Key Strategy: Momen Haru Pramono Teteskan Air Mata Saat Hadiri Open House Sekolah Rakyat:
Table of Contents
Peluncuran Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Jakarta: Momen Haru yang Membuat Pramono Anung Meneteskan Air Mata
Key Strategy – Kegiatan Open House Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Jakarta baru saja berlangsung di bawah langit biru, menghadirkan suasana penuh semangat. Acara ini menjadi momen penting bagi para siswa yang sehari-hari belajar di lingkungan sekolah yang tergolong sederhana, tetapi memiliki misi besar untuk membentuk generasi penerus bangsa yang mandiri. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung turut hadir, menambah kehangatan suasana. Kedua tokoh tersebut tidak hanya menyaksikan kegiatan, tetapi juga secara langsung berinteraksi dengan para siswa dan orang tua mereka.
Pertunjukan Keterampilan Siswa yang Memukau
Dalam acara tersebut, para siswa memperlihatkan berbagai keterampilan mereka melalui yel-yel, baris berbaris, tarian, serta tampilan bakat yang antusias diterima oleh tamu undangan dan orang tua siswa. Suara tawa dan tepuk tangan menyambut setiap adegan yang dipertunjukkan, mencerminkan kebahagiaan dan rasa bangga dari seluruh peserta. Dengan kemampuan yang terlihat, para siswa tidak hanya memperlihatkan semangat belajar, tetapi juga semangat kebersamaan yang menginspirasi.
Sejumlah siswa bahkan menampilkan pertunjukan kreatif yang menunjukkan perubahan sikap mereka sejak mengikuti program Sekolah Rakyat. Perubahan ini terlihat jelas dalam cara mereka berbicara, bergerak, dan menampilkan ekspresi kepercayaan diri. Ratu Mulyanengsih, Kepala SRMA 10 Jakarta, menyampaikan bahwa perubahan ini sangat signifikan, terutama setelah hampir setahun berlangsungnya pembinaan di sekolah tersebut. “Mereka tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga secara psikologis dan sosial,” kata Ratu, yang menegaskan bahwa program ini memberikan dampak holistik bagi siswa.
Pendekatan Strategis untuk Membatasi Kemiskinan
Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat adalah bagian dari upaya strategis Presiden Prabowo Subianto untuk memutus siklus kemiskinan. “Konsepnya adalah mengedukasi anak-anak sekaligus memperkuat posisi orang tua mereka,” ujarnya. Ia menekankan bahwa program ini tidak hanya fokus pada pendidikan formal, tetapi juga memberdayakan keluarga untuk mengelola kehidupan secara mandiri.
“Anaknya lulus, orang tuanya lebih mandiri. Mereka tidak lagi bergantung pada bantuan sosial yang mungkin tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tutur Gus Ipul dalam keterangan tertulis yang diterbitkan Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, SRMA memberikan peluang yang lebih luas kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu. Lulusan sekolah ini memiliki dua opsi masa depan: melanjutkan studi ke perguruan tinggi atau mengembangkan keterampilan sesuai minat dan bakatnya. “Kita harus memastikan bahwa setiap anak, terlepas dari latar belakang ekonominya, memiliki akses yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” tambahnya.
Salah satu misi utama dari Sekolah Rakyat adalah memastikan lingkungan belajar yang aman dan kondusif. Gus Ipul menegaskan bahwa di dalam SRMA, tiga hal utama tidak boleh terjadi, yaitu perundungan, kekerasan fisik atau seksual, serta intoleransi. “Setiap pelanggaran akan ditangani dengan tegas, agar semua siswa merasa nyaman dan percaya diri dalam mengikuti proses belajar-mengajar,” jelasnya.
Perubahan Sikap dan Penyesuaian Diri
Pramono Anung, dalam wawancara bersama media, mengungkapkan perasaannya saat melihat perkembangan para siswa. Ia menyatakan bahwa hari ini adalah momen yang membuatnya tersentuh. “Saya dari tadi meneteskan air mata, karena mereka menunjukkan perubahan yang tidak terduga. Jika dulu saya tidak dapat menempuh pendidikan karena keterbatasan ekonomi, mungkin saya tidak bisa sampai ke sini,” kata Pramono dengan nada penuh haru.
Dari kisah pribadinya, Pramono menyadari betapa pentingnya bantuan pemerintah melalui program beasiswa. Dengan adanya SRMA, ia melihat generasi muda Indonesia memiliki peluang untuk berkembang sekaligus mengubah nasib mereka. “Mereka sekarang tampil dengan percaya diri yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat, anak-anak dari segala latar belakang bisa meraih kesuksesan,” ujarnya.
Kepala SRMA 10 Jakarta, Ratu Mulyanengsih, menambahkan bahwa program ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk nilai-nilai kehidupan yang baik. “Siswa-siswa kami belajar untuk saling menghargai, menjaga sikap, dan meningkatkan keterampilan mereka dalam berbagai bidang,” katanya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari kerja sama antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah DKI Jakarta.
Masa Depan yang Diimpikan
Dalam kesimpulan, Gus Ipul menegaskan bahwa keberadaan Sekolah Rakyat adalah bukti nyata bahwa negara hadir untuk memberikan kesempatan setara bagi seluruh anak bangsa. “Kita harus bersyukur, karena ada anak-anak yang mampu menempuh pendidikan meskipun lahir dari keluarga yang ekonominya terbatas,” ujarnya. Pramono Anung, sebagai Gubernur DKI Jakarta, berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan program ini, termasuk menjajaki penambahan kapasitas sekitar seribu siswa di Jakarta.
Acara ditutup dengan seruan bersama para siswa untuk meneriakkan yel-yel Sekolah Rakyat. Suara tajam dari para peserta menambah keberanian dan semangat dalam menghadapi tantangan masa depan. “Siapa tahu, beberapa puluh tahun ke depan, Presiden Indonesia adalah lulusan Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul, menutup pernyataannya dengan harapan yang tinggi.
Keberhasilan SRMA juga terlihat dari jumlah siswa yang terus meningkat. Saat ini, program ini telah menjangkau lebih dari 15 ribu siswa di 166 titik di seluruh Indonesia. Untuk tahun ajaran 2026/2027, targetnya adalah menambah jumlah siswa hingga sekitar 45 ribu orang. “Ini adalah langkah besar, tetapi kita harus terus bergerak bersama,” kata Ratu Mulyanengsih, yang menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah hasil dari kerja keras dan kolaborasi yang solid.
