Korban Tewas Kecelakaan Bus ALS di Sumsel Jadi 18 Orang

Korban Tewas Kecelakaan Bus ALS di Sumsel Jadi 18 Orang

Korban Tewas Kecelakaan Bus ALS di Sumsel – Kecelakaan parah yang terjadi pada bus ALS di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) kini mengakibatkan 18 korban meninggal. Informasi ini diungkapkan oleh Kombes Budi Susanto, Kepala RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, dalam wawancara yang dilansir detikSumbagsel, Minggu (10/5/2026). Menurutnya, kondisi jenazah yang ditemukan menunjukkan adanya bagian tubuh yang saling melekat erat, terutama di area ketiak. Budi memperkirakan bahwa bagian tubuh tersebut kemungkinan milik anak-anak, termasuk yang berusia di bawah lima tahun.

“Banyak bagian tubuh yang terlihat melekat erat di area ketiak. Diduga bagian tubuh tersebut milik anak kecil,” ujar Kombes Budi Susanto.

Komisaris Polisi Budi Susanto menjelaskan bahwa analisis awal dari tim DVI (Dokumentasi dan Verifikasi Ilmu) belum cukup untuk menentukan jenis kelamin dari kantong jenazah yang ditemukan. Hal ini disebabkan oleh kondisi potongan tubuh yang relatif kecil dan hancur. “Kita hanya bisa mengambil dari beberapa bagian tubuh untuk pemeriksaan sampel. Tapi dari situ kita bisa menduga bahwa temuan satu body part diduga anak-anak yang mungkin usianya di bawah lima tahun,” terangnya.

Kecelakaan tersebut terjadi di jalan raya yang menghubungkan beberapa kabupaten di Sumsel. Bus ALS yang terlibat dalam insiden tersebut mengalami tabrakan maut yang menewaskan sejumlah penumpang. Menurut data terbaru, sebelumnya terdapat 16 kantong mayat yang dikumpulkan oleh tim DVI. Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, jumlah jenazah meningkat menjadi 17. Dalam satu dari kantong tersebut, terdapat dua bagian tubuh yang terjepit erat di sekitar ketiak, menunjukkan kondisi korban yang mengalami trauma serius.

Budi Susanto juga mengungkapkan bahwa dalam upaya mengungkap identitas korban, tim DVI terus bekerja ekstra untuk memastikan tidak ada jenazah yang terlewat. “Kita sedang melakukan pendalaman untuk memverifikasi semua temuan,” katanya. Proses ini memakan waktu yang cukup lama karena bagian tubuh yang terpisah membutuhkan analisis mikroskopis dan rekonstruksi fisik. Hal ini memperumit upaya mengidentifikasi korban, terutama karena beberapa potongan tubuh hanya tersisa dalam kondisi fragmentasi.

Seorang korban yang baru ditemukan di RSUD Rupit, Palembang, adalah M Tahrul, warga Tegal. Ia dirawat di rumah sakit tersebut sebelum akhirnya meninggal. “Korban tersebut masih dalam kondisi kritis saat ditemukan di rumah sakit, tetapi akhirnya tidak berhasil diselamatkan,” tambah Budi. Temuan ini menambah jumlah korban tewas menjadi 18, menjadikan insiden tersebut sebagai salah satu kecelakaan paling berat dalam beberapa tahun terakhir.

Kecelakaan bus ALS yang terjadi pada hari Minggu itu menimbulkan kekhwatiran bagi masyarakat sekitar. Bus tersebut, yang diberi nama ALS, dikenal sebagai kendaraan umum yang sering digunakan oleh warga Kabupaten Musi Rawas dan sejumlah daerah lainnya. Jumlah korban tewas yang mencapai 18 orang memicu reaksi cepat dari pihak berwenang, termasuk kepolisian dan DVI. Tim penyelidik langsung bergerak ke lokasi kejadian untuk memproses semua kantong mayat yang ditemukan.

Korban tewas yang pertama kali ditemukan adalah sebanyak 16 orang. Namun, setelah tim DVI melakukan investigasi lebih lanjut, jumlah tersebut meningkat menjadi 17. Dalam proses ini, mereka menemukan bahwa satu dari kantong mayat memiliki dua bagian tubuh yang berlekat, sehingga mengakibatkan tambahan satu korban. “Kita menemukan satu kantong mayat yang berisi dua bagian tubuh, yang sebelumnya dianggap terpisah,” jelas Budi Susanto.

DVI juga mengungkapkan bahwa kondisi jenazah yang ditemukan mengalami kerusakan serius akibat benturan ekstrem. Bagian tubuh yang hancur, seperti lengan dan kaki, menyulitkan proses identifikasi karena tidak dapat digunakan untuk menduga jenis kelamin atau usia korban. “Dari potongan tubuh yang disimpan dalam kantong, kita bisa mengetahui bahwa salah satu korban diduga anak-anak. Namun, untuk memastikan, kita masih membutuhkan waktu lebih lama,” kata Budi.

Menurut sumber, kecelakaan tersebut terjadi saat bus ALS melintasi jalan raya yang cukup curam. Karena kecepatan tinggi dan kemungkinan kurangnya pengemudi yang terjaga, bus mengalami tabrakan dengan kendaraan lain atau penghalang. Akibatnya, beberapa bagian tubuh penumpang terlempar dan menempel di tempat yang tidak biasa. Selain itu, terdapat laporan bahwa beberapa korban mengalami luka parah hingga tidak bisa diselamatkan.

Budi Susanto menegaskan bahwa tim DVI sedang berusaha untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat. “Kita terus memproses semua bagian tubuh yang ditemukan, termasuk yang masih dalam kondisi fragmentasi. Ini membutuhkan kolaborasi antar tim untuk membandingkan data dan mempercepat proses identifikasi,” ujarnya. Proses ini juga memerlukan bantuan teknologi seperti pencitraan dan rekonstruksi boneka tubuh untuk memahami bagaimana bagian-bagian tersebut terlempar.

Kecelakaan yang menewaskan 18 korban ini menjadi sorotan media dan masyarakat. Banyak warga mengunggah foto-foto korban di media sosial, meminta dukungan untuk menemukan jenazah yang masih hilang. “Kita berharap semua korban dapat dikenali dengan cepat, agar keluarga bisa merasa tenang,” pungkas Budi. Dengan adanya temuan bagian tubuh yang terjepit, upaya identifikasi menjadi lebih kompleks, tetapi tetap berjalan intensif.

Sebagai langkah lanjutan, tim DVI akan melakukan pengecekan lebih lanjut terhadap semua bagian tubuh yang ditemukan. Dalam waktu dekat, mereka berharap dapat mengungkapkan identitas lengkap dari semua korban, termasuk yang diduga anak-anak. “Setiap bagian tubuh memberikan informasi penting, meskipun kondisinya rusak,” tegas Budi. Dengan hasil ini, pihak berwenang dapat memberikan informasi lebih rinci kepada keluarga korban dan memperkuat investigasi tentang penyebab kecelakaan tersebut.