Berita

Begini Kondisi Akses Rumah Pasutri Lansia di Jaktim yang Ditembok Tetangga

pasangan-lansia-sukirdjo-dan-wiwi-terhalang-akses-jalan-ke-rumah-mereka-akibat-pembangunan-tetangga-1792168196407_169
Foto : David Wilson - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Akses Rumah Lansia di Cipinang Melayu Tertutup Pondasi Bangunan
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Akses Rumah Lansia di Cipinang Melayu Tertutup Pondasi Bangunan

Ceritaberkat.com – Pasangan lansia Sukirdjo dan Wifatmi atau Wiwi menghadapi kesulitan untuk keluar-masuk rumah mereka di Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Jalur pejalan kaki yang selama ini digunakan keluarga tersebut kini tertutup pembangunan di lahan tetangga, sehingga mereka harus melewati pondasi dan material konstruksi.

Rumah Sukirdjo berada di Gang RT 4 RW 2, dengan jarak hampir 100 meter dari Jalan Raya Kalimalang. Kondisi akses itu menjadi persoalan besar karena jalur yang tersisa tidak lagi berupa jalan setapak yang layak dilalui, terutama bagi penghuni lanjut usia.

Jalur Setapak Berubah Menjadi Area Konstruksi

Di depan pintu rumah yang dilengkapi tralis, terdapat pondasi cakar ayam untuk bangunan baru. Jaraknya dari pintu sekitar dua meter. Sebelum pembangunan dimulai, area tersebut merupakan jalan setapak selebar kurang lebih satu meter yang menjadi akses menuju rumah Sukirdjo.

Kini keluarga harus melompati pondasi dengan tinggi hampir 50 sentimeter ketika hendak pergi maupun pulang. Kondisi permukaan juga tidak rata akibat adanya bambu, bata, besi, serta bahan bangunan lain yang tergeletak di sekitar jalur tersebut.

Situasi ini membuat akses harian keluarga menjadi jauh lebih berat. Jalur sempit yang dahulu dapat dilewati pejalan kaki berubah menjadi lintasan penuh hambatan, sementara tidak terlihat adanya jalan keluar lain yang bisa digunakan dengan mudah dari bagian depan rumah.

Tinggal Bersama Suami dan Dua Cucu

Wiwi tinggal di rumah itu bersama Sukirdjo serta dua orang cucu mereka. Ia menyebut telah menetap di kawasan tersebut sejak 1985 dan merasa rumah tersebut telah menjadi tempat tinggal keluarganya selama puluhan tahun.

“Udah di sini, udah berapa puluh tahun nih saya. Udah hampir 60 tahun,” kata Wiwi.

Sukirdjo menjelaskan bahwa lokasi pembangunan sebelumnya terdiri dari tanah kosong dan sebuah warung. Di sisi area itu terdapat jalan setapak yang digunakan sebagai jalur menuju rumahnya sekaligus ke tanah kosong di sekitar bangunan.

Ia menuturkan pemilik lahan terdahulu pernah memberikan akses bagi keluarganya melalui kesepakatan tertulis. Bahkan, terdapat pemberian uang sebagai bagian dari kesepakatan tersebut. Namun, dokumen yang diyakini keluarga sebagai dasar penggunaan jalan itu kini dinilai tidak cukup untuk mempertahankan akses.

“Karena yang punya rumah ini pun lewatnya itu. Cuman untuk memperkuat, kita bikin kayak surat perjanjian gitu, takut ada sesuatu hal yang enggak diinginkan gitu. Cuman itu tadi, setelah kemari-kemari ya itu seperti itu. Artinya kayaknya enggak berlaku nih surat ini gitu. Padahal ada cap jempol dua ibu itu, terus saksi ada, RT ada,” jelas Sukirdjo.

Harapan Agar Jalan Dipulihkan

Bagi Wiwi, persoalan utamanya bukan sekadar keberadaan bangunan baru, melainkan hilangnya jalur untuk mengakses rumah. Ia berharap mediasi dapat menghasilkan solusi agar jalan setapak itu dapat kembali digunakan sebagaimana sebelumnya.

Wiwi juga menyatakan bersedia membongkar dapur yang dipermasalahkan apabila hal itu diperlukan untuk menyelesaikan sengketa. Baginya, akses yang aman jauh lebih penting karena keluarganya kini kesulitan melewati area depan rumah.

“Ya pengen jalan itu, kayak semula aja udah, jalan, udah gitu. Dia mempermasalahkan saya bikin dapur di situ. Kalau dia minta roboh, saya robohin dapur, enggak apa-apa. Katanya saya bikin dapur di situ buat saya ngopi-ngopi. Ya Allah Mas, buat jalan aja susah,” kata Wiwi.

Ia juga pernah mencoba menawarkan pembelian sebagian tanah agar tersedia ruang khusus untuk jalan. Penawaran itu disampaikan ketika pemilik tanah datang bersama saudaranya dan menyampaikan rencana pembangunan. Namun, tawaran tersebut tidak memperoleh jawaban.

“Dia kan datang ke sini tuh berdua sama kakaknya. ‘Nek, maaf mau bangun’ katanya. ‘Mau ini.’ ‘Ya udah sih kalau kamu mau bangun, yang penting saya kasih jalan. Kalau kamu enggak kasih jalan, saya beli deh,’ saya bilang gitu. Enggak ada respon,” jelasnya.

Mediasi Belum Membawa Kesepakatan

Pada Jumat, 16 Oktober 2026, Sukirdjo dan pihak pemilik tanah menjalani mediasi yang melibatkan kelurahan, pengurus RT dan RW, serta tokoh masyarakat. Pertemuan tersebut belum menghasilkan titik temu bagi kedua pihak.

Salah satu opsi yang muncul adalah membuat akses melalui belakang rumah Sukirdjo. Akan tetapi, area tersebut telah menjadi milik tetangga lain. Pemilik lahan di belakang tidak memberikan izin untuk menjadikannya jalur keluar-masuk.

“Permintaannya katanya ada alternatif ke belakang. Terus udah dilihat, kita minta izin, Pak Lurah sendiri yang minta izin ke yang punya, enggak dikasih. Udah, dia katanya udah rembukan sama kakak-kakaknya tujuh orang katanya, enggak dikasih katanya, mau dibangun,” kata Wiwi.

Perkara akses rumah seperti ini menunjukkan pentingnya kejelasan jalur keluar-masuk, terutama di kawasan permukiman padat yang banyak memiliki gang sempit dan bidang tanah berdampingan. Bagi keluarga Sukirdjo, penyelesaian yang dibutuhkan adalah akses yang dapat digunakan secara aman, bukan sekadar jalur alternatif yang sulit atau tidak tersedia.

Hingga mediasi berlangsung, keluarga lansia tersebut masih harus menghadapi pondasi dan tumpukan bahan bangunan setiap kali meninggalkan atau kembali ke rumah. Mereka berharap pembicaraan lanjutan dapat membuka jalan keluar yang memungkinkan akses rumah kembali tersedia.

Frequently Asked Questions

What is Begini Kondisi Akses Rumah Pasutri Lansia?

Begini Kondisi Akses Rumah Pasutri Lansia is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Begini Kondisi Akses Rumah Pasutri Lansia matter?

Begini Kondisi Akses Rumah Pasutri Lansia matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.