Main Agenda: Mendikti Boyong Profesor Imperial College London Bertemu Prabowo, Bahas Apa?
Table of Contents
Mendikti Ajak Profesor Imperial College London Bertemu Prabowo, Diskusi Kerja Sama Pendidikan
Pertemuan Diadakan di Istana, Fokus pada Kolaborasi dengan Institusi Inggris
Main Agenda – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto telah mengajak sejumlah akademisi dari Imperial College London ke Jakarta, dengan tujuan untuk bertemu dengan Presiden RI Prabowo Subianto. Acara tersebut berlangsung di Istana Negara pada Senin (22/6/2026), di mana Brian tiba lebih dulu pukul 13.36 WIB. Rombongan para profesor dari universitas ternama di Inggris tersebut tiba sekitar lima belas menit kemudian, tepatnya pukul 13.48 WIB.
Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Imperial College London. Meski Brian belum merinci topik yang akan dibahas, ia menegaskan bahwa diskusi ini terkait erat dengan upaya memperkuat hubungan akademis antara kedua negara. “Kita ingin membangun kolaborasi bersama dengan universitas terbaik di Inggris, termasuk Imperial College London,” ujarnya.
Dalam rangkaian kegiatan sebelumnya, Prabowo telah menyatakan komitmen untuk menarik kampus-kampus universitas ternama dari Inggris ke Indonesia. Hal ini diungkapkan dalam forum UK-Indonesia Education di London, Inggris, pada Selasa (20/1/2026), di mana ia bersama Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, membahas rencana kerja sama dalam bidang maritim dan pendidikan. Kedua sektor ini dianggap sangat strategis bagi pembangunan ekonomi dan kemanusiaan di Indonesia.
Kerja Sama Pendidikan dengan Universitas Kampus Terbaik Inggris
Pertemuan dengan para profesor Imperial College London bukanlah pertama kalinya Prabowo menunjukkan minat pada kemitraan pendidikan internasional. Sejak awal masa jabatannya, ia telah memperkenalkan inisiatif untuk menarik universitas-universitas unggul Inggris, terutama yang termasuk dalam Russell Group, untuk berinvestasi di Indonesia.
“Kita ingin menarik universitas-top untuk bermitra dengan Indonesia. Mereka sudah memiliki kampus di beberapa wilayah, termasuk Singosari dan Bandung, yang fokus pada bidang digital dan teknologi,” kata Prabowo dalam forum tersebut.
Komitmen Prabowo untuk mendorong pertukaran ilmu pengetahuan dan pengembangan sumber daya manusia terlihat jelas dalam pembicaraannya. Ia menekankan bahwa universitas-universitas tersebut tidak hanya memiliki reputasi internasional, tetapi juga telah menunjukkan keberhasilan dalam membangun hubungan dengan perguruan tinggi lokal seperti Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain itu, ia menyebutkan bahwa kampus-kampus Inggris tersebut bisa memberikan kontribusi signifikan dalam memenuhi kebutuhan sektor strategis Indonesia.
Kepresidenan Prabowo tampaknya ingin menjadikan pendidikan sebagai salah satu pilar utama dalam diplomasi ekonomi dan kemanusiaan. Dalam pertemuan dengan para profesor, ia mungkin akan membahas detail kerja sama seperti pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, atau pengembangan program studi baru. Selain itu, adanya kampus-kampus asing di Indonesia bisa membuka peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional dan menciptakan lingkungan akademis yang lebih dinamis.
Stella Christie Bertugas Koordinasi dengan 24 Universitas Teratas Inggris
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamenditisaintek) Stella Christie turut serta dalam menyiapkan kerja sama dengan 24 universitas terbaik di Inggris, termasuk Russell Group. Ia mengungkapkan bahwa Prabowo hanya ingin melibatkan institusi pendidikan paling unggul sebagai mitra strategis.
“Presiden ingin fokus pada universitas yang bisa memberikan nilai tambah besar. Jadi, kita tidak membawa kampus sembarangan, tetapi yang sudah terbukti mampu berkontribusi signifikan dalam bidang yang diminati Indonesia,” jelas Stella.
Stella menambahkan bahwa universitas Russell Group, seperti University of Birmingham, University of Bristol, University of Cambridge, Cardiff University, Durham University, dan University of Edinburgh, telah membangun kemitraan yang berkelanjutan. Mereka tidak hanya fokus pada pengajaran, tetapi juga dalam riset teknologi dan inovasi, yang sejalan dengan prioritas pemerintah Indonesia saat ini.
Peran Stella dalam menyusun kerja sama ini sangat krusial, karena ia bertugas memastikan seluruh proses perekrutan dan peneguhan kesepakatan dengan universitas luar negeri berjalan lancar. Dalam kesempatan terpisah, ia menyatakan bahwa pengajuan kerja sama dengan kampus-kampus besar Inggris dilakukan secara sistematis, dengan melibatkan pihak-pihak terkait di dalam negeri untuk memastikan kesesuaian tujuan dan manfaat.
Langkah Strategis untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Nasional
Kerja sama dengan Imperial College London dan universitas Russell Group dianggap sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Dengan adanya kampus-kampus internasional, pemerintah berharap dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih modern, serta menarik talenta internasional yang berkontribusi pada pengembangan sumber daya manusia.
Stella Christie menjelaskan bahwa salah satu tujuan dari kerja sama ini adalah untuk memperkuat kapasitas pendidikan Indonesia dalam bidang teknologi dan digital. “Russell Group University adalah representasi terbaik dari keunggulan pendidikan Inggris. Mereka memiliki reputasi global, sumber daya pendidik yang berkualitas, serta pengalaman dalam mengelola program akademis yang inovatif,” tambahnya.
Dalam konteks globalisasi, Stella menilai bahwa kolaborasi dengan universitas internasional tidak hanya memberikan nilai pendidikan, tetapi juga memperluas jaringan kemitraan yang bisa berdampak pada penelitian dan pengembangan inovasi. “Kita ingin memastikan bahwa kerja sama ini tidak hanya sekadar simbolis, tetapi bisa memberikan hasil konkret bagi masyarakat Indonesia,” katanya.
Pertemuan antara Brian Yuliarto dan para profesor Imperial College London bisa menjadi langkah awal dalam menegaskan komitmen pemerintah untuk membangun sistem pendidikan yang lebih berkualitas. Dengan melibatkan universitas-universitas global, Indonesia diharapkan bisa meningkatkan daya saing di bidang teknologi dan sains, serta menjadi pusat pendidikan yang diakui internasional. Proses ini akan memerlukan koordinasi yang terpadu antara kementerian, universitas, dan pihak swasta untuk memastikan keberlanjutan program kerja sama tersebut.
Sejumlah pihak mengapresiasi langkah Prabowo dalam mengajak universitas top Inggris untuk berinvestasi di Indonesia. Dengan adanya kampus-kampus internasional, mereka berharap bisa membuka peluang baru dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Ini bukan hanya tentang pendidikan, tetapi juga tentang membangun ekosistem inovasi yang lebih inklusif,” kata seorang pengamat pendidikan.
Selain itu, kerja sama dengan Imperial College London dan universitas lainnya bisa menjadi fondasi untuk menciptakan kemitraan bilateral yang berkelanjutan. Dalam bidang maritim, misalnya, para ahli dari universitas tersebut bisa memberikan kontribusi dalam penelitian dan penerapan teknologi modern untuk meningkatkan keberlanjutan sumber daya alam. Sementara dalam pendidikan, adanya program akademis yang dirancang bersama akan membantu mendorong kualitas pengajaran dan penelitian di Indonesia.
Dengan kehadiran para profesor dan akademisi Inggris di Jakarta, Prabowo menunjukkan bahwa pemerintah berupaya menegaskan komitmen untuk menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama. Proses ini diharapkan bisa menarik minat investasi besar, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta dunia pendidikan. “Kita ingin membangun hubungan yang saling menguntungkan, baik bagi pihak universitas maupun masyarakat Indonesia,” pungkas Stella Christie.
