Table of Contents
China Tetap Optimis, Meski Perundingan Islamabad Tidak Berhasil
Beijing – Pemerintah Tiongkok masih yakin konflik Timur Tengah dapat ditangani melalui mediasi diplomatik, meski upaya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, tidak mencapai kesepakatan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menyatakan bahwa pertemuan AS-Iran di Islamabad adalah langkah positif menuju penurunan ketegangan. Ia menekankan bahwa Tiongkok mendukung pihak-pihak berselisih mempertahankan gencatan senjata dan menyelesaikan masalah dengan cara politik.
Perundingan Antara AS dan Iran Terhambat
Perundingan damai antara AS dan Iran yang berlangsung 10–11 April 2026 di Islamabad gagal mencapai kesepakatan. Isu Selat Hormuz menjadi faktor utama perbedaan pendapat antara kedua belah pihak. Dalam wawancara, Guo Jiakun menyebut bahwa dialog lebih baik daripada memicu kembali konflik, serta mengharapkan kondisi stabil untuk pemulihan perdamaian di Teluk.
“Negosiasi lebih baik dibanding menyulut kembali api perang, dan kondisi akan tercipta untuk pemulihan perdamaian di Teluk secepatnya,” tambah Guo Jiakun.
Wakil Presiden AS J.D. Vance mengungkapkan tidak ada kesepakatan yang tercapai setelah memimpin delegasi AS berdiskusi langsung dengan Iran. Sementara itu, Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyoroti bahwa tuntutan maksimalis dan ancaman blokade oleh Angkatan Laut AS menjadi hambatan utama.
“Dalam pembicaraan intensif selama 47 tahun, Iran terlibat dengan AS dengan niat baik untuk mengakhiri perang. Namun, ketika hanya tinggal selangkah lagi dari ‘MoU Islamabad’, kami justru menghadapi maksimalisme, tuntutan yang berubah-ubah, dan blokade. Tidak ada pelajaran yang dipetik. Niat baik akan dibalas dengan niat baik. Permusuhan akan melahirkan permusuhan,” kata Araghchi dalam unggahan di platform media sosial X.
Dampak Blokade Selat Hormuz
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak akhir Februari 2026 telah memengaruhi pasar global dan meningkatkan harga energi. Jalur strategis ini menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah, gas alam cair, serta pupuk ke Asia dan wilayah lain. Secara normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati area tersebut.
Di tengah perundingan, Tiongkok menekankan pentingnya menyelesaikan perbedaan melalui kesepakatan. Namun, AS dan Iran masih berselisih mengenai isu Lebanon. Meski telah sepakat gencatan senjata sementara pada 8 April 2026, kondisi itu dianggap rapuh karena Israel tetap melakukan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon.
Iran menilai isu Lebanon tercakup dalam kesepakatan, sementara AS bersikeras sebaliknya. Meski demikian, Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama perundingan. Militer AS menyatakan dua kapal perusaknya melewati jalur itu sebagai persiapan operasi pembersihan ranjau, klaim yang ditolak oleh Iran. Ranjau yang dipasang Korps Garda Revolusi Islam menimbulkan kekhawatiran akan kebutuhan waktu untuk memastikan keselamatan transportasi kapal.
