Visit Agenda: Kisah Pedagang Daging di Pasar Senggol Rawa Belong Bertahan Hadapi Zaman

Kisah Pedagang Daging di Pasar Senggol Rawa Belong Bertahan Hadapi Zaman

Adaptasi di Tengah Perubahan Teknologi

Visit Agenda – Perkembangan teknologi yang semakin pesat, termasuk di bidang keuangan, telah mengubah cara berbagai lapisan masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari. Perubahan ini juga memengaruhi pedagang di pasar tradisional, termasuk ‘pasar senggol’ Rawa Belong yang terletak di Jl Ayub Gg Yahya, Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Arif, seorang pedagang daging sapi, telah menjalankan usahanya di lokasi tersebut selama lebih dari tiga dekade. Meski terus-menerus berhadapan dengan tantangan zaman, ia tetap berusaha mempertahankan keberlanjutan bisnisnya.

Arif bercerita bahwa pagi hari di pasar senggol berubah menjadi momen sibuk untuk memulai hari. Tempat usahanya tak hanya menjadi titik aktivitasnya, tetapi juga menjadi pusat pertemuan pedagang dan pembeli lain. Namun, ia punya peran khusus sebagai salah satu pengusaha yang menjual daging sapi. Sejak tahun 1994, ketika masih belia, Arif telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di sana. Dalam beberapa tahun terakhir, ia terus beradaptasi dengan perubahan, termasuk metode pembayaran yang semakin modern.

“Iya dari awal di sini jualan,” ujar Arif saat diwawancara pada Minggu (21/6) sekitar pukul 10.20 WIB.

Kehadiran teknologi telah mendorong Arif untuk merevisi sistem operasionalnya. Salah satu langkah utama yang ia ambil adalah mengadopsi QRIS BRI sebagai metode pembayaran. Sebelumnya, ia mengandalkan uang tunai, tetapi sejak beberapa bulan terakhir, ia mulai menerapkan sistem digital ini. Arif mengatakan bahwa alasan penggunaan QRIS melibatkan banyak pertimbangan, termasuk permintaan pelanggan yang semakin memprioritaskan transaksi tanpa kertas.

Perjalanan Usaha yang Terus Berubah

Arif bercerita bahwa menjual daging sapi bukanlah hal yang mudah. Dalam waktu tiga puluh tahun, ia menemukan strategi untuk menarik pembeli, termasuk memahami kebutuhan konsumen secara langsung. “Nyari pelanggan kan nggak mudah. Kita harus face to face atau memasarkannya dengan lugas. Kita mengikuti keinginan customer,” jelasnya. Meski produk utamanya adalah daging sapi, ia juga menerima pesanan daging kambing sesekali, sesuai dengan permintaan pasar.

Kehidupan di pasar senggol Rawa Belong terasa dinamis. Arif mengirimkan pesanan daging ke distributor yang menjadi sumber stok dagangannya. Dalam waktu sehari, ia seringkali menjual antara 15 hingga 20 kilogram daging sapi, tetapi di hari tertentu, seperti hari itu, penjualan hanya mencapai 3 kilogram. “Hari ini dagangan baru laku 3 kilogram, meski pagi hari sudah buka sejak pukul setengah enam,” kata Arif.

“Mulai buka setengah enam pagi. Tutup enggak pasti, tergantung rame enggaknya pasar. Ada jam 10.00, jam 11.00, jam setengah 12. Kadang kalau lagi ya nggak mood ya jam 09 aja udah tutup. Saat rata ini, dari awal 2026 minimal 15 kilo, maksimal 20 kilo,” tutur Arif.

Arif juga mengungkapkan kekhawatirannya terkait harga daging sapi yang terus berfluktuasi. Sejak awal 2026, ia merasa harga sangat tidak stabil, sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi para pedagang dan pembeli. “Stabil harga maksudnya, stabil harga. Pembeli bisa membeli, penjual bisa menjual dengan layak. Tapi kenapa dari awal 2026 sampai sekarang lagi berjalan tidak terkendali?” tanyanya, sambil menambahkan bahwa ia belum tahu penyebab pasti dari situasi ini.

Penyesuaian Terhadap Zaman

Adopsi QRIS menunjukkan langkah konkret Arif untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Sebelumnya, ia seringkali membawa uang tunai kecil dan besar dalam jumlah yang cukup banyak. Kini, ia memanfaatkan teknologi untuk mempermudah proses transaksi. “Kalo QRIS mah baru kali 3 bulan. Banyak pelanggan saya yang menawarkan, customer saya istilahnya ada yang bekerja di… sebagai teras BRI (Kapal Teras BRI Bahtera Seva), yang suka belanja sama saya,” jelasnya.

QRIS, menurut Arif, bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga cara untuk membangun hubungan dengan pelanggan. Ia menyadari bahwa sistem ini membantu dalam meminimalkan risiko kehabisan uang tunai atau lupa membawa uang saat berbelanja. “Itu mempermudah aja, ngikutin zaman aja gitu,” katanya. Tidak hanya Arif, beberapa pedagang lain di pasar senggol juga mulai menggunakan QRIS, seperti yang terlihat dari pengamatan detikcom di lokasi.

Perubahan Pola Belanja Masyarakat

Topik, seorang pembeli daging di toko Arif, memberikan perspektif tentang dampak QRIS pada perilaku konsumen. “Saya belakangan sering beli daging di abang ini. Dulu sih muter-muter aja ke pedagang yang lain, cuma akhirnya sreg sama yang ini,” ujarnya. Sebelum mengadopsi QRIS, Topik mengakui bahwa ia sempat membawa uang tunai dalam jumlah besar. Kini, ia lebih nyaman melakukan transaksi dengan sistem digital.

“Kemarin-kemarin nggak ada QRIS, sekarang di…”

Topik juga menyebutkan bahwa keberadaan QRIS membuat proses pembelian lebih efisien. Ia mengatakan bahwa sistem ini menjadi solusi ketika uang tunainya habis atau terlupa membawa uang. “Jadi, sekarang bisa beli kalau nggak bawa uang tunai, tinggal scan aja,” kata Topik. Perubahan ini terasa nyata, bahkan di pasar tradisional yang biasanya dianggap sebagai bagian dari kebiasaan lama.

Dari sisi pedagang, QRIS menjadi salah satu upaya untuk menjaga relevansi usaha mereka di tengah persaingan yang semakin ketat. Arif mengakui bahwa memasukkan QRIS ke dalam rutinitasnya butuh waktu adaptasi. Sebagai contoh, saat membayar ke vendor, ia harus mencairkan dana terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan transaksi. “Kalau penjualan saya kan daging, sapi, ngambil barang dagangan, pagi, sore harus disetorkan. Habis nggak habis dag