Topics Covered: PDIP Vs PSI Lagi, Kali Ini Urusan ‘Kandang Gajah’ Dibalas Pansos

Perselisihan Antara PSI dan PDI Perjuangan Kembali Memanas

Topics Covered – Perdebatan antara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan PDI Perjuangan kembali memanas. Kali ini, konflik memuncak terkait kebijakan atau agenda politik yang menyangkut wilayah Jawa Tengah. Kedua partai saling menantang dengan klaim kemenangan dan proyeksi suara di kawasan strategis tersebut.

PSI Usulkan Jawa Tengah Jadi ‘Kandang Gajah’

Sebagaimana diketahui, Jawa Tengah sebelumnya dijuluki ‘kandang banteng’ karena menjadi basis suara utama Partai PDI Perjuangan. Namun, PSI, yang memiliki lambang gajah, kini ingin menggeser sebutan tersebut. Ketua DPW PSI Jawa Tengah, Antonius Yogo, menyatakan bahwa partainya ingin memastikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa wilayah tersebut seharusnya disebut ‘kandang gajah’.

“Kami segera menunggu jadwal dari Bapak untuk tanggalnya. Yang jelas, tugas kami hari ini mempersiapkan untuk Bapak turun, untuk Bapak keliling Jawa Tengah, memastikan bahwa Jawa Tengah benar-benar sebagai ‘kandang gajah’,” kata Yogo, seperti dilansir detikJateng pada Sabtu (4/7/2026).

Yogo menjelaskan bahwa rencana safari politik Jokowi ke Jawa Tengah akan segera dijalankan. Ia mengusulkan untuk mengunjungi hampir seluruh kabupaten/kota di provinsi itu, meski keputusan akhir tetap berada di tangan Jokowi. “Kami akan kontak dengan tim, mudah-mudahan pertengahan bulan Juli ini sudah bisa berjalan. Kami mengajukannya hampir 35 kabupaten/kota ya, tentu ini akan dipilih Bapak mana yang kira-kira akan didatangi,” tambahnya.

Pernyataan Yogo disampaikan setelah pertemuan langsung dengan Jokowi. Ia menyebut tim PSI sedang mematangkan jadwal dan teknis safari tersebut. Menurut Yogo, agenda keliling Jawa Tengah pada Juli didasari progres pembentukan struktur partai yang hampir rampung. “Kami melaporkan capaian kinerja DPW struktur seluruh Jawa Tengah yang sudah hampir 95 persen. Struktur mesin partai yang kami janjikan kami siap, hari ini kami laporkan ke Bapak,” ujarnya.

PDIP Tantang PSI Soal Klaim Jawa Tengah

Dalam responsnya, PDIP menyatakan bahwa PSI tidak perlu bersikap terlalu percaya diri. Politikus PDIP, Guntur Romli, menilai klaim PSI tentang Jawa Tengah sebagai ‘kandang gajah’ adalah bentuk kesombongan. “PSI jangan terlalu sombong, Jokowi memaksakan keliling artinya PSI sangat lemah. Kalau PSI kuat, Jokowi pastinya cuma istirahat dan santai-santai saja,” ungkap Guntur kepada wartawan pada Minggu (5/7/2026).

“Safari politik itu juga pengalihan isu dari Sekjen PSI yang mengaku menerima duit dari Bupati Kuansing yang baru dikembalikan 10 hari kemudian,” tambah Guntur.

Guntur menyoroti pernyataan PSI yang memperkuat posisi mereka di Jawa Tengah. Ia mengatakan bahwa capaian PSI pada Pemilu 2024 belum menunjukkan kekuatan signifikan. “Itu bentuk kesombongan saja, bukan pernyataan yang perlu ditanggapi, apalagi dikhawatirkan. Kalau PSI itu parpol nomor dua di 2024, terus bilang mau rebut ‘kandang banteng’, itu lebih masuk akal,” jelasnya.

Menurut Guntur, kesuksesan PSI dalam membangun suara di Jawa Tengah masih perlu dibuktikan. “PSI 2024 aja gagal masuk parlemen, meski didukung penuh oleh Jokowi yang waktu itu masih presiden, dengan tagline PSI Partai Jokowi, pasang foto Jokowi di semua baliho. Jadi presiden saja Jokowi gagal meloloskan PSI, apalagi tidak jadi presiden,” tambahnya.

Deddy Sitorus: PSI Hanya Membuat Sensasi untuk Pansos Elektoral

Sementara itu, Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus menyoroti sikap PSI yang terus menerus membawa isu tentang Jokowi, meski ia tidak lagi menjadi kadernya. Deddy mengkritik PSI karena terkesan sibuk menyoraki PDIP, sementara seharusnya fokus pada isu rakyat.

“Perasaan nggak pernah kedengaran tuh suara PSI (kritisi isu rakyat), sibuk nyeret-nyeret PDI Perjuangan saja. Rakyat sudah bosan dengan gimmick PSI,” kata Deddy kepada wartawan pada Minggu (5/7/2026).

Deddy menilai PSI lebih sering mengeluarkan pernyataan yang bersifat sensasional. Ia memperkirakan bahwa semua tindakan PSI bertujuan untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu penting yang lebih mendesak. “Sudahlah rakyat juga tahu mereka cuma bikin sensasi buat pansos elektoral,” ujarnya.

Deddy menantikan kritik lebih tajam dari PSI terkait tuntutan mahasiswa, kasus suap Bupati Kuansing, serta isu lain yang berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat. “Ditunggu suaranya soal tuntutan mahasiswa, kasus suap Bupati Kuansing dan soal-soal lain yang terkait dengan rakyat,” imbuhnya.

Perdebatan Politik dan Simbol Partai

Perdebatan ini juga terkait dengan simbol partai. PSI, yang dipimpin Kaesang Pangarep, mengusung gajah sebagai lambangnya, sementara PDIP berbasis pada banteng. Kaesang sebelumnya menggagas partainya dengan klaim bahwa gajah mewakili kekuatan baru di ranah politik Indonesia. Namun, PDIP tetap menguasai Jawa Tengah, wilayah yang dikenal sebagai ‘kandang banteng’.

Kaesang memang menjadi pusat perhatian sejak mengambil alih kepemimpinan PSI. Dengan popularitasnya, partai ini mengusung citra muda dan inovatif. Namun, kekuatan suara di Jawa Tengah tetap dipegang PDIP, yang menjadi salah satu partai besar di Indonesia. Guntur Romli mengingatkan bahwa PSI harus menunjukkan kemampuan nyata untuk membangun kemenangan di wilayah tersebut, bukan hanya klaim simbolik.

Sejumlah anggota PDIP menyatakan bahwa Jawa Tengah adalah kawasan yang paling kuat memperkuat PDIP sejak era 2000-an. Wilayah ini menjadi pusat suara yang stabil, meski pengaruh partai lain seperti Golkar dan Gerindra terus berkembang. Guntur menekankan bahwa kesuksesan PSI tidak bisa diukur hanya dari klaim kandang gajah, tetapi dari kemampuan memenangkan pemilu dan pemerintahan.

PSI, di sisi lain, berpendapat bahwa kehadiran Jokowi di Jawa Tengah bisa memberi dorongan baru. Meski PDIP memiliki basis kuat, Yogo yakin bahwa partainya mampu menyaingi dan menunjukkan dominasi baru. “Kami siap memastikan bahwa Jawa Tengah adalah tempat yang seharusnya menjadi ‘kandang gajah’, bukan sekadar kandang banteng,” katanya.

K