Special Plan: 5 Fakta Sepekan Api di TPA Jatiwaringin Belum juga Mati
Table of Contents
Status Tanggap Darurat dan Upaya Pemadaman di TPA Jatiwaringin
Special Plan – TPA Jatiwaringin, yang terletak di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, telah mengalami kebakaran yang berlangsung selama tujuh hari. Tim pemadam gabungan terus berusaha dengan maksimal untuk mengendalikan api yang masih menyala. Pemkab Tangerang menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran sejak 1 Juli 2026, yang berlaku hingga 14 Juli mendatang. Status ini memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang melibatkan ratusan personel dari berbagai instansi, termasuk BPBD, Damkar, dan BNPB.
Peralatan Pemadaman dan Penambahan Helikopter
Koordinasi antara BNPB dan tim pemadam kebakaran telah menghasilkan penambahan alat bantu pemadaman. Hingga Senin (6/7/2026), total empat helikopter telah dikerahkan untuk operasi water bombing. Tiga unit helikopter sudah beroperasi, sementara satu unit lainnya akan ditempatkan setelah siap digunakan. Selain helikopter, puluhan mobil pemadam, ekskavator, dan alat injeksi air juga turut dikerahkan untuk mempercepat proses pemadaman.
“Rencananya memang akan dikerahkan, tambahan dua heli water bombing lagi selain dari yang sudah beroperasi,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, Komunikasi, dan Kebencanaan (Kapusdatinkom) BNPB, Abdul Muhari saat dihubungi detikcom.
Menurut Muhari, api yang menyala di TPA Jatiwaringin masih merembet dari dalam tumpukan sampah, sehingga diperlukan penanganan ekstra. Alat berat seperti backhoe digunakan untuk mengurai bara api dari dalam timbunan sampah. Meski ada kemajuan, luas area terbakar sekitar 15 hektare dari total 33 hektare masih menjadi tantangan utama.
Penundaan Operasi Hujan Buatan
Sebagai bagian dari strategi pemadaman, operasi modifikasi cuara (OMC) sempat dijadwalkan. Namun, kondisi awan hujan saat ini belum memungkinkan pelaksanaannya. “OMC tergantung pertumbuhan awan hujan. Sampai sekarang kita koordinasi dengan BMKG,” jelas Muhari.
“Seperti kita lihat saja, langit Jakarta belum ada awannya, masih sangat tipis, belum ideal untuk OMC,” tambahnya.
Kepala Dirjen Penegakkan Hukum (Gakkum) KLH, Rasio Ridho Sani, mengatakan bahwa satu pesawat OMC telah disiagakan. Namun, operasi tersebut akan dijalankan hanya ketika awan hujan mencapai kondisi yang optimal. Muhari menekankan bahwa proses ini membutuhkan kesiapan cuaca dan ketersediaan alat pendukung.
Kondisi Api dan Penanganan Darat-Udara
Hari ini, api di TPA Jatiwaringin masih menyala meski area terbakar terus berkurang. Pemadaman dilakukan secara simultan dari darat dan udara, dengan mobil Damkar dari Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, serta Banten terlibat aktif. “Api merembet dari dalam tumpukan sampah, ini sedang diurai juga pakai backhoe alat berat,” kata petugas call center BPBD.
Dalam upaya mengurangi risiko penyebaran api, tim pemadam juga memperhatikan faktor cuaca. Muhari menyebutkan bahwa kondisi lingkungan seperti angin dan kelembapan berpengaruh pada intensitas api. Dengan kombinasi peralatan modern dan metode tradisional, pihak berwenang berupaya memastikan api tidak meluas ke wilayah sekitar.
Pengungsian dan Kembalinya Warga
Seiring penanganan api, puluhan warga yang sempat mengungsi akibat kebakaran kini sudah kembali ke rumah mereka. Namun, sebelas orang masih bertahan di pengungsian. “Sebanyak 232 jiwa tadi malam mengungsi di Kantor Desa Tanjakan Mekar, tadi pagi sudah kembali ke rumah masing-masing. Sisa 15 orang,” kata Muhari.
Pengungsi yang masih bertahan di lokasi adalah karena rumah mereka berada di dekat area terbakar. Pemkab Tangerang dan BNPB memastikan distribusi logistik kebutuhan pokok untuk warga terdampak. Kebutuhan makanan, air, dan perlengkapan sehari-hari terus dipenuhi untuk memudahkan proses pemulihan.
Survei Kualitas Udara dan Waspada Paparan Asap
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melakukan pemantauan kualitas udara di sekitar TPA Jatiwaringin. Dua mobil pemantau kualitas udara dan tiga alat portabel digunakan untuk mengukur dampak polusi dari api. “Ya kami memantau (kualitas udara),” kata Ridho Sani.
Hasil survei menunjukkan penurunan partikel polutan ukuran 2,5 mikrometer pada hari kelima kebakaran. Namun, di beberapa titik kualitas udara masih tidak sehat. KLH mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati area terbakar, terutama anak-anak dan orang tua rentan, agar terhindar dari paparan asap yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan.
Pelanggaran Aturan dan Evaluasi Terus Berlangsung
Dalam waktu yang sama, pihak berwenang melakukan evaluasi terhadap penyebab kebakaran. Sementara itu, petugas juga memantau apakah ada pelanggaran aturan seperti pengelolaan sampah yang tidak sesuai protokol. Kebakaran di TPA Jatiwaringin yang terjadi sejak Selasa (30/6) memicu kekhawatiran terhadap sistem pengelolaan sampah di daerah tersebut.
Rasio Ridho Sani menambahkan bahwa meskipun terjadi penurunan polusi, pengawasan terus dilakukan untuk mencegah risiko penyebaran asap ke daerah lain. Pemantauan ini dilakukan secara berkala, dengan data dikumpulkan dan dianalisis untuk memastikan kesehatan masyarakat tetap terjaga.
Koordinasi Tim dan Harapan Pemulihan
Koordinasi antarinstansi menjadi kunci keberhasilan penanganan kebakaran di TPA Jatiwaringin. Tim pemadam gabungan terus bergerak cepat untuk mempercepat pemadaman. “Kita sedang berusaha menutupi semua titik api yang muncul,” kata petugas lapangan. Selain itu, masyarakat sekitar juga dilibatkan dalam upaya pencegahan, seperti memantau aktivitas api dan melaporkan titik-titik yang terbakar.
Harapan terus dibangun bahwa api akan padam dalam waktu dekat. Namun, Muhari mengingatkan bahwa proses ini memerlukan kesabaran. “Meski ada penurunan area terbakar, kebakaran di TPA Jatiwaringin masih menjadi prioritas utama,” ujarnya. Pihak berwenang juga memperkuat komunikasi dengan warga untuk memastikan informasi pemadaman dan penanggulangan diterima dengan baik.
Dengan kombinasi strategi darat, udara, dan penggunaan teknologi, TPA Jatiwaringin berharap bisa pulih dalam beberapa hari ke depan. Namun, masyarakat tetap diingatkan untuk tetap waspada terhadap kemungkinan pemadaman yang tidak sepenuhnya berhasil. Perjuangan mengendalikan kebakaran ini menjadi bukti kolaborasi antarinstansi dalam mengatasi bencana lingkungan.
