Key Discussion: Waka MPR Sebut Situs Batujaya Bukti Peradaban Luhur Bangsa Indonesia
Table of Contents
Waka MPR Sebut Situs Batujaya Bukti Peradaban Luhur Bangsa Indonesia
Key Discussion – Dalam sebuah diskusi yang berlangsung di kawasan Situs Percandian Batujaya, Karawang, Jawa Barat, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai sejarah sebagai bagian dari identitas bangsa. Ia menyampaikan pandangan bahwa situs kuno ini bukan hanya peninggalan purbakala, melainkan salah satu bukti kuat bahwa Indonesia telah memiliki peradaban yang berkembang dengan nilai-nilai tinggi sejak ribuan tahun silam.
Sejarah yang Menggambarkan Kehidupan Berdampingan
Rerie, yang juga anggota Komisi X DPR RI, menegaskan bahwa Batujaya menjadi saksi bisu peradaban manusia yang berkebhinekaan. “Batujaya bukan sekadar situs, dia adalah saksi bagaimana masyarakat hidup berdampingan pada masa lalu, berdampingan dalam keberagaman,” tuturnya dalam keterangan tertulis yang diterbitkan pada hari Sabtu (13/6/2026).
“Batujaya bukan sekadar situs, dia adalah saksi bagaimana masyarakat hidup berdampingan pada masa lalu, berdampingan dalam keberagaman,” ujar Rerie dalam keterangan tertulis, Sabtu (13/6/2026).
Situs ini, yang terletak di Karawang, Jawa Barat, dijelaskan oleh Rerie sebagai kompleks candi Buddha yang memiliki usia lebih tua dari Candi Borobudur. Menurutnya, candi-candi di Batujaya berasal dari abad ke-5, jauh lebih awal dibandingkan Borobudur yang dibangun pada abad ke-8. Pada masa yang sama, keberadaan kerajaan-kerajaan Hindu juga mulai tercatat, namun kedua agama tersebut bisa hidup harmonis.
“Di sinilah sebetulnya ada sebuah pembelajaran bahwa nilai toleransi itu sudah hidup dan berakar sejak berabad-abad lalu di Nusantara,” ungkap Rerie.
Menurut Rerie, keberagaman agama di Batujaya menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia dulu mampu membangun kehidupan yang damai. “Nilai toleransi ini tidak tercipta secara tiba-tiba, melainkan diwariskan melalui sejarah peradaban yang berakar dalam budaya bangsa,” tambahnya.
Empat Pilar Kebangsaan: Warisan yang Terus Berlangsung
Selain membahas sejarah, Rerie juga menyampaikan bahwa empat pilar kebangsaan—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—tidak hanya berdiri sebagai konsep abstrak. Menurutnya, keempat pilar tersebut merupakan hasil dari proses perjalanan panjang bangsa Indonesia.
“Empat Pilar Kebangsaan itu hadir dari perjalanan panjang bangsa ini. Berbagai pikiran besar bertemu, yang kemudian membentuk kita menjadi satu bangsa. Peninggalan bersejarah di Batujaya adalah bagian penting dari perjalanan sejarah itu,” tegasnya.
Rerie menegaskan bahwa keberadaan Situs Batujaya bukan hanya menggambarkan masa lalu, tetapi juga menjadi fondasi bagi pembentukan identitas nasional. “Peninggalan ini menjadi bukti bahwa peradaban bangsa Indonesia telah menghasilkan nilai-nilai luhur yang tetap relevan hingga kini,” imbuhnya.
Pesan untuk Generasi Muda: Menjadi Penjaga Budaya
Selama acara, Rerie juga memberikan pesan penting kepada para calon arkeolog yang sedang melakukan ekskavasi di Batujaya. Ia mengingatkan bahwa pemahaman terhadap warisan budaya adalah kunci untuk menjaga arah bangsa di tengah dinamika era digital.
“Tanpa pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah, bangsa Indonesia akan kehilangan arah. Tanpa budaya yang kuat, bangsa akan mudah tercerabut dari akarnya,” tambahnya.
Dalam era digital saat ini, Rerie mengakui adanya tantangan besar berupa pseudo-arkeologi. Fenomena ini terjadi karena munculnya cerita-cerita yang dibuat secara sembarangan, yang bisa mengaburkan fakta sejarah. “Tugas kita semua adalah menunjukkan dan memahami bahwa warisan budaya yang ada, seperti peninggalan di Batujaya, adalah bagian dari sejarah peradaban bangsa ini,” ujar Rerie.
Kolaborasi dalam Melestarikan Warisan Budaya
Rerie menekankan perlunya kerja sama dari berbagai pihak untuk menjawab tantangan sejarah yang muncul di masa kini. Ia mencontohkan bahwa Situs Batujaya tidak hanya menjadi bagian dari peninggalan arkeologi, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur yang mampu membangun karakter generasi penerus.
“Tugas kita semua adalah menunjukkan dan memahami bahwa warisan budaya yang ada, seperti peninggalan bersejarah di Situs Batujaya adalah bagian dalam sejarah peradaban bangsa ini dengan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, penting untuk membangun karakter generasi penerus bangsa,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Rerie menyampaikan apresiasi khusus kepada mahasiswa arkeologi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) yang terlibat langsung dalam eksplorasi situs Batujaya. Menurutnya, upaya mereka adalah bentuk kerja kebangsaan yang menelusuri masa lalu.
“Apa yang dilakukan anak-anak semua adalah sebuah kerja kebangsaan. Sebuah pekerjaan yang menggali kembali masa lalu, bukan hanya sebagai barang yang kemudian ditampakkan, tapi banyak nilai yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Acara yang berlangsung di kawasan Batujaya, Karawang, Jawa Barat, pada Jumat (12/6) sore, juga menjadi ajang perkenalan antara para peneliti dan masyarakat lokal. Kehadiran sejumlah tokoh, seperti Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa, Wakil Bupati Karawang H. Maslani, serta rekan-rekan akademisi, menegaskan pentingnya kerja sama dalam melestarikan kekayaan budaya.
Peran Mahasiswa dalam Penelusuran Sejarah
Sebanyak 90 mahasiswa Program Studi Arkeologi FIB UI turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. M
