⁠⁠Iran Kompori Houthi Tutup Laut Merah Jika AS Berulah

Houthi Siap Tutup Selat Bab el-Mandeb Atas Perintah Teheran

Iran Kompori Houthi Tutup Laut Merah – Kelompok pemberontak Houthi di Yaman telah menyelesaikan persiapan untuk menutup jalur pelayaran strategis di Selat Bab el-Mandeb. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap permintaan dari Iran, yang menginginkan sekutunya tersebut bersiap-siap jika Amerika Serikat mengambil tindakan agresif. Menurut informasi yang dihimpun, keputusan akhir mengenai penutupan selat tersebut akan dikendalikan oleh perwakilan Korps Garda Revolusi Islam Iran yang saat ini berada di Yaman.

Sumber yang dekat dengan Houthi mengungkapkan kepada Reuters bahwa kelompok tersebut telah menempatkan rudal dan drone di sekitar Selat Bab el-Mandeb. Lokasi ini merupakan gerbang utama menuju Laut Merah. Hingga saat ini, Houthi dilaporkan masih menunggu perintah resmi untuk memulai serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi perairan tersebut.

Iran Mengancam Eskalasi Jika AS Menyerang

Teheran telah menyampaikan pesan penting kepada Houthi melalui jalur diplomatik. Pesan tersebut berisi instruksi agar jalur laut ditutup jika Amerika Serikat menyerang infrastruktur energi Iran. Fokus utama ancaman AS adalah pembangkit listrik yang menjadi tulang punggung pasokan energi nasional Iran. Jika hal ini terjadi, dikhawatirkan akan muncul ancaman baru yang signifikan terhadap stabilitas pasokan energi global.

Tiga sumber yang berbicara kepada Reuters pada Kamis (16/7) waktu setempat mengonfirmasi bahwa gagasan ini telah dibahas secara intensif di kalangan pemimpin Iran. Dua sumber berasal dari pejabat senior Iran, sementara satu sumber lainnya adalah figur regional yang memahami dinamika persoalan ini. Informasi ini disampaikan pada Jumat (17/7/2026) oleh Reuters.

Belum jelas bagaimana mekanisme pengiriman pesan tersebut kepada Houthi. Namun, ada indikasi bahwa komunikasi ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump pada Selasa (14/7) menyampaikan ancaman untuk menyerang infrastruktur energi Iran. Kementerian Luar Negeri Iran dan juru bicara Houthi hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terhadap perkembangan terbaru ini.

Dua Jalur Ekspor Minyak Terancam

Posisi geopolitik yang saat ini terjadi menciptakan situasi yang sangat rentan. Dengan Selat Hormuz yang telah ditutup aksesnya oleh Iran, setiap serangan Houthi terhadap kapal atau pelabuhan di Laut Merah akan berdampak ganda. Dua jalur ekspor minyak utama Timur Tengah akan terganggu secara bersamaan. Hal ini berpotensi membuka front baru dalam krisis energi yang lebih luas, sekaligus memperburuk konflik antara Iran dan Amerika Serikat.

Ancaman terhadap Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb tidak hanya berdampak pada pelayaran internasional. Krisis energi global yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran semakin diperburuk oleh potensi eskalasi dari babak baru konflik ini. Risiko yang muncul bersifat ekslosif dan dapat menyebar ke berbagai negara yang bergantung pada pasokan minyak dari kawasan tersebut.

Houthi Ancam Fasilitas Minyak Arab Saudi

Ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi terus memanas dalam beberapa hari terakhir. Kelompok pemberontak yang didukung Teheran ini secara terbuka mengancam akan menyerang fasilitas minyak dan infrastruktur vital lainnya di Arab Saudi. Ancaman ini dilontarkan beberapa hari setelah bandara di ibu kota Yaman, Sanaa, yang dikuasai Houthi, menjadi target serangan udara.

“Semua fasilitas minyak dan instalasi vital Saudi adalah target rudal dan drone kami jika mereka terlibat dalam agresi skala penuh terhadap negara kami dan bergerak menuju eskalasi,” kata pemimpin kelompok tersebut, Abdul Malik al-Houthi, dilansir kantor berita AFP, Jumat (17/7).

Sebelumnya pada hari Senin lalu, Houthi menuduh Arab Saudi menggempur bandara Sanaa. Sebagai bentuk pembalasan, kelompok tersebut melancarkan serangan rudal yang menargetkan bandara di Arab Saudi. Saling serang ini merupakan eskalasi paling signifikan antara kedua pihak sejak gencatan senjata tahun 2022.

Dalam pesan yang disiarkan televisi, al-Houthi juga mengancam bandara Riyadh sebagai tanggapan atas serangan lebih lanjut terhadap bandara Sanaa. Strategi yang diterapkan adalah prinsip timbal balik yang jelas.

“Persamaannya adalah bandara untuk bandara, pelabuhan untuk pelabuhan, dan blokade untuk blokade,” kata al-Houthi.

Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi menyatakan bahwa serangan hari Senin tersebut dilancarkan untuk mencegah pesawat Iran mendarat di Sanaa. Pernyataan ini memberikan konteks tambahan mengenai alasan di balik eskalasi konflik saat ini.

Korban Tewas dalam Serangan AS ke Iran

Pertempuran antara Iran dan AS hingga saat ini masih berlangsung dengan intensitas tinggi. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan angka korban yang cukup signifikan sejak konflik kembali terjadi pada 22 Juni lalu. Data resmi menunjukkan bahwa setidaknya 38 orang telah tewas dan lebih dari 400 orang mengalami luka-luka di negara itu.

“Jumlah korban luka akibat serangan AS telah melebihi 400, dan 38 warga negara telah gugur sejak 22 Juni,” kata juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour dalam unggahan di media sosial X, seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (17/7).

Detail lebih lanjut mengenai korban menunjukkan bahwa di antara mereka ada 22 wanita yang terluka, tiga wanita yang gugur, sembilan orang yang terluka di bawah usia 18 tahun, dan satu orang yang gugur di bawah usia tersebut. Angka-angka ini menggambarkan dampak nyata dari konflik yang sedang berlangsung antara kedua negara superpower tersebut. Situasi saat ini menunjukkan bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada stabilitas regional, tetapi juga memiliki implikasi global yang sangat besar terhadap ekonomi dan keamanan internasional.