Ini Motif dan Peran 4 Pembunuh Tapir di Mesuji Lampung
Table of Contents
Empat Pelaku Pembunuhan Tapir di Mesuji Lampung Ditangkap
Ini Motif dan Peran 4 Pembunuh – Sebuah tindakan kekerasan terhadap satwa liar terjadi di Jalinsum, Mesuji, Lampung, yang menghebohkan masyarakat setempat. Sebanyak empat dari enam pelaku perburuan tapir tersebut telah diamankan oleh pihak kepolisian. Selain itu, keempat tersangka ini memiliki peran yang berbeda dalam menjalankan aksinya, menurut penjelasan Kapolres Mesuji, AKBP Muhammad Firdaus.
Detail Keempat Pelaku yang Ditangkap
Dalam penangkapan, keempat pelaku yang berhasil dibekuk meliputi Ketut Suwarne (50 tahun), Wayan Supatre (30 tahun), Tri Suharyanto (45 tahun), dan Made Putra Yasa (43 tahun). Mereka ditemukan berada di lokasi kejadian setelah melakukan aktivitas perburuan yang berlangsung secara diam-diam. Selain itu, sebagian dari mereka juga terlibat dalam upaya menyembunyikan bukti-bukti kejahatan.
“Para pelaku ini memiliki peran yang berbeda-beda, mulai dari mengejar hingga menombak tapir tersebut,” jelas Kapolres Mesuji AKBP Muhammad Firdaus, sebagaimana dikutip detikSumbagsel pada Jumat (3/7/2026). Dalam penyelidikan, polisi menemukan bukti-bukti bahwa masing-masing dari mereka memainkan peran yang unik dalam proses pembunuhan. Tidak hanya itu, beberapa pelaku juga terlibat dalam penyembelihan hewan tersebut untuk dikonsumsi.
Kapolres menegaskan bahwa tindakan perburuan ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga memiliki dampak lingkungan yang signifikan. Tapir, sebagai satwa langka di wilayah tersebut, sering kali menjadi korban pemburu yang mengincar dagingnya untuk dijual di pasar lokal. Selain itu, aktifitas ini menunjukkan adanya kebutuhan masyarakat akan protein hewani, yang mendorong mereka untuk melibatkan diri dalam kegiatan ilegal.
Peran Masing-Masing Pelaku
Menurut keterangan polisi, Ketut Suwarne (KS) bertugas sebagai pelaku utama dalam proses menombak tapir. Ia diduga memegang peran kunci dalam mengarahkan rencana pembunuhan tersebut. Di sisi lain, Wayan Supatre (WS) mengambil peran mengejar hewan tapir hingga berhasil menangkapnya. Tri Suharyanto (TS) dan Made Putra Yasa (MPS) terlibat dalam menyembelih dan memotong bagian-bagian tubuh tapir, serta menyimpan alat-alat yang digunakan untuk melakukan aksi.
MPS, yang juga merupakan pemilik golok, menjadi salah satu pelaku yang sangat aktif dalam menyembelih tapir. Ia tidak hanya menyuapkan alat pembunuhan, tetapi juga berperan dalam mengelola hasil perburuan. Polisi menemukan beberapa bukti, termasuk golok dan senjata tajam lainnya, yang digunakan sebagai alat utama untuk membunuh hewan yang dilindungi ini.
Motif Perburuan Tapir
Dalam wawancara dengan media, Kapolres Mesuji mengungkapkan bahwa motif utama dari perburuan ini adalah konsumsi daging tapir. “Motifnya memang hanya diburu untuk dikonsumsi saja,” kata Firdaus, menegaskan bahwa para pelaku tidak memiliki niat lain selain mengumpulkan daging sebagai bahan makanan. Ia menambahkan bahwa hewan tapir yang ditemukan di Jalinsum sebelumnya terlihat dalam kondisi baik, sehingga bisa dikatakan bahwa mereka sengaja diburu untuk digunakan.
Menurut Firdaus, perburuan ini dilakukan secara sistematik. Para pelaku membagi tugas untuk memastikan tidak ada kesalahan langkah dalam proses pembunuhan. Bahkan, mereka membekuk hewan tapir dengan cara yang licin, agar tidak terdeteksi oleh masyarakat sekitar. Namun, keberhasilan penangkapan empat dari total enam pelaku menunjukkan bahwa investigasi polisi berjalan cepat dan efektif.
Penyelidikan Lanjutan dan Dampak Lingkungan
Dalam penyelidikan lanjutan, polisi menemukan bahwa beberapa dari pelaku ini adalah warga setempat yang sebelumnya mengenal tapir sebagai hewan liar yang terkadang mengganggu pertanian. Meski demikian, mereka tetap melanjutkan aksinya dengan dalih ekonomi. Tapir yang menjadi korban ini adalah spesies yang terancam punah, sehingga tindakan perburuan ini dianggap sebagai ancaman serius terhadap keberlanjutan lingkungan.
Kapolres Mesuji menyoroti pentingnya melindungi satwa-satwa langka tersebut. “Pembunuhan tapir ini tidak hanya merugikan ekosistem, tetapi juga memicu perhatian masyarakat tentang perlindungan alam,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa polisi akan terus mengungkap identitas pelaku lainnya dan memproses mereka secara hukum. “Kita masih mengejar dua pelaku lainnya, yang diduga menjadi otak di balik aksi ini,” imbuh Firdaus.
Sebagai langkah pencegahan, Kapolres Mesuji juga berencana bekerja sama dengan organisasi konservasi lokal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. “Kita ingin mencegah tindakan serupa di masa depan, dengan memberikan sanksi tegas kepada pelaku perburuan ilegal,” lanjutnya. Selain itu, pihak kepolisian akan memperketat pengawasan di area konservasi tapir untuk mencegah aksi kejahatan lainnya.
Dengan empat pelaku yang telah ditangkap, kasus ini menjadi sorotan publik. Sejumlah warga Mesuji mengkritik tindakan perburuan tersebut, karena merasa hewan tapir yang mati menjadi korban dari keserakahan manusia. “Kita harus menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan perlindungan alam,” harap seorang warga yang enggan namanya disebutkan. Keberhasilan penangkapan ini diharapkan bisa menjadi titik balik dalam perjuangan melindungi tapir dari ancaman kepunahan.
Kasus ini juga memicu diskusi tentang peran pemerintah dalam menjaga keanekaragaman hayati. Pemerintah daerah Mesuji telah menetapkan beberapa kebijakan perlindungan hewan langka, tetapi keberhasilan pelaku dalam menghindari pemeriksaan menunjukkan bahwa masih ada celah yang perlu ditutup. Polisi berharap kasus ini menjadi contoh bagaimana kerja sama antara masyarakat dan lembaga pemerintah bisa menghasilkan perubahan positif.
Dengan penangkapan keempat pelaku ini, harapan masyarakat semakin besar bahwa tindakan kekerasan terhadap tapir bisa dihentikan. Namun, polisi masih terus berupaya mengungkap lebih banyak detail dari peristiwa tersebut, termasuk alasan mengapa ada enam pelaku yang terlibat. “Kita masih investigasi untuk menemukan siapa saja yang terlibat, agar tindakan ini tidak berulang,” kata Firdaus. Ia menegaskan bahwa tindakan perburuan tapir akan terus dilacak hingga tidak ada yang tersisa di belakang.
Kasus pembunuhan tapir di Mesuji menjadi cerminan tentang ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan. Dengan sem
