Latest Program: Gubernur Lampung Kenalkan Pupuk Hayati untuk Tingkatkan Produktivitas Kopi

Latest Program: Pupuk Hayati Tingkatkan Produktivitas Kopi Lampung

Latest Program – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, terus mendorong transformasi sektor perkebunan melalui inovasi ramah lingkungan. Langkah strategis ini bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus memperbaiki kesejahteraan petani kopi di wilayahnya. Momen penting agenda tersebut terjadi saat gubernur meninjau langsung Kebun Induk Hanakau. Fasilitas milik UPTD Balai Benih dan Kebun Induk ini dikelola oleh Dinas Perkebunan Provinsi Lampung. Kunjungan berlangsung di Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat, pada Kamis, 9 Juli.

Dalam dialog interaktif dengan para petani, Rahmat Mirzani Djausal memaparkan inovasi terbaru berupa Pupuk Hayati Cair atau PHC. Inovasi ini mulai diimplementasikan secara bertahap di Kebun Induk Hanakau. Pupuk ini mengandalkan mikroorganisme lokal sebagai komponen utamanya. Proses produksinya memanfaatkan bahan-bahan bersumber dari lingkungan sekitar, termasuk limbah kelapa, ampas kedelai, serta air cucian beras. Semua bahan tersebut diproses menjadi pupuk efektif untuk pertumbuhan tanaman.

Dampak Positif PHC bagi Tanaman Kopi

Menurut penjelasan gubernur, penggunaan PHC memberikan dampak positif nyata terhadap perkembangan tanaman. Pertumbuhan vegetatif menjadi lebih pesat, warna daun tampak lebih hijau dan segar, serta proses pembungaan terjadi lebih cepat. Selain itu, ukuran buah juga mengalami peningkatan signifikan. Yang tidak kalah penting, pupuk ini membantu memperbaiki struktur kesuburan tanah secara alami. Hal ini secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sintetis yang harganya cenderung fluktuatif.

Implementasi PHC di Kebun Induk Hanakau telah dimulai sejak awal tahun 2025. Pada tahap awal, program ini diterapkan pada lahan percontohan dengan luas mencapai dua hektare. Data yang terkumpul menunjukkan hasil menggembirakan. Tanaman yang mendapat perlakuan PHC menunjukkan pertumbuhan lebih baik dibandingkan dengan tanaman kontrol yang tidak menggunakan pupuk tersebut.

Salah satu pencapaian paling mencolok adalah percepatan masa produksi tanaman kopi. Secara konvensional, bibit kopi baru mulai berbuah dan siap dipanen setelah melewati masa tiga tahun. Dengan penerapan PHC, periode tersebut berhasil dipangkas menjadi satu setengah hingga dua tahun saja. Ini berarti petani bisa mendapatkan hasil panen lebih cepat dan meningkatkan perputaran ekonomi mereka.

“Buah kopi terlihat lebih besar, kualitasnya lebih baik, serta pertumbuhan tanaman lebih optimal,” ujar Rahmat Mirzani Djausal dalam keterangan tertulis, Senin (13/7/2026).

Gubernur lebih lanjut menekankan bahwa inovasi pertanian seperti PHC merupakan wujud nyata komitmen Pemerintah Provinsi Lampung. Komitmen ini tertuju pada penguatan daya saing sektor perkebunan di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, program ini juga bertujuan meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan teknologi yang murah, mudah diadopsi, dan ramah lingkungan. Sebagai bentuk dukungan konkret, gubernur juga menyerahkan sampel PHC dalam kemasan botol kepada para petani. Sampel ini dapat langsung diuji coba pada lahan masing-masing untuk melihat hasilnya secara personal.

Dalam kunjungan tersebut, Rahmat Mirzani Djausal didampingi oleh Wakil Bupati Lampung Barat, Mad Hasnurin. Mereka juga didampingi oleh jajaran pejabat dari Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat. Rombongan berkeliling melihat langsung kebun kopi yang berfungsi sebagai pusat percontohan, penelitian, serta pengembangan benih kopi unggul di Provinsi Lampung.

Kebun Induk Hanakau dikenal sebagai salah satu sentra pengembangan kopi yang menerapkan metode budidaya modern. Berbagai teknik perawatan tanaman diterapkan untuk meningkatkan produktivitas maupun kualitas hasil panen. Di lokasi ini dikembangkan dua jenis kopi utama, yaitu robusta dan arabika. Untuk kopi robusta, tersedia sejumlah klon unggul nasional seperti BP 939, BP 936, BP 534, dan BP 436 sebagai sumber benih berkualitas tinggi.

Selain klon nasional, kebun ini juga mengembangkan klon lokal potensial seperti Kopi Bagio, Turun Ujung, Bodong, dan Tugu Sari. Varietas-varietas ini dipersiapkan untuk menjadi varietas unggul bersertifikat. Sementara itu, sekitar dua ratus batang kopi arabika ditanam sebagai bagian dari uji adaptasi di kawasan dataran tinggi Sukau.

Mad Hasnurin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas perhatian yang diberikan Gubernur terhadap pengembangan komoditas kopi di Lampung Barat. Menurutnya, kehadiran langsung sang gubernur menjadi motivasi besar bagi para petani. Kehadiran ini juga menunjukkan komitmen Pemp