Berita

Abu Anak Krakatau Masih Terasa, Kenneth DPRD DKI Bagikan 100 Dus Masker Gratis

anggota-dprd-dki-jakarta-hardiyanto-kenneth-di-wawancara-awak-media-pada-saat-membagikan-masker-gratis-di-latumenten-jakarta-b-1788888608510_169
Foto : William Martinez - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Abu Anak Krakatau Masih Terasa, Legislator DKI Bagikan Masker
  2. Related Reading

Abu Anak Krakatau Masih Terasa, Legislator DKI Bagikan Masker

Ceritaberkat.com – Sejak partikel abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tersapu angin menuju Jakarta pada Minggu, 6 September 2026, kondisi udara ibu kota belum kembali normal. Fenomena yang sering disebut warga sebagai abu Anak Krakatau masih terasa ini berdampak langsung pada pengendara motor, pejalan kaki, dan pekerja lapangan yang terpapar partikel halus setiap hari. Saluran pernapasan serta mata menjadi organ paling rentan terhadap paparan berkepanjangan.

Menjawab kondisi tersebut, Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth bersama jajaran Kecamatan Grogol Petamburan menggelar distribusi masker gratis pada Selasa, 8 September 2026. Titik pembagian berada di kawasan Jalan Latumenten, Jakarta Barat, berdekatan dengan Rumah Sakit Soeharto Heerdjan. Ratusan warga yang melintas mendapat masker tanpa biaya.

Mitigasi Lapangan, Bukan Gestur Politik

Kent—sapaan akrab politisi PDI Perjuangan sekaligus Kepala BAGUNA DPD PDIP DKI Jakarta—menegaskan bahwa aksi ini merupakan langkah mitigasi konkret, bukan sekadar simbolisme. Ia menyebut bahwa abu Anak Krakatau masih terasa di udara ibu kota dan menuntut respons cepat dari seluruh lapisan pemerintah daerah.

“Kami melihat adanya paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau yang belum sepenuhnya menghilang. Jadi sebagai langkah antisipasi, saya melakukan kegiatan pembagian masker gratis,” ujar Kent.

Distribusi di Latumenten juga merupakan implementasi langsung dari instruksi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, yang sebelumnya memerintahkan kecamatan dan kelurahan untuk turut membagikan masker kepada warga terdampak. Dengan demikian, aksi Kent menjadi salah satu titik eksekusi dari kebijakan provinsi yang diturunkan ke level kelurahan.

100 Dus Masker Dibagikan Tanpa Sisa

Stok yang disiapkan mencapai 100 dus masker—setara ribuan lembar satuan—dan seluruhnya habis dibagikan kepada pengendara serta pejalan kaki yang berhenti di titik distribusi.

“Saya siapkan 100 dus masker pada hari ini. Kami bagikan semua sampai habis kepada semua pengendara dan pejalan kaki yang melintas,” tuturnya.

Selain distribusi, Kent turut menyuarakan imbauan kepada pedagang agar tidak memanfaatkan situasi darurat untuk menaikkan harga secara tidak proporsional. Ia meminta agar margin keuntungan disesuaikan dengan batas wajar sesuai arahan gubernur.

“Saya juga berpesan kepada penjual masker untuk tak menaikkan harga semaunya. Harus disesuaikan dengan batas margin yang wajar sesuai arahan Pak Gubernur,” katanya.

Kent memastikan kegiatan serupa akan berlanjut secara berkala selama abu Anak Krakatau masih terasa di wilayah Jakarta. Apabila kondisi memburuk, jumlah titik distribusi akan diperluas ke kawasan padat aktivitas luar ruang. Ia juga membuka kanal komunikasi langsung melalui media sosial bagi warga yang kesulitan memperoleh masker karena lonjakan harga atau kelangkaan stok.

“Bagi masyarakat DKI Jakarta yang sulit untuk mendapatkan masker atau merasa harganya terlalu mahal, silakan kontak saya melalui media sosial saya. Jangan malu dan jangan ragu, kami sebagai wakil rakyat dan pemerintah wajib memperhatikan kesehatan warga. Akan saya bagikan secara cuma-cuma,” pungkasnya.

Respons Warga di Lapangan

Geni, pengemudi ojek asal Kalideres, mengaku kenaikan harga masker sejak sebaran abu membuatnya kesulitan membeli perlengkapan pelindung. Penghasilan pas-pasan tidak mampu menanggung lonjakan harga tersebut.

“Harga masker naik semenjak ada abu vulkanik kemarin. Uang saya pas-pasan untuk membeli masker. Alhamdulillah dapat masker gratis, setidaknya saya bisa aman dari debu saat ngojek di jalan,” ucap Genis.

Perasaan serupa diungkapkan Annis, warga Jelambar, yang menyebut harga masker di toko sekitar melonjak hingga dua kali lipat dari harga normal sebelum erupsi. Bagi pekerja yang berjam-jam berada di luar ruangan, kenaikan semacam itu berarti beban ekonomi tambahan yang tidak terduga.

FAQ: Abu Anak Krakatau dan Masker di Jakarta

Apakah sebaran abu Anak Krakatau masih terasa di Jakarta? Ya. Hingga pertengahan September 2026, partikel abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau masih terdeteksi di udara ibu kota dan mengendap di permukaan jalan, terutama di kawasan padat lalu lintas.

Di mana warga bisa memperoleh masker gratis? Distribusi dilakukan oleh kecamatan dan kelurahan sesuai instruksi Gubernur DKI Jakarta. Titik-titik tambahan dapat diumumkan melalui kanal media sosial DPRD DKI maupun akun resmi kelurahan setempat.

Apakah harga masker yang melonjak wajar? Legislator DKI meminta pedagang menjaga margin keuntungan pada batas wajar. Warga yang merasa harga tidak wajar dapat menghubungi wakil rakyat melalui media sosial untuk memperoleh masker secara cuma-cuma.