Historic Moment: DWP Kemensos Dampingi ‘Para Tersayang’ di Jombang Lewat Program ATENSI
Table of Contents
Historic Moment: DWP Kemensos di Jombang Lewat ATENSI
Historic Moment – Udara pagi di Balai Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, terasa hangat dengan aroma khas telur asin yang sedang diolah. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 4 Juli 2026, di mana ruang pemberdayaan desa dipenuhi aktivitas produktif. Tidak jauh dari sana, para penyandang disabilitas terlihat fokus menganyam tas dari serat alami. Sementara itu, kelompok lain sibuk mengolah serabut kelapa menjadi sapu yang siap dipasarkan. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa program sosial yang terintegrasi mampu mengubah kehidupan masyarakat.
Hasil karya tersebut melampaui fungsi sebagai kerajinan tangan semata. Mereka mewakili bukti konkret bahwa dengan dukungan tepat, keterbatasan fisik maupun psikososial dapat bertransformasi menjadi nilai ekonomi yang bermakna. Kehadiran Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Sosial RI, Fatma Saifullah Yusuf, memberikan sentuhan istimewa pada momen tersebut. Ia berkeliling mengunjungi setiap titik produksi, berdialog hangat dengan para penerima manfaat, serta memberikan penyemangat kepada keluarga pendamping. Historic Moment ini juga menandai langkah penting dalam pemberdayaan kelompok rentan di tingkat desa.
Poskeswa sebagai Ruang Inklusif
Fatma kemudian meninjau Pos Kesehatan Jiwa (Poskeswa) Mergo Waras yang dikelola oleh Puskesmas Dukuhklopo. Wadah ini bekerja sama dengan Poskeswa Mantap Jiwa di Kecamatan Sumobito untuk menciptakan lingkungan yang inklusif. Penyandang disabilitas psikososial mendapatkan layanan rehabilitasi sosial, terapi, pelatihan keterampilan, serta pendampingan usaha mandiri di lokasi tersebut. Program ini menunjukkan bahwa pendekatan holistik lebih efektif dibandingkan metode konvensional.
Yang menarik, stigma klinis yang selama ini melekat mulai bergeser. Mereka kini dikenal sebagai “para tersayang”, singkatan dari Terabaikan Kasih Sayang di Saat Jiwanya Goyang. Penamaan ini mencerminkan pendekatan humanis yang lebih menyentuh hati. Melalui Historic Moment ini, masyarakat Jombang semakin memahami bahwa disabilitas bukan halangan, melainkan bagian dari keberagaman yang perlu dihargai.
Bagi saya, sebutan itu mengingatkan kita semua bahwa setiap orang membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan penerimaan, terutama ketika sedang menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya.
Fatma menekankan bahwa istilah tersebut bukan sekadar label. Ia menjadi pengingat kolektif bahwa tidak ada lagi warga yang harus terabaikan akibat kondisi kesehatan jiwa atau disabilitas yang mereka miliki. Setiap individu merupakan bagian integral masyarakat yang berhak mendapatkan kesempatan setara untuk bekerja, belajar, berkarya, dan menjalani kehidupan dengan martabat. Program ATENSI menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai sektor untuk mencapai tujuan tersebut.
Integrasi Layanan ATENSI
Proses pemulihan yang terjadi di Poskeswa ini menunjukkan kemajuan signifikan dibandingkan pendekatan medis konvensional. Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) yang digagas Kementerian Sosial berhasil mengintegrasikan berbagai aspek kebutuhan. Mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, terapi, bantuan kewirausahaan, hingga pemberdayaan ekonomi, semuanya berjalan sinergis. Kolaborasi ini menciptakan ekosistem yang mendukung keberlanjutan program.
Dukungan nyata diberikan melalui kolaborasi DWP Kemensos bersama Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta. Total bantuan senilai Rp82.496.521 disalurkan kepada 22 penerima manfaat. Komposisi penerima meliputi 21 penyandang disabilitas dan satu kelompok rentan. Bantuan alat bantu aksesibilitas mencakup dua unit kursi roda standar, satu kursi roda adaptif khusus penyandang cerebral palsy, serta empat sepeda adaptif. Setiap alat bantu diberikan dengan pertimbangan kebutuhan spesifik masing-masing penerima.
Sementara itu, bantuan kewirausahaan diberikan kepada 15 penerima dengan modal yang disesuaikan potensi usaha masing-masing. Jenis usaha yang didukung sangat beragam, mulai dari tambal ban, warung makan dan kopi, produksi telur asin, kerajinan tas macrame, mebel dan jaranan, hingga penjualan pakaian. Diversifikasi usaha ini memastikan bahwa setiap penerima memiliki peluang untuk berkembang sesuai minat dan kemampuan mereka.
Jadikan ini pemantik semangat untuk terus melangkah menuju kemandirian dan peningkatan kualitas hidup.
Sebagai bagian dari rangkaian bakti sosial, layanan pemeriksaan kesehatan gratis juga tersedia. Sekitar 100 peserta, termasuk para kader Posyandu, memanfaatkan kesempatan ini untuk mengecek kondisi kesehatan mereka. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pihak penting, termasuk Penasihat dan Ketua DWP Kabupaten Jombang, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Kesehatan, jajaran Pemkab Jombang, serta perwakilan Kemensos. Historic Moment ini menjadi tonggak sejarah dalam pemberdayaan masyarakat Jombang melalui program ATENSI yang berkelanjutan.
Kolaborasi multipihak antara pemerintah pusat, daerah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat menjadi fondasi utama dalam membuka ruang bagi kelompok rentan untuk bangkit dan berdaya secara optimal. Dengan dukungan yang tepat, setiap individu dapat berkontribusi maksimal bagi kemajuan masyarakat. Program ini juga menjadi model yang dapat direplikasi di daerah lain untuk mencapai tujuan yang sama.
