Berita

Seharian Susuri Kota Jakarta, Ini Kuliner yang Bisa Dicoba dari Pagi-Malam

seharian-keliling-jakarta-ini-kuliner-yang-wajib-dicoba-dari-pagi-malam-1788932719487_169
Foto : Michael Anderson - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Satu Hari di Jakarta: Menyusuri Jejak Budaya Lewat Piring
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Satu Hari di Jakarta: Menyusuri Jejak Budaya Lewat Piring

Ceritaberkat.com – Kota terbesar di Asia Tenggara ini kerap dikenali lewat siluet gedung pencakar langit, deretan museum, atau pusat perbelanjaan megah. Namun ada dimensi lain yang jauh lebih intim dan tak lekang oleh waktu: piring-piring yang tersaji dari fajar hingga larut malam. Setiap suapan menyimpan lapisan sejarah—percampuran tradisi Betawi, sentuhan Melayu, warisan Arab, pengaruh Tionghoa, sentuhan Jawa, hingga jejak era kolonial yang membentuk lanskap rasa ibu kota secara unik.

Bagi pelancong yang datang dari luar negeri atau dari kota-kota lain di dalam negeri, daftar kuliner viral di media sosial hanyalah permukaan. Di baliknya tersimpan hidangan-hidangan yang merekam perjalanan panjang identitas kota, dari dapur rumah tangga Betawi hingga warung pinggir jalan yang bertahan puluhan tahun.

“Bagi wisatawan dari luar Jakarta bahkan mancanegara, berburu kuliner di ibu kota sebaiknya tidak berhenti pada makanan yang sedang populer. Yang lebih menarik adalah menyusuri hidangan yang merekam perjalanan kota—dari tradisi Betawi, pengaruh Tionghoa, hingga budaya makan malam yang membuat Jakarta tetap hidup setelah matahari terbenam,” ujar Lucky Wulandari, Kepala Bidang Pemasaran dan Atraksi Disparekraf DKI Jakarta, dalam keterangan tertulis pada Rabu (9/9/2026).

Pernyataan Lucky menegaskan satu hal: gastronomi Jakarta bukan sekadar soal rasa, melainkan juga soal membaca arsip budaya yang tersimpan dalam bumbu, teknik memasak, dan tata cara penyajian. Menyantap hidangan khas ibu kota berarti mengikuti jejak migrasi, perdagangan, dan akulturasi yang berlangsung selama berabad-abad di kawasan pesisir utara Jawa.

Fajar: Bubur Ase dan Nasi Uduk sebagai Pembuka Hari

Jam 06.00 pagi, ketika sebagian warga Jakarta baru saja meninggalkan tempat tidur, sebuah kedai kecil di Jalan Kebon Melati, Tanah Abang, sudah mengepul aroma kuah gelap. Bubur Ase Cik Lis menyajikan nasi yang direbus bersama kuah semur atau kuah ase berwarna pekat, ditemani kentang, tahu, potongan daging atau jeroan, serta pelengkap khas Betawi. Olahan ini nyaris tidak ditemukan di luar komunitas Betawi, sehingga kedai yang beroperasi hanya dari pukul 06.00 hingga 09.00 WIB menjadi tujuan khusus bagi mereka yang ingin menyelamatkan satu warisan rasa yang kian langka.

Langkah berikutnya membawa pelancong ke Kebon Kacang, masih di kawasan Tanah Abang, untuk mencicipi Nasi Uduk Zainal Fanani. Kedai ini telah berdiri sejak tahun 1967 dan menjadi salah satu ikon kuliner paling tua di ibu kota. Nasi yang dimasak dengan santan serta rempah-rempah menghasilkan aroma yang langsung menggoda indra penciuman. Porsinya dirancang agar pengunjung dapat meracik sendiri kombinasi lauk: ayam goreng, empal, paru, babat, sate udang, tahu, hingga tempe.

Giovanni A, seorang penikmat kuliner asal Bandung yang kebetulan singgah di Jakarta, mengaku terpikat oleh keharuman dan kelezatan nasi uduk yang dipadukan ayam goreng. Meski demikian, ia mencatat bahwa ukuran porsi terasa kecil dan racikan sambalnya belum cukup tajam untuk menemani santapannya.

Siang: Keragaman Rasa di Menteng dan Setiabudi

Menjelang tengah hari, agenda bergeser ke kawasan Menteng. Gado-Gado Bon Bin menyajikan versi Jakarta dari hidangan sayuran rebus yang telah bertahan sekitar enam dekade. Sayuran, tahu, tempe, kentang, telur, dan lontong bertemu dengan saus kacang mede yang menjadi pusat seluruh rasa. Karakter saus ini membedakan gado-gado Jakarta dari varian di kota-kota lain, menjadikannya penanda identitas kuliner tersendiri.

Dari Menteng, langkah berikutnya mengarah ke Jalan Padang Panjang, Pasar Manggis, Setiabudi, Jakarta Selatan. Di sanalah Soto Betawi Haji Husen menyuguhkan karakter paling kuat dari tradisi Betawi: daging dan jeroan melimpah yang disiram kuah santan kaya rempah. Suasana warung yang sederhana dan ramai membuat pengalaman menyantap hidangan ini terasa seperti bagian dari keseharian warga lokal, bukan sekadar wisata kuliner formal.

“Kombinasi daging yang empuk, kejelian mengolah jeroan hingga tidak berbau, serta tambahan paru goreng yang gurih renyah,” puji Bram Hendro, wisatawan asal Yogyakarta, setelah menyantap soto Betawi di kedai tersebut.

Soto Betawi sendiri telah lama diakui sebagai salah satu warisan kuliner paling ikonik di Jakarta. Kuah santan yang kental, rempah yang kompleks, serta isian daging yang melimpah mencerminkan kemakmuran sosial-ekonomi masyarakat Betawi pada masa lalu, ketika penyajian makanan dalam porsi besar menjadi simbol keramahan dan status sosial.

Sore: Pasar, Jajanan, dan Penutup yang Segar

Jika masih tersisa ruang di perut, jeda setelah hidangan berkuah pekat dapat diisi dengan Asinan Betawi H. Mansyur Kamboja di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Kombinasi sayuran dan tahu yang berpadu dalam kuah kacang beraroma asam, manis, dan pedas berfungsi sebagai penyeimbang lidah setelah terpapar santan dan rempah berat. Kesegaran sajian ini menjadikannya penutup jeda yang tepat sebelum melanjutkan petualangan rasa.

Agen sore kemudian mengarah ke kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, tempat Bakmi Gang Kelinci telah menjadi simbol identitas kuliner ibu kota selama puluhan tahun. Mie yang digoreng dengan telur, sayuran, dan taburan keruping ini membuktikan bahwa warisan kuliner Jakarta tidak hanya hidup di dapur rumah tangga Betawi, tetapi juga di pinggir jalan, di antara hiruk-pikuk pasar tradisional yang masih bertahan di tengah laju urbanisasi.

Menyusuri seluruh rangkaian hidangan ini dalam satu hari bukan sekadar aktivitas mengisi perut. Ia merupakan bentuk literasi budaya yang jarang ditawarkan oleh panduan wisata konvensional. Setiap kuah, setiap racikan bumbu, dan setiap teknik memasak menyimpan narasi tentang siapa yang datang, siapa yang menetap, dan bagaimana mereka beradaptasi di tanah pesisir yang menjadi ibu kota republik. Jakarta, melalui piringnya, bercerita tentang dirinya sendiri—tanpa perlu kata-kata.

Frequently Asked Questions

What is Seharian Susuri Kota Jakarta Ini Kuliner?

Seharian Susuri Kota Jakarta Ini Kuliner is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Seharian Susuri Kota Jakarta Ini Kuliner matter?

Seharian Susuri Kota Jakarta Ini Kuliner matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.