Facing Challenges: Cerita Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina Tak Bisa Masuk AS-Kanada

Cerita Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina Tak Bisa Masuk AS-Kanada

Facing Challenges – Kebijakan visa yang diterapkan oleh Amerika Serikat dan Kanada menuai sorotan setelah Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, serta wasit Somalia Omar Artan, terkena larangan masuk ke kedua negara tersebut. Peristiwa ini terjadi menjelang gelaran Piala Dunia 2026, yang sebagian besar dipertandingkan di Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada. Rajoub dan Artan mengalami hambatan serupa meski mereka berupaya memasuki negara tuan rumah turnamen tersebut untuk menjalankan tugas penting.

Presiden Palestina Ditolak Masuk AS

Jibril Rajoub, yang juga bertindak sebagai ketua delegasi sepak bola Palestina, mengungkapkan bahwa permohonannya untuk visa Amerika Serikat ditolak setelah ia mengajukan aplikasi dari Amman, Yordania. Meski demikian, ia berhasil memasuki Meksiko untuk menghadiri pembukaan Piala Dunia di Mexico City, hari Kamis (10/6/2026), meski acara tersebut diadakan sebelum pertandingan antara Meksiko melawan Afrika Selatan. “Perilaku mereka sangat konyol,” kata Rajoub dalam wawancara dengan AFP, Sabtu (13/6/2026), saat ia sedang berada di Meksiko.

“Saya sangat, sangat kecewa. Saya hanyalah seorang wasit yang berusaha mewujudkan mimpinya, mimpi terbesar dalam hidup saya, untuk datang ke Piala Dunia,”

Rajoub menambahkan bahwa ia juga tidak mendapatkan visa untuk Kanada. Ia mengklaim bahwa tekanan dari pihak Israel menjadi penyebab utama penghalangan tersebut. “Lingkaran tertentu tidak ingin kami mengkritik Israel,” ujarnya, menyebutkan bahwa ada upaya untuk membatasi akses Palestina ke wilayah yang didukung AS.

Wasit Somalia Ditolak AS

Selain Rajoub, wasit ternama asal Somalia, Omar Artan, juga ditolak masuk ke Amerika Serikat. Artan, yang terdaftar sebagai salah satu dari 52 wasit yang akan bertugas dalam Piala Dunia 2026, tiba di Florida Selatan pada hari Sabtu (6/6/2026), tetapi harus kembali ke Somalia setelah ditolak masuk. Menurut laporan Al Jazeera, keputusan ini diumumkan oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) pada hari Senin (8/6/2026), setelah ia tiba di Florida.

“Saya sangat, sangat kecewa. Saya hanyalah seorang wasit yang berusaha mewujudkan mimpinya, mimpi terbesar dalam hidup saya, untuk datang ke Piala Dunia,”

Artan mengungkapkan bahwa dirinya tidak diberi penjelasan spesifik mengenai alasan ditolaknya visa. Ia juga menyebutkan bahwa ia diinterogasi selama 11 jam sebelum dibawa ke sel tahanan terpisah. Setelah beberapa jam ditahan, Artan diterbangkan ke Istanbul, Turki, untuk kembali ke negaranya. “Saya tidak tahu apa yang membuat saya ditolak,” katanya, menyoroti ketidakadilan yang dirasakannya.

Iran Dituduh Diskriminasi

Isu larangan visa juga menyeret Iran. Sejumlah anggota delegasi dari Iran mengalami kendala dalam mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat, meski para pemainnya sudah mendapat visa dan siap berangkat ke Meksiko. Laporan dari AFP menyebutkan bahwa 15 orang dari tim administrasi dan manajemen Iran terkena pembatasan tersebut, sementara visa untuk tim nasional dan staf teknis telah diterbitkan.

“Anda kini telah meningkatkan perlakuan yang disengaja dan diskriminatif terhadap tim nasional Iran ke tingkat tertinggi,”

Kedutaan Besar Iran di Turki mengkritik kebijakan AS, menyebut bahwa larangan visa tersebut merupakan bentuk diskriminasi terhadap delegasi negara mereka. Seorang reporter dari Kota Antalya, tempat tim Iran menjalani pemusatan latihan, melaporkan bahwa 15 anggota tersebut tidak mendapat izin masuk hingga kini. Meski demikian, utusan AS untuk Turki, Tom Barrack, menyanjung upaya Kedutaan Besar AS di Ankara dalam memproses visa untuk tim Iran.

Latar Belakang Kebijakan Trump

Larangan masuk yang diterapkan oleh AS dan Kanada terkait dengan kebijakan Trump, yang sering kali dikritik karena dituduh memperketat akses ke luar negeri. Somalia, negara asal Artan, termasuk dalam daftar larangan perjalanan Trump. Kebijakan itu memicu kemarahan publik setelah Trump menyebut imigran Somalia di AS sebagai “sampah” dalam pidato tahun lalu. Kritik terhadap kebijakan tersebut kembali memanas setelah Artan dan Rajoub tidak dapat berpartisipasi dalam acara kunci Piala Dunia.

Sebelumnya, Rajoub telah menghadiri Kongres FIFA di Vancouver, Kanada, pada bulan April. Namun, ia menolak undangan dari Gianni Infantino, kepala FIFA, untuk berfoto bersama seorang pejabat dari Asosiasi Sepak Bola Israel. Tindakan ini menunjukkan bahwa Rajoub juga mengalami tekanan dari pihak tertentu dalam upaya menolak kritik terhadap Israel. “Mereka tidak memberi saya visa untuk Amerika Serikat setelah saya mengajukan permohonan di Amman. Perilaku mereka sangat konyol,” kata Rajoub, menggambarkan keputusan visa sebagai bentuk kebijakan yang tidak konsisten.

Kritikan terhadap pemerintahan Trump semakin menguat karena kebijakan ini dianggap memengaruhi keberlangsungan acara olahraga internasional. Para penggemar sepak bola dan pelaku industri menyebutkan bahwa penolakan visa bisa mengganggu komunikasi serta kolaborasi antar negara selama turnamen. Dengan beberapa orang penting dari Palestina dan Somalia tidak dapat hadir, muncul kekhawatiran bahwa AS dan Kanada berupaya memisahkan diri dari isu-isu politik di luar batas olahraga.

Kebijakan visa ini juga memicu perdebatan tentang keterbukaan AS terhadap delegasi asing. Meski tidak semua anggota delegasi dari Palestina dan Somalia ditolak, namun keterbatasan tersebut menunjukkan tendensi politisasi dalam penerapan aturan. Dalam konteks Piala Dunia 2026, keputusan ini dianggap mengurangi partisipasi negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik terbatas dengan AS.

Imbas pada Keberlangsungan Turnamen

Para pengamat sepak bola memperingatkan bahwa penolakan visa berpotensi mengganggu keberlangsungan acara. Rajoub, sebagai perwakilan resmi Palestina, bisa menjadi saksi dalam acara resmi, sementara Artan diharapkan mengawasi pertandingan kunci. Dengan ketiadaan mereka, keberhasilan kemitraan internasional menjadi terancam. Selain itu, Iran yang mengirimkan delegasi besar juga mengalami hambatan dalam penyampaian dukungan kepada tim mereka.

Pembatasan ini menunjukkan bahwa kebijakan visa tidak hanya berdasarkan kriteria teknis, tetapi juga bisa dipengaruhi oleh aspek politik. Dengan menggolkan kritik terhadap Israel sebagai alasan, AS dan Kanada mengambil langkah untuk memutus akses Palestina dan negara lain ke wilayah yang mereka anggap berpembentukan kritis terhadap kebijakan nasional. Namun, kebijakan tersebut juga dianggap sebagai bentuk diskriminasi oleh negara-negara yang terlibat langsung dalam event olahraga global.

Di tengah persiapan Piala Dunia, isu visa menjadi bahan pembicaraan yang memicu ketegangan diplomatik. Kedutaan Besar Iran mengingatkan bahwa larangan visa yang diberikan AS tidak hanya mengganggu kinerja tim, tetapi juga menunjukkan sikap tidak adil terhadap delegasi dari negara yang sebelumnya memiliki hubungan baik dengan pemerintah Amerika