Solving Problems: Viral Warga Protes Karantina Monyet di Tangerang Dangdutan Bising hingga Malam

Konflik Suara di Karantina Monyet Viral di Tangerang

Solving Problems – Kota Tangerang, Banten, baru-baru ini menjadi sorotan karena sebuah perselisihan antara warga dan pihak karantina monyet yang menggema di media sosial. Konflik ini berawal dari kebisingan musik dangdut yang terus berlanjut hingga tengah malam, mengganggu ketenangan warga sekitar. Pihak kepolisian pun turun tangan untuk menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan.

Musik Keras Jadi Pemicu Ketegangan

Kerusuhan terjadi di kawasan Benda, Kota Tangerang, pada hari Minggu (5/7) malam. Lokasi kejadian berada di sekitar Jalan Halim Perdana Kusuma, Kelurahan Jurumudi Baru, Kecamatan Benda. Warga mengeluh karena suara musik dangdut yang diputar dari tempat karantina monyet terus mengganggu, bahkan sampai jauh setelah pukul 22.00.

Momen ketegangan antara masyarakat dan pihak karantina tersebut viral di berbagai platform media sosial. Dalam video yang beredar, warga terlihat saling berdebat dengan pihak karantina, menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap suara bising yang tak kunjung reda. Keberatan ini berdampak pada suasana tenang di sekitar area karantina, mengakibatkan adanya interaksi yang memanas.

Pihak Kepolisian Datangi TKP

Setelah menerima laporan, Polsek Benda segera melakukan pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP). Kapolsek Benda, AKP Sriyono, menjelaskan bahwa anggota kepolisian, termasuk Kanit Reskrim Iptu Zaenal Arifin, turun langsung untuk mengklarifikasi peristiwa yang terjadi. “Kanit Reskrim Polsek Benda Iptu Zaenal Arifin beserta anggota melaksanakan pengecekan terkait laporan warga soal terjadinya keributan,” ujar AKP Sriyono saat dimintai keterangan, Senin (6/7/2026).

Dalam investigasi, kepolisian meminta keterangan dari saksi-saksi yang mengamati situasi atau memiliki pengetahuan tentang insiden tersebut. Kebisingan yang terjadi dianggap sebagai sumber konflik utama, dengan volume musik yang berlebihan menjadi faktor penyebab ketegangan. Pihak karantina monyet mengakui bahwa suara yang diproduksi tetap mengganggu, meski mereka menjelaskan alasan di balik kebisingan tersebut.

Penjelasan Pihak Karantina

Pihak karantina monyet menyampaikan bahwa kebisingan yang terjadi adalah akibat dari acara perayaan ulang tahun (ultah) yang sedang berlangsung. “Kebisingan di karantina monyet terjadi karena ada acara ultah, dan musik diputar dengan volume keras sebagai bagian dari hiburan,” kata pihak karantina setelah diberi kesempatan menjelaskan. Namun, warga menegaskan bahwa suara bising tetap terdengar hingga larut malam, sehingga mengganggu kehidupan mereka.

Menurut warga, adanya kebisingan yang tidak terkendali selama malam hari menciptakan ketidaknyamanan. Beberapa di antara mereka menyebut bahwa suara musik tidak hanya mengganggu ketenangan, tetapi juga memengaruhi aktivitas harian seperti tidur dan pekerjaan. “Kami sudah menegur mereka karena suara bising itu masih terus berlanjut, bahkan setelah waktu yang seharusnya diam,” kata salah satu warga yang enggan disebutkan nama.

Perselisihan Dipecahkan dengan Damai

Setelah melakukan investigasi di TKP, pihak kepolisian menemukan bahwa konflik antara warga dan karantina monyet telah diselesaikan secara kekeluargaan. “Permasalahan ini sudah selesai dengan damai, melalui musyawarah antara kedua belah pihak,” terang AKP Sriyono. Pihak karantina dan warga sepakat menyelesaikan sengketa tanpa adanya tuntutan lebih lanjut.

Kedua belah pihak, termasuk pemilik karantina monyet dan karyawannya, serta perwakilan warga yang melibatkan seorang RW, sepakat untuk saling memaafkan. “Semua pihak sudah memahami masalah yang terjadi, dan tidak ada lagi kesalahpahaman,” tambah AKP Sriyono. Langkah ini diharapkan bisa menjadi contoh untuk menyelesaikan konflik serupa di masa depan dengan cara yang lebih harmonis.

Latar Belakang Karantina Monyet di Tangerang

Karantina monyet di Kota Tangerang adalah bagian dari upaya pemerintah untuk mencegah penyebaran penyakit yang dapat menjangkut ke manusia. Area karantina ini juga menjadi tempat penampungan monyet yang terinfeksi, serta tempat pelatihan untuk mempersiapkan mereka sebelum dilepas ke habitat alaminya. Meski tujuannya baik, adanya kebisingan di malam hari menjadi salah satu isu yang memicu keluhan dari warga sekitar.

Beberapa warga mengungkapkan bahwa mereka sudah terbiasa dengan keberadaan karantina monyet, tetapi kebisingan yang terus-menerus mengganggu ketenangan. “Meski kami mengerti mereka sedang melakukan latihan, suara bising yang terus menerus hingga larut malam membuat kami kehilangan ketenangan,” kata salah satu warga yang tinggal di dekat area karantina. Keberadaan karantina ini sebelumnya juga sempat menimbulkan keluhan terkait kebersihan dan penyebaran sampah di sekitar lokasi.

Respon dari Pihak Karantina dan Warga

Setelah menjalani proses mediasi, pihak karantina monyet menyatakan bahwa mereka akan mengurangi volume musik di jam-jam tertentu, terutama setelah pukul 22.00. “Kami berkomitmen untuk menyesuaikan suara musik agar tidak mengganggu warga sekitar,” ujar perwakilan karantina. Sementara itu, warga mengapresiasi upaya ini, meski tetap meminta agar pengawasan lebih ketat dilakukan.

Kapolsek Benda menegaskan bahwa perselisihan ini tidak hanya diselesaikan secara langsung, tetapi juga menjadi pembelajaran untuk meningkatkan komunikasi antara pihak karantina dan warga. “Kami harap hal ini bisa menjadi contoh, bahwa masalah bisa diatasi melalui kesadaran dan kebersamaan,” tutur AKP Sriyono. Ia juga menyebutkan bahwa pihak kepolisian akan terus memantau situasi di sekitar area karantina untuk memastikan tidak ada konflik serupa terjadi.

Kesimpulan dan Harapan Masa Depan

Konflik antara warga dan karantina monyet di Tangerang akhirnya berakhir dengan saling memaafkan. Meski suara bising menjadi pemicu utama, keberhasilan penyelesaian ini menunjukkan bahwa komunikasi yang baik bisa menghindari ketegangan yang lebih besar. Pihak karantina berjanji untuk mengoptimalkan penggunaan suara musik, sementara warga menyambut baik langkah ini dengan harapan hubungan antara masyarakat dan pihak penampungan monyet bisa terus membaik.

Kapolsek Benda juga mengingatkan bahwa seluruh pihak harus lebih peka terhadap kebutuhan dan kenyamanan warga sekitar. “Kami mendukung upaya karantina monyet, tetapi harus ada keseimbangan antara aktivitas mereka dan keharmonisan dengan masyarakat,” pungkas AKP Sriyono. Dengan demikian, keberadaan karantina monyet bisa menjadi aset yang bermanfaat, selama tidak mengganggu keseharian warga sekitar.