Latest Program: Pramono Sebut Jakarta Peringkat 53 Kota Terbaik Dunia, Lewati Washington DC

Capaian Jakarta sebagai Kota Terbaik Dunia

Latest Program – Dalam wawancara terbarunya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa kota metropolitan ini kini menempati peringkat ke-53 dalam daftar kota terbaik di dunia. Hasil survei terbaru yang dirilis oleh lembaga internasional menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan sebelumnya, meski tetap ada ruang untuk terus berkembang. Angka ini menjadi bukti bahwa upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjadikan Jakarta sebagai kota global mulai menunjukkan hasil yang nyata.

Menurut Pramono, status Jakarta sebagai kota global telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024. Ini berarti bahwa pemerintah daerah perlu melakukan inovasi dan langkah strategis untuk menghadapi persaingan dengan kota-kota besar di seluruh dunia. “Jakarta adalah etalase atau role model. Dan inilah yang harus dijaga bersama-sama,” ujarnya. Ia menekankan bahwa sebagai pusat perekonomian nasional, kota ini perlu memiliki pendekatan yang berbeda dari kota-kota lain di Indonesia.

“Ketika saya dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta, pada waktu itu indeks kota globalnya nomor 74 dan alhamdulillah dalam 10 bulan naik menjadi 71. Dan dua sampai tiga minggu yang lalu dilakukan survei oleh lembaga internasional yang berpusat di Brussel untuk kota-kota ibu kota dunia. Dari 100 kota dunia, Jakarta berada di ranking 53,” katanya.

Pramono menjelaskan bahwa peningkatan ini mencerminkan upaya-upaya yang dilakukan selama masa kepemimpinannya. Tidak hanya dalam infrastruktur, tetapi juga dalam pengembangan ekonomi kreatif, digitalisasi, dan pelayanan publik. “Ini adalah bukti bahwa berbagai terobosan yang dilakukan sudah mulai menghasilkan dampak positif,” tambahnya. Ia menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan langkah-langkah ini agar Jakarta bisa tetap bersaing di tingkat global.

Perkembangan Peningkatan Peringkat Jakarta

Saat ini, Jakarta berada di atas kota-kota besar seperti Washington DC yang menduduki posisi ke-57 dan Abu Dhabi di peringkat ke-86. “Dan Jakarta lebih bagus dari Washington, D.C., yang penting itulah. Lebih bagus juga dari Abu Dhabi, dan sebagainya,” ujarnya dalam acara di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (4/7/2026). Tepuk tangan peserta acara menyambut pernyataan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap prestasi Jakarta.

Berkaitan dengan keberhasilan ini, Pramono menyoroti kontribusi Jakarta terhadap perekonomian nasional yang terus meningkat. Pada triwulan pertama 2026, pertumbuhan ekonomi Jakarta mencapai 5,59 persen, dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 16,67 persen. Angka ini menunjukkan peningkatan dari sebelumnya 16,16 persen, atau sekitar 0,5 persen. “Pertumbuhan ekonomi Jakarta relatif stabil, dan inflasinya jauh lebih rendah dibandingkan inflasi nasional,” lanjutnya.

Ia menegaskan bahwa kenaikan peringkat ini menjadi motivasi kuat untuk terus memperkuat daya saing kota sebagai bagian dari keseluruhan strategi pengembangan nasional. “Capaian ini adalah modal penting bagi Jakarta untuk memperkuat posisinya sebagai kota global sekaligus pusat perekonomian nasional menjelang usia lima abad pada tahun depan,” jelas Pramono. Ia yakin bahwa dengan konsistensi dan keterlibatan semua pihak, Jakarta bisa mencapai level yang lebih tinggi.

Dalam konteks internasional, Jakarta menghadapi tantangan yang tidak kalah besar. Meski posisinya sudah lebih baik dibandingkan kota-kota sebelumnya, Pramono menyadari bahwa ada beberapa aspek yang masih perlu ditingkatkan. Misalnya, kualitas layanan publik, keberlanjutan lingkungan, serta kecepatan dalam inovasi teknologi. “Peningkatan peringkat ini tidak hanya soal nomor, tetapi juga tentang perbaikan kualitas hidup warga Jakarta dan kemampuan kota ini dalam menghadapi dinamika global,” tambahnya.

Pramono juga menyoroti peran Jakarta sebagai etalase nasional. Ia mengatakan bahwa kota ini tidak hanya menjadi pusat perekonomian, tetapi juga simbol keberhasilan pembangunan di Indonesia. “Selama ini, Jakarta dikenal sebagai kota yang dinamis, tetapi sekarang harus menjadi contoh dalam pemerataan kemajuan dan keberlanjutan,” katanya. Hal ini memperkuat bahwa kota yang memiliki lebih dari 10 juta penduduk ini perlu mengambil langkah-langkah yang lebih terencana untuk memperkuat daya tarik dan kinerjanya.

Menurutnya, peningkatan peringkat ini sejalan dengan upaya pengembangan ekonomi kreatif yang menjadi prioritas Pemprov DKI Jakarta. “Program-program seperti pengembangan digital dan transformasi infrastruktur harus terus ditingkatkan agar Jakarta bisa menjadi lebih kompetitif,” paparnya. Ia menekankan bahwa program ini tidak hanya berdampak pada kesejahteraan warga, tetapi juga pada citra nasional dan internasional.

Di sisi lain, Pramono memperkenalkan bahwa Jakarta juga harus bersiap menghadapi tantangan di masa depan. “Kita harus terus berinovasi dan beradaptasi agar Jakarta tetap menjadi kota yang bisa diandalkan dalam segala aspek,” katanya. Peningkatan peringkat hanyalah awal dari perjalanan yang lebih panjang. Ia menyebutkan bahwa kota ini perlu terus meningkatkan kualitas hidup masyarakat, menangani masalah kemacetan, dan mengurangi dampak lingkungan sebagai bagian dari upaya menuju kota global.

Kontribusi Jakarta terhadap Perekonomian Nasional

Jakarta tidak hanya menjadi pusat perekonomian nasional, tetapi juga menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam triwulan pertama 2026, kontribusi kota ini terhadap PDB nasional mencapai 16,67 persen, yang lebih baik dari angka sebelumnya. “Ini adalah bukti bahwa Jakarta tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga secara ekonomi,” ujarnya. Peningkatan ini diperoleh melalui berbagai kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah daerah, termasuk peningkatan kualitas layanan publik dan dorong investasi di sektor yang strategis.

Dalam konteks ekonomi kreatif, Pramono mengatakan bahwa Jakarta mulai menjadi pusat industri kreatif nasional. “Kita perlu memaksimalkan potensi sektor ini agar Jakarta bisa bersaing dengan kota-kota besar dunia,” katanya. Ia menambahkan bahwa dukungan terhadap usaha kecil dan menengah, serta keterbukaan terhadap investasi asing, adalah kunci dalam memperkuat posisi ekonomi kota tersebut.

Selain itu, Pramono juga menyebut bahwa Jakarta memiliki potensi besar dalam pengembangan infrastruktur digital. “Dengan kemajuan teknologi, kita bisa meningkatkan efisiensi pelayanan publik dan mempercepat proses bisnis di kota ini,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa digitalisasi menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing Jakarta sebagai kota global.

Sebagai penutup, Pramono menyampaikan bahwa peningkatan peringkat Jakarta adalah hasil dari kerja keras bersama. “Tidak ada yang bisa tercapai tanpa kolaborasi dari berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha,” katanya. Ia berharap hasil ini bisa menjadi inspirasi untuk kota-kota lain di Indonesia. “Jakarta adalah bagian dari kebanggaan nasional, dan kita harus terus menjaga kualitasnya,” pungkasnya.

Dilihat dari laman World’s Best Cities 2026, Jakarta berada di peringkat ke-53 dalam daftar 100 kota terbaik di dunia. Daftar ini dirilis oleh perusahaan konsultan bernama Resonance Consultancy, yang bermarkas di Brussel, Belgia. Hasil survei ini mencerminkan penilaian berbagai aspek seperti infrastruktur, keberlanjutan lingkungan, dan kualitas hidup warga. Pramono menyebutkan bahwa Jakarta sudah mampu menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam beberapa bidang.