Main Agenda: Cerita Pilu Pekerja WNA Ikut Jadi Korban Tewas di Gorong-gorong

Main Agenda: Tiga Pekerja Tewas di Gorong-gorong Bambu Apus

Main Agenda – Kecelakaan tragis menimpa tiga pekerja di kawasan gorong-gorong Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur. Salah satu korban yang meninggal dunia merupakan warga negara asing (WNA) yang sempat berteriak meminta pertolongan sebelum akhirnya ikut menjadi korban. Peristiwa memilukan ini terjadi pada hari Kamis, tanggal 9 Juli 2026, namun baru terungkap secara detail pada Sabtu, 11 Juli 2026. Main Agenda melaporkan kronologi lengkap kejadian yang menyedihkan ini.

Petugas pemadam kebakaran atau damkar menerima permohonan evakuasi pada pukul 09.49 WIB. Proses evakuasi berlangsung selama lebih dari dua jam dan selesai sepenuhnya pada pukul 11.55 WIB. Abdul Wahid, Kasiops Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur, menyampaikan bahwa seluruh korban berhasil dikeluarkan dari dalam gorong-gorong dengan aman.

“Korban berhasil dikeluarkan dari dalam gorong-gorong dan petugas aman,” ujar Abdul Wahid.

Main Agenda: Peristiwa Beruntun yang Menyebabkan Tiga Korban

Menurut keterangan damkar, awalnya hanya satu pekerja yang tidak sadarkan diri setelah masuk ke dalam gorong-gorong. Rekan-rekannya yang ingin membantu kemudian ikut masuk, namun keduanya juga mengalami nasib serupa dan akhirnya meninggal dunia. Abdul Wahid menjelaskan kronologi kejadian secara detail.

“Pekerja proyek sedang masuk gorong-gorong, lalu setengah tangga pingsan. Dan temannya menolong untuk membantu, namun ikut pingsan juga. Lalu masuk 1 orang pingsan lagi. Jumlah korban 3 orang meninggal,” jelas Wahid.

Main Agenda: Identitas Korban: Satu WNA dan Dua Warga Lokal

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengonfirmasi bahwa salah satu pekerja yang tewas adalah warga negara asing. Ketiganya merupakan pekerja subkontraktor atau pihak ketiga yang sedang mengerjakan proyek di lokasi tersebut. Pramono menyampaikan bahwa ia telah menerima laporan resmi dari Direktur Utama PAM Jaya.

“Saya sudah mendapatkan laporan dari Dirut PAM Jaya. Memang betul ada tiga orang,” kata Pramono di kawasan Cawang, Jakarta Timur, Jumat (10/7/2026).

Pramono menambahkan bahwa dari tiga korban, satu merupakan WNA dan dua lainnya adalah warga negara Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa insiden ini terjadi saat subkontraktor sedang menjalankan pekerjaan, bukan di lingkungan operasional langsung PAM Jaya.

“Dari tiga orang itu satu WNA, jadi dua warga kita,” ungkapnya.

Main Agenda: Saksi Mata Mengungkap Kronologi Kejadian

Febri, seorang saksi mata berusia 31 tahun, menceritakan bahwa dua korban awalnya masuk ke dalam gorong-gorong secara bergantian untuk menolong rekan mereka yang lebih dulu masuk dan tidak sadarkan diri. Korban pertama masuk untuk melakukan pekerjaan, namun setelah beberapa saat tidak lagi merespons panggilan dari rekan-rekannya di atas permukaan.

“Kan satu orang masuk. Dipanggil tidak menyahut, jadinya temennya ikut masuk, masuk mau menolong,” kata Ferdi saat ditemui di lokasi, Sabtu (11/7).

Menurut Ferdi, WNA yang diduga merupakan mandor proyek kemudian memanggil rekannya dari atas gorong-gorong. Karena tidak mendapat jawaban, WNA tersebut tampak panik dan berteriak meminta bantuan kepada warga sekitar. Warga setempat sempat memperingatkan WNA agar tidak ikut turun ke dalam gorong-gorong, namun karena merasa bertanggung jawab terhadap anak buahnya, korban tetap nekat masuk.

“Dia berteriak-teriak di sini. Orang sini juga bingung karena bahasanya kan orang sini pada nggak tahu. ‘Itu kenapa? Itu kenapa?’ begitu,” ujarnya.

Main Agenda: Bau Gas Menyengat Terdeteksi Sebelum Insiden

Jauh sebelum insiden terjadi, Ferdi mengaku pernah membantu pekerja membuka penutup gorong-gorong. Setelah itu, gorong-gorong dibiarkan dalam keadaan terbuka selama beberapa jam. Ferdi menceritakan bahwa pekerja pertama kali masuk cukup pintar karena membuka lubang terlebih dahulu.

“(Tim pekerja) yang pertama mah pintar dia. Dibuka dulu, saya juga ikut membantu buka lubangnya di sana. Ada kali dibuka itu tiga jam. Saya tanya, ‘Memang kenapa kok nggak masuk?’ Dia bilang, ‘Belum, mandor juga belum datang. Gasnya biar keluar dulu, Mas’,” kata Ferdi.

Rasa penasaran membuat Ferdi ikut mendekat ke lubang gorong-gorong. Saat itu, ia mengaku mencium bau menyengat yang diduga berasal dari gas berbahaya di dalam gorong-gorong. Ferdi mengatakan pekerja yang datang saat pemeriksaan sebelumnya memahami adanya potensi gas berbahaya di dalam gorong-gorong. Karena itu, mereka memilih menunggu sebelum mulai bekerja.

“Saya tanya, ‘Memang bergas, Bang?’ Dia bilang, ‘Bergas.’ Saya juga sempat periksa, oh iya ya,