Key Discussion: Ribut-ribut Ukraina dan Israel Gegara Pengiriman Gandum, Ada Apa?

Ribut-ribut Ukraina dan Israel Gegara Pengiriman Gandum, Ada Apa?

Perdebatan Terkait Ekspor Gandum Rusia yang Diduga Ilegal

Key Discussion – Dilansir dari AFP pada Selasa, 28 April 2026, Ukraina, sebagai salah satu produsen gandum terbesar dunia, kembali menyoroti dugaan ekspor produk pertanian secara tidak sah oleh Rusia dari wilayah yang telah direbut sejak invasi pada Februari 2022. Klaim ini menjadi fokus perdebatan antara dua negara, dengan Ukraina mempertanyakan keabsahan tindakan Rusia dalam memasarkan bahan makanan yang seharusnya menjadi milik negara mereka.

Menurut pernyataan yang dibagikan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melalui media sosial, sejumlah kapal yang membawa gandum telah tiba di pelabuhan Israel dan sedang bersiap untuk melakukan pengangkutan. Ia menegaskan bahwa pihak berwenang Israel tidak mungkin tidak mengetahui identitas kapal dan muatan yang mereka bawa. Zelensky menekankan bahwa klaim ini menunjukkan ketidakmampuan pihak Israel untuk mengawasi alur perdagangan gandum yang diduga menyimpang dari aturan yang berlaku.

“Kapal lain yang membawa gandum tersebut telah tiba di pelabuhan di Israel dan sedang bersiap untuk membongkar muatannya,” tulis Zelensky dalam postingan di media sosial. Ia menambahkan bahwa Israel tidak dapat mengabaikan fakta bahwa mereka menerima bahan makanan dari wilayah yang direbut oleh Rusia, yang berarti adanya pelanggaran terhadap perjanjian atau kebijakan internasional yang diikuti.

Sebagai tanggapan, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menegaskan bahwa Kyiv belum memberikan bukti kuat untuk mendukung tuduhan tersebut. Ia menyatakan bahwa pemerintah Ukraina belum mengajukan permintaan bantuan hukum dan juga belum menunjukkan dokumen yang dapat memperkuat klaim mereka. Saar menekankan bahwa kapal yang disebutkan belum memasuki pelabuhan dan belum menyerahkan dokumennya untuk diverifikasi.

“Kapal tersebut belum memasuki pelabuhan dan belum menyerahkan dokumennya,” sambung Saar. Ia juga menyoroti bahwa tidak mungkin memverifikasi kebenaran klaim Ukraina mengenai pemalsuan surat muatan, karena dokumen yang disebutkan masih dalam proses pemeriksaan.

Dalam konferensi pers, Saar menuduh Ukraina melakukan “diplomasi Twitter” sebagai upaya memperkuat narasi mereka tanpa dasar yang memadai. Ia menantang Kyiv untuk menyerahkan bukti pencurian gandum melalui saluran resmi, bukan hanya melalui media sosial. Menurutnya, langkah-langkah ini bisa dianggap sebagai strategi untuk memperoleh dukungan internasional tanpa mempertimbangkan kebenaran klaim yang diajukan.

Ukraina menyatakan bahwa Rusia mencuri lebih dari dua juta ton gandum dari wilayah pendudukan pada tahun 2025. Bahan makanan ini, menurut Kyiv, telah dikirim ke berbagai daerah seperti Afrika, Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Klaim ini diperkuat oleh fakta bahwa Rusia telah menguasai pelabuhan utama di Laut Hitam, yang menjadi akses kritis untuk ekspor gandum. Sebagai negara yang bergantung pada perdagangan luar negeri, Ukraina berargumen bahwa ekspor ilegal ini mengganggu pasokan pangan global dan mengurangi keuntungan ekonomi mereka.

Sebagai respons, pemerintah Israel memanggil Duta Besar Ukraina untuk mengadakan pertemuan dan menyampaikan protes atas dugaan pengiriman gandum tersebut. Menurut sumber diplomatik, ada ketidaksepahaman antara kedua negara mengenai kebijakan pengawasan dan verifikasi yang diterapkan. Sementara Ukraina berusaha memperkuat klaimnya dengan data yang diperoleh, Israel menuntut transparansi yang lebih jelas.

Kapal-kapal yang disebutkan dalam klaim Ukraina, sebagian besar beroperasi di bawah aturan Black Sea Grain Initiative, sebuah perjanjian yang ditandatangani dalam 2022 untuk memastikan kelancaran ekspor gandum dari Ukraina. Rusia mengklaim bahwa mereka memperoleh keuntungan dari perjanjian ini karena menguasai pelabuhan ekspor utama, yang memungkinkan mereka mengekspor bahan makanan secara bebas. Namun, Ukraina berpendapat bahwa Rusia telah menyalahgunakan mekanisme ini untuk memasarkan gandum yang seharusnya dikelola oleh negara mereka.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengungkapkan bahwa perselisihan antara Ukraina dan Israel adalah masalah yang harus diselesaikan secara bilateral. Ia menegaskan bahwa tindakan Rusia tidak perlu dikritik oleh pihak ketiga, karena semua keputusan mereka berdasarkan kebijakan sendiri. Peskov juga menyatakan bahwa pihak Kremlin tidak terlibat dalam penyelesaian konflik antara dua negara tersebut, dan lebih memilih untuk tidak berkomentar atau terlibat dalam masalah ini.

Perdebatan ini menunjukkan ketegangan yang muncul antara Ukraina dan Israel dalam upaya memastikan keadilan dalam perdagangan internasional. Sementara Ukraina berusaha membangun kesadaran internasional terhadap tindakan Rusia, Israel menantang mereka untuk menunjukkan bukti yang lebih konkret. Dalam konteks geopolitik yang kompleks, perselisihan ini menjadi salah satu contoh bagaimana kepentingan ekonomi dan politik bisa memicu konflik yang berkelanjutan.