabtu (25/4/2026). Di Kalisusu, ia tidak bekerja sendirian. Tiga kader lain berjaga bersama, memantau delapan RT dan berkoordinasi dengan Puskesmas Karang Mulia. Jika ada laporan kasus malaria, mereka langsung turun ke lapangan untuk memeriksa lingkungan sekitar pasien. Tidak hanya menangani pengobatan, tetapi juga mencari sumber penyebaran penyakit.

Kerja keras Siti membuahkan hasil. Awalnya, tidak semua warga menerima kehadiran kader. Ada yang menolak, bahkan meragukan. Namun, konsistensi pengabdian perlahan mengubah stigma tersebut. Kini, kepercayaan masyarakat semakin meningkat. Namun, tantangan baru muncul. “Kalau HIV/AIDS, banyak yang takut melapor. Mereka malu,” kata Siti. Menurutnya, edukasi dan pengobatan sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit. Ia menyebut, kasus TBC dan HIV/AIDS di Nabire masih cukup tinggi.

Beberapa hari sebelumnya, Siti memeriksa pendulang di Kali Harapan. Awalnya, orang tersebut mengaku tidak merasakan gejala malaria. Namun, setelah diperiksa, hasilnya positif malaria tropika. Ia pun menyarankan pasien melakukan pemeriksaan di puskesmas untuk mengetahui tingkat keparahan. Di balik semangatnya, Siti mengakui masih ada keterbatasan. Peralatan di lapangan belum memadai, terutama untuk diagnosis lanjutan. Ia berharap pemerintah terus memberikan dukungan bagi para kader kesehatan.