Meeting Results: Kolaborasi Polisi dan TNI Respons Laporan Warga soal PETI, 12 Rakit Dibakar
Table of Contents
Kolaborasi Polisi dan TNI Tangani Laporan PETI, 12 Rakit Dibakar
Meeting Results – Pada rapat anggota tahunan (RAT) Koperasi Timbul Sakato 2025, warga mengungkapkan adanya kegiatan penambangan emas ilegal di lahan perkebunan kelapa sawit. Respons cepat dari Polisi dan TNI menunjukkan komitmen bersama dalam menangani masalah tersebut. Kapolsek Singingi Hilir Iptu Alferdo Krisnata Kaban dan Danramil 09 Singingi Kapten Inf Ardi Yasman hadir untuk memastikan investigasi berjalan optimal.
Peran RAT dalam Mengungkap Praktik Ilegal
Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang berlangsung di Kantor Desa Tanjung Pauh, Kecamatan Singingi Hilir, menjadi wadah penting bagi warga mengemukakan kekhawatiran. Mereka melaporkan bahwa lahan milik koperasi digunakan sebagai lokasi penambangan emas tanpa izin. Laporan ini langsung ditindaklanjuti oleh pihak berwenang, yang menunjukkan koordinasi efektif antara TNI dan Polri.
Langkah Tindakan dalam Pembakaran Rakit PETI
Dalam meeting results kali ini, petugas gabungan Polsek dan Koramil segera melakukan inspeksi di lokasi penambangan ilegal. Setelah menerima laporan, mereka menemukan 12 unit rakit PETI yang terparkir di area tersebut. Rakit yang tidak beroperasi memudahkan tindakan pembakaran sebagai upaya pencegahan penggunaan alat-alat tambang.
“Setelah menerima laporan dari anggota koperasi bahwa lahan perkebunan kelapa sawit mereka digunakan sebagai tempat penambangan emas ilegal, personel Polsek dan Koramil langsung melakukan pemeriksaan ke lokasi,” jelas AKBP Hidayat Perdana dalam keterangannya.
Program Green Policing Polda Riau menjadi fondasi utama dalam meeting results ini. Tindakan cepat oleh TNI-Polri menegaskan prioritas menjaga lingkungan dan keamanan wilayah Kuantan Singingi. Pembakaran rakit PETI bertujuan menghancurkan alat ilegal sambil menunggu investigasi lebih lanjut.
Perluasan aktivitas penambangan emas ilegal menyebabkan gangguan pada produksi pertanian lokal. Laporan dari warga mengenai kerusakan lingkungan dan pencemaran air memicu tindakan tegas dari TNI dan Polri. Hasil meeting results menunjukkan bahwa pengawasan partisipatif antara institusi dan masyarakat sangat efektif dalam mengatasi masalah tersebut.
Koperasi Timbul Sakato, sebagai pengelola lahan pertanian, menjadi korban utama dari praktik ilegal. Pemusnahan 12 rakit PETI dianggap sebagai langkah nyata untuk melindungi kepentingan warga dan menjaga kualitas lingkungan. Respons ini juga menggambarkan sinergi TNI-Polri dalam program penegakan hukum berkelanjutan.
