Merokok di Kamar hingga Bikin Kebakaran – Lansia di Jember Tewas Terbakar
Table of Contents
Merokok di Kamar hingga Bikin Kebakaran, Lansia di Jember Tewas Terbakar
Insiden Tragis di Jember, Kakek Meninggal dalam Kondisi Luka Bakar
Merokok di Kamar hingga Bikin Kebakaran – Kebakaran yang menyebabkan kematian seorang lansia di Jember terjadi pada Rabu, 3 Juni pukul 19.30 WIB. Kebakaran tersebut diduga dimulai dari kamar korban, yang pada saat itu sedang dalam kondisi terisolasi. Saat kejadian, korban ditemukan oleh keluarga dan warga sekitar setelah terlihat asap tebal keluar dari bangunan. Menurut saksi mata, situasi awalnya terlihat seperti kebakaran kecil, tetapi api cepat membesar hingga mengancam nyawa korban.
“Kami duga kakek saya tadi merokok dalam kamar, dan puntung rokok apinya menyebar membuat kamar terbakar. Korban tidak bisa keluar karena sudah tua dan sesak napas,”
kata Yansa, salah satu anggota keluarga korban, seperti dilansir detikJatim, Kamis (4/6/2026). Yansa menjelaskan bahwa kakeknya yang berusia sekitar 70 tahun menghabiskan hari-harinya di rumah bersama kerabatnya, Rina. Namun, pada hari kejadian, Rina sedang berada di luar kota untuk mengjemput suaminya di Kecamatan Umbulsari.
Menurut Yansa, situasi di dalam rumah menjadi kritis ketika asap mulai menyebar ke seluruh ruangan. Saat itu, korban terlihat sedang berada di kamar sendirian, tanpa bantuan dari keluarga lainnya. Meski warga sekitar segera merespons, tindakan mereka terlambat karena api sudah mempercepat perusakan di dalam kamar.
“Kakek saya hidup bersama Mbak Rina. Pada saat itu Mbak Rina sedang jemput suaminya di Kecamatan Umbulsari. Tahu-tahu pulang sudah ramai dan kakek saya meninggal dunia kondisinya gosong,”
ungkap Yansa, menyebutkan bahwa kondisi korban saat kejadian sangat memprihatinkan. Korban meninggal dengan luka bakar di seluruh tubuh, terutama di bagian dada dan paha, setelah terjebak dalam kamar yang berapi-api. Berdasarkan keterangan Yansa, korban tidak sempat melarikan diri karena keadaan sedang dalam kekacauan dan kondisi fisik yang memburuk.
Dalam upaya penyelamatan, warga yang melihat asap langsung mendatangi rumah dan mencoba membuka pintu untuk menolong. Namun, api yang sudah membesar membuat kesulitan dalam mengendalikan situasi. Beberapa orang berhasil memasuki ruangan, tetapi korban telah terlalu luka untuk diselamatkan. Kebakaran tersebut menghancurkan sebagian besar kamar, termasuk benda-benda pribadi korban dan bahan bakar yang menyebabkan api semakin cepat membara.
Sementara itu, petugas pemadam kebakaran yang diterjunkan ke lokasi menyatakan bahwa api pertama kali terlihat dari luar rumah sekitar 10 menit setelah kejadian. Api memudar setelah petugas berhasil memadamkannya, tetapi tidak ada korban selamat dari kamar yang terbakar. Seluruh isi kamar, termasuk ranjang kapuk dan perabotan, dilahap api hingga habis.
Kebakaran ini menimbulkan rasa kehilangan yang dalam bagi keluarga korban. Yansa mengungkapkan bahwa kejadian tersebut memicu perasaan sedih dan prihatin karena korban dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan selalu menjaga rumahnya secara rapi. Sebelumnya, korban sering dilihat merokok di dalam kamar saat sore hari, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa kejadian itu akan berujung menjadi kebakaran.
Menurut Yansa, kakeknya memiliki kebiasaan merokok sejak usia muda, dan sering menghabiskan waktu di kamar sendirian. Hal ini menjadi faktor risiko yang tidak terduga, terutama karena usia lanjut korban membuatnya kurang mampu bergerak cepat ketika keadaan darurat. Selain itu, kondisi ruangan yang tertutup juga memperparah situasi, karena asap dan panas menghimpit korban hingga tidak bisa melarikan diri.
Kelompok warga setempat menyatakan bahwa mereka terkejut melihat api merambat begitu cepat. Beberapa orang sempat menunggu hingga petugas tiba untuk mengetahui bahwa korban sudah tidak bernapas. Sementara itu, tetangga korban mengungkapkan bahwa mereka telah berusaha memadamkan api sejak awal, tetapi kekuatan api melebihi harapan mereka. “Warga sudah terus berusaha membuka pintu dan memberi pertolongan, tapi api sudah terlalu ganas,”
“kata warga setempat, yang tak mau disebut nama. Dalam beberapa hari terakhir, korban juga sering menunjukkan gejala kesulitan bernapas, tetapi tidak terpikir oleh keluarga untuk mengambil langkah pencegahan lebih lanjut.
Penyebab kebakaran masih dalam investigasi. Dari laporan awal, petugas memastikan bahwa puntung rokok adalah penyebab utama, meski tidak menutup kemungkinan adanya faktor lain seperti korsleting listrik atau api yang berasal dari sumber lain. “Kami akan memeriksa semua kemungkinan, termasuk kebiasaan merokok korban dan kondisi lingkungan rumah,”
“ujar petugas pemadam kebakaran, yang ditemani oleh tim penyidik dari Unit Pemadam Kebakaran Jember. Kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat, khususnya lansia, untuk lebih waspada terhadap risiko kebakaran yang bisa terjadi akibat kebiasaan sehari-hari seperti merokok di dalam kamar.
Setelah kejadian, keluarga korban merasa sedih dan kehilangan semangat. Mereka berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda untuk lebih menghargai kehidupan lansia dan mengambil langkah pencegahan sejak dini. Yansa menambahkan bahwa korban dikenang sebagai sosok yang baik dan penuh kasih sayang, terutama terhadap cucunya yang masih kecil.
Di sisi lain, pihak kecamatan sedang mengupayakan bantuan untuk keluarga korban. Dengan tidak adanya korban selamat, rumah korban kini menjadi tempat duka bagi seluruh keluarga. Pihak keluarga juga berencana mengganti perabotan yang rusak dan membangun kembali kamar korban. Namun, biaya yang diperlukan masih tergantung pada dukungan dari masyarakat dan pemerintah setempat.
Sebagai tindak lanjut, pihak kecamatan mengimbau warga untuk memeriksa ulang keamanan rumah mereka, khususnya terkait kebiasaan merokok di dalam kamar. Di Jember, kebakaran di rumah-rumah lansia sering terjadi, terutama pada malam hari ketika kegiatan di luar rumah berkurang. “Kita perlu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kamar dan menghindari sumber api yang berpotensi memicu kecelakaan,”
“kata salah satu anggota kecamatan, yang mengungkapkan bahwa kejadian ini merupakan salah satu contoh nyata dari bahaya kebakaran yang bisa terjadi kapan saja.
Dalam perjalanan penyelidikan, petugas juga menemukan bahwa kamar korban tidak memiliki pintu darurat atau alat pemadam kebakaran yang siap dipakai. Faktor ini memperparah kerugian material dan keraguan akan keberhasilan evakuasi. Yansa menyatakan bahwa keluarga sudah memperbaiki kamar sebelum kejadian, tetapi tidak memasang alat pemadam kebakaran karena biaya yang relatif mahal.
Kebakaran ini juga memicu perhatian media lokal, yang berupaya menggali lebih lanjut tentang kondisi kamar dan kebiasaan korban. Dalam wawancara, Yansa mengatakan bahwa korban sering menunjukkan kesulitan mengambil air atau menyelamatkan diri ketika api muncul. “Kakek saya bahkan tidak pernah menggunakan alat bantu berjalan, karena merasa masih mampu ber
