Meeting Results: Hampir Sebulan, 5 Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Masih Dirawat di RS

Hampir Sebulan, 5 Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Masih Dirawat di RS

Meeting Results – Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, saat ini masih ada lima korban kecelakaan kereta api di Bekasi Timur yang terus menjalani pengobatan. Peristiwa ini telah berlangsung hampir sebulan, namun kondisi korban belum membaik sepenuhnya. Budi menjelaskan bahwa para korban tersebut tersebar di empat institusi medis yang berbeda. Sementara korban-korban lain yang sebelumnya dirawat di rumah sakit telah kembali ke tempat tinggalnya.

“Lima orang korban masih menjalani perawatan di berbagai rumah sakit. Rincian distribusi mereka adalah dua orang di RS Primaya Bekasi Timur, satu di RSUD Kabupaten Bekasi, satu di RS Primaya Bekasi Barat, dan satu di Eka Hospital Harapan Indah,” ujarnya.

Kecelakaan yang menewaskan belasan orang ini memicu kekacauan di sekitar Stasiun Bekasi. Dudy Purwagandhi, Menteri Perhubungan, menjelaskan bahwa insiden tersebut dimulai dari adanya taksi hijau yang mogok di perlintasan sebidang. Menurut Dudy, situasi ini berpotensi menyebabkan kecelakaan besar karena adanya kepadatan lalu lintas kereta api dan jumlah penumpang yang signifikan.

Kronologi Lengkap Kecelakaan

Kronologi kecelakaan antara kereta rel listrik (KRL) dan kereta api Argo Bromo Anggrek (KA Argo Bromo Anggrek) di Stasiun Bekasi Timur telah dijelaskan secara rinci oleh Dudy Purwagandhi selama rapat kerja dengan Komisi V DPR RI, Kamis (21/5/2026). Dudy juga memperlihatkan video ilustrasi kejadian tersebut, yang terjadi pada Senin (27/4/2026) lalu, sebagai referensi visual bagi para pejabat dan masyarakat.

Dalam kronologi lengkapnya, Dudy menyebutkan bahwa kejadian dimulai sejak KRL 5568A tiba di Stasiun Bekasi lebih awal satu menit dari jadwal. Selanjutnya, KA Commuter Line 5568A tiba di lokasi yang sama dengan keterlambatan lima menit. “KRL 5568A diberangkatkan dari Stasiun Bekasi pukul 20.37 dan melintas Stasiun Bekasi Timur pukul 20.39,” jelas Dudy.

Sekitar 14 menit setelah KRL 5568A berangkat, taksi hijau dilaporkan mogok di tengah rel di area Bekasi Timur. Insiden ini berdampak langsung pada perjalanan KRL 5181B relasi Cikarang-Jakarta, yang melintas di waktu yang sama. “KRL 5181B tertemper dengan taksi yang mogok, memicu kerumunan warga di sekitar lokasi,” tambahnya.

Kerumunan tersebut muncul karena banyak orang berhenti untuk melihat situasi kecelakaan. Budi Hermanto menyampaikan bahwa warga mengelilingi area tempat KRL dan taksi berhenti, mengakibatkan gangguan pada arus lalu lintas. “Kereta tersebut sempat berangkat, namun terhenti atau berhenti karena adanya kerumunan di depan untuk melihat kejadian temperan tersebut,” kata dia.

Beberapa menit kemudian, KRL 5568A yang mengarah ke Cikarang tiba di Stasiun Bekasi Timur pukul 20.49 WIB. KRL tersebut terlambat sembilan menit dari jadwal aslinya. Pada saat yang sama, KA Argo Bromo Anggrek melintasi Stasiun Bekasi lebih awal tiga menit. “KA Argo Bromo Anggrek tiba di stasiun tersebut pada pukul 20.51 WIB dengan kecepatan mencapai 108 kilometer per jam,” ujar Dudy.

Kecelakaan terjadi sekitar pukul 20.52 WIB ketika KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL 5568A di sekitar Stasiun Bekasi Timur. “Tumburan antara kedua kereta api terjadi pada jam 20.52 WIB, menyebabkan korban tewas dan luka,” imbuh Dudy.

Dudy Purwagandhi menjelaskan bahwa kecelakaan ini menimbulkan dampak serius. Total korban tewas mencapai 16 orang, sementara 90 penumpang lainnya mengalami luka. Semua korban yang meninggal dan terluka adalah penumpang KRL, sedangkan penumpang KA Argo Bromo Anggrek tidak ada yang terluka. “Kereta api Argo Bromo Anggrek tidak terkena dampak langsung, tetapi kecelakaan ini tetap mengguncang operasional kereta rel listrik,” kata Dudy.

Kecelakaan tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan perjalanan kereta api di kawasan Bekasi. Para ahli transportasi dan masyarakat lokal mengkritik kecepatan KRL yang mencapai 108 kilometer per jam, menyebutnya sebagai faktor utama dalam menimbulkan tabrakan yang mematikan. “Kecepatan kereta tersebut terlalu tinggi saat melintas di area perlintasan sebidang, yang menjadi titik rawan kecelakaan,” ujar Dudy dalam rapat kerja.

Sebagai respons atas insiden tersebut, pihak kepolisian dan petugas medis terus melakukan penyelidikan dan penanganan darurat. Budi Hermanto menyebutkan bahwa investigasi masih berlangsung untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan, termasuk kelayakan perlintasan sebidang dan kepatuhan petugas stasiun terhadap protokol keselamatan. “Kami sedang memeriksa semua faktor, termasuk kondisi taksi dan pergerakan kereta api saat itu,” terangnya.

Korban yang masih dirawat di RS menjadi fokus perhatian pemerintah setempat. Selain itu, Dudy juga menyebutkan bahwa kej