Visit Agenda: Misteri Teror Api di Rumah Fia Usai 127 Kali Kebakaran

Misteri Teror Api di Rumah Fia Usai 127 Kali Kebakaran

Visit Agenda – Di tengah peristiwa yang memicu rasa takut di sekitar wilayah Sleman, sebuah rumah milik warga bernama Mutfiana, akrab disapa Fia, di Kasuran Mriyan X, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, telah mengalami 127 kejadian kebakaran sejak 23 Mei 2026. Kini, setelah mengalami serangkaian insiden api tersebut, kejadian aneh ini terlihat berangsur reda. Namun, misteri di balik fenomena ini masih terus menjadi perbincangan di kalangan warga setempat.

Kebakaran Berulang dan Upaya Evakuasi

Menurut sumber dari detikJogja, Minggu (21/6/2026), Fia menyatakan bahwa kejadian kebakaran telah tercatat hingga 127 kali dalam kurun waktu sekitar satu bulan. Pihak keluarga terpaksa melakukan evakuasi terhadap barang-barang yang rentan terbakar, sebagai langkah pencegahan. “Kami mengangkut barang-barang yang mudah terbakar ke tempat yang lebih aman, agar tidak menimbulkan risiko lebih besar,” jelas Fia. Setelah proses pindah ini selesai, teror api tampaknya berhenti, meski belum ada penjelasan pasti mengenai penyebabnya.

Sebagai langkah antisipasi, Fia sempat memasang kamera CCTV di dalam rumahnya. Namun, setelah beberapa waktu, kamera tersebut dilepas. “Kita memasang CCTV untuk memantau aktivitas, tapi setelahnya, seolah-olah semua kejadian kebakaran itu terjadi secara spontan,” ucap Fia. Dalam wawancara dengan wartawan, ia menjelaskan bahwa penggunaan CCTV membuat orang lebih percaya bahwa kebakaran terjadi tanpa penyebab jelas. “Kalau tidak ada CCTV, mungkin ada yang meragukan apakah ini kejadian alami atau sengaja,” tambahnya.

Analisis oleh BPBD Sleman dan Akademisi

Bambang Kuntoro, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, mengatakan bahwa kejadian kebakaran berulang ini telah menarik perhatian sejumlah akademisi. Para peneliti dari universitas dan lembaga riset telah melakukan kajian mendalam untuk mengungkap akar masalah. “Fia datang ke kantor BPBD untuk mengecek hasil riset dari tim yang meneliti fenomena api di Seyegan,” kata Bambang. Tim ini terdiri dari para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pembuka Negeri (UPN) Jogja, serta Balai Besar Pemantapan Teknologi Kebencanaan (BBPTKG).

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tidak ada bukti kuat mengenai unsur fenomena alam yang menjadi penyebab kebakaran. Namun, tim masih memerlukan waktu untuk memvalidasi semua data. “Kami sedang mengumpulkan fakta-fakta lebih lanjut, agar bisa menentukan apakah kejadian ini berasal dari faktor alami atau tidak,” tambah Bambang. Meski demikian, Fia tetap bersikeras bahwa kebakaran bukanlah hasil tindakan sengaja.

Pencarian Motif dalam Peristiwa Kebakaran

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polresta Sleman, AKP Mateus Wiwit Kustiyadi, menuturkan bahwa pihaknya sedang menelusuri apakah ada motif kesengajaan dalam serangkaian kebakaran tersebut. “Kami sedang menyelidiki apakah ada faktor manusia yang terlibat dalam insiden ini,” jelas Wiwit. Ia menekankan bahwa investigasi masih terus berlangsung, dan hasilnya akan diungkapkan setelah semua bukti dikumpulkan.

Fia juga menyebutkan bahwa barang-barang yang terbakar adalah hasil usaha keras keluarga. “Kami menabung buat beli kasur, buat beli pakaian, sampai buat beli alat rumah tangga. Kok bisa tega banget, sampai sengaja dibakar?” tanya Fia. Ia merasa bahwa kejadian tersebut tidak hanya merugikan materi, tetapi juga menyebabkan tekanan psikologis terhadap anggota keluarganya. “Semua barang itu punya nilai, tidak mudah diperoleh, tapi justru bisa terbakar sendiri,” keluhnya.

Keterlibatan Tim Khusus dan Proses Pengelolaan

Dalam rangka mengungkap misteri ini, tim peneliti dari berbagai institusi akademik diturunkan untuk melakukan observasi. “Tim ini beranggotakan para ahli dari berbagai disiplin ilmu, seperti sosiologi, geofisika, dan teknologi informasi,” ujar Bambang. Proses kajian melibatkan analisis terhadap pola kejadian, data dari CCTV, serta laporan warga sekitar. Hasilnya, tim menemukan bahwa tidak ada indikasi kebakaran yang disebabkan oleh faktor alam, meski belum bisa menyimpulkan secara pasti.

Fia juga memperlihatkan barang-barang yang telah dipindahkan dari lantai pertama ke lantai dua rumahnya. “Ini adalah langkah pencegahan yang kami lakukan setelah mengetahui bahwa kebakaran bisa terjadi kapan saja,” kata Fia. Ia berharap dengan pindahnya barang-barang ke lantai atas, risiko kebakaran bisa diminimalkan. Meski demikian, ia tetap waspada, karena tidak ingin mengulangi pengalaman yang menyakitkan.

Respons dari Pihak Terkait dan Langkah Selanjutnya

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Sleman mengatakan bahwa pihaknya akan melanjutkan investigasi. “Kami akan mencari bukti apakah ada unsur kesengajaan, seperti penggunaan api yang tidak terkendali atau tindakan pembakaran,” kata Wiwit. Ia menjelaskan bahwa proses penyelidikan memerlukan waktu, karena perlu memverifikasi setiap detail dan membandingkan dengan data dari BPBD Sleman.

Para akademisi yang terlibat juga menegaskan bahwa investigasi akan terus dilakukan. “Kami sedang mengumpulkan data dari berbagai sumber, termasuk warga sekitar dan lembaga teknis,” kata salah satu peneliti. Ia menambahkan bahwa hasil riset akan digunakan untuk memberikan rekomendasi kepada pihak keluarga Fia, terutama dalam hal pencegahan kebakaran di masa depan. “Dengan pendekatan ilmiah, kami bisa memastikan apakah kejadian ini benar-benar bisa dikategorikan sebagai fenomena alam atau tidak,” terangnya.

Meski misteri kebakaran di rumah Fia belum terpecahkan, langkah-langkah preventif telah diambil. Fia dan keluarga berharap dengan pengalaman ini, rumah mereka bisa menjadi contoh untuk warga lainnya yang mengalami peristiwa serupa. “Kami ingin agar kejadian seperti ini tidak terulang di rumah lain,” ujar Fia. Ia juga berharap pihak berwenang bisa memberikan penjelasan yang