Berita

Zulhas Dorong Percepat Pengolahan Sampah Jadi Listrik di 40 Kota

Foto : John Anderson - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Indonesia Percepat Konversi Sampah Menjadi Energi Listrik di 40 Kota, Target Rampung 2027–2028
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Indonesia Percepat Konversi Sampah Menjadi Energi Listrik di 40 Kota, Target Rampung 2027–2028

Ceritaberkat.com – Gunungan sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sejumlah kota besar telah menjadi persoalan struktural yang sulit diurai selama bertahun-tahun. Kota-kota dengan produksi limbah harian melampaui 1.000 ton menghadapi tekanan lingkungan yang kian berat: lahan TPA menipis, emisi metana meningkat, dan pencemaran air tanah mengancam kesehatan warga sekitar. Menyadari urgensi tersebut, pemerintah kini mengakselerasi pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di 40 kota yang dikategorikan sebagai daerah darurat sampah. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa seluruh proyek tersebut ditargetkan beroperasi penuh pada rentang waktu 2027 hingga 2028.

Keputusan ini menandai pergeseran kebijakan yang signifikan. Selama lebih dari satu dekade, regulasi yang tumpang-tindih membuat perizinan pembangunan PSEL nyaris mandek. Zulhas mengakui bahwa dalam kurun 11 tahun sebelumnya, hanya dua izin yang berhasil diterbitkan. Kini, melalui penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) yang menyatukan kerangka hukum, hambatan birokrasi tersebut diharapkan dapat diatasi secara sistematis.

“Yang darurat dan besar-besar, di atas 1.000 ton, kita akan buat PSEL atau Waste-to-Energy. Dulu 11 tahun cuma dua izin yang keluar, sekarang kita rapikan melalui Perpres. Alhamdulillah, kita targetkan selesai di 2027-2028 untuk 40 kota darurat sampah,” ujar Zulhas dalam Program #ZulhasBikinJelas bersama detikcom.

Mekanisme dan Manfaat Teknologi Waste-to-Energy

PSEL atau Waste-to-Energy merupakan teknologi yang mengonversi limbah padat menjadi energi listrik melalui proses termokimia, mekanokimia, atau biokimia. Dalam konteks Indonesia, teknologi ini tidak sekadar mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, tetapi juga menghasilkan pasokan listrik yang dapat disalurkan ke jaringan lokal. Dengan demikian, setiap ton sampah yang diproses berpotensi menghasilkan daya setara kebutuhan listrik ribuan rumah tangga, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca yang biasanya dilepaskan dari pembusukan anaerobik di landfill terbuka.

Prioritas pembangunan difokuskan pada kawasan dengan volume limbah harian di atas 1.000 ton. Angka tersebut mencerminkan skala produksi sampah metropolitan yang telah melampaui kapasitas pengelolaan konvensional. Tanpa intervensi teknologi konversi energi, TPA di kota-kota tersebut akan mencapai batas kapasitas dalam waktu singkat, memicu krisis lingkungan yang lebih luas.

Skema Pengolahan Mandiri di Sektor Publik dan Komersial

Di luar pembangunan PSEL skala besar, pemerintah juga merancang skema pengolahan sampah mandiri untuk sektor perkantoran, pasar tradisional, dan pusat perbelanjaan. Pendekatan ini bertujuan memangkas beban TPA sejak dari hulu rantai pengelolaan. Dengan mengolah limbah di titik asal, volume sampah yang harus diangkut ke fasilitas terpusat dapat ditekan secara substansial, sekaligus mengurangi biaya transportasi dan risiko pencemaran selama proses pengangkutan.

Zulhas menekankan bahwa pengolahan sejak dari sumber merupakan komponen krusial dalam strategi pengelolaan limbah nasional. Tanpa langkah ini, fasilitas PSEL sekalipun tidak akan mampu menampung seluruh aliran sampah yang terus bertambah seiring pertumbuhan populasi urban dan konsumsi.

Target Nasional: 70–80 Persen Masalah Sampah Terurai pada 2029

Percepatan pembangunan PSEL merupakan salah satu pilar dari target lebih luas yang ditetapkan pemerintah: penyelesaian sekitar 70 hingga 80 persen persoalan sampah nasional pada tahun 2029. Zulhas menyatakan bahwa pencapaian ambisi ini tidak semata-mata bergantung pada infrastruktur pengolahan, melainkan juga menuntut perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.

“Kita akan selesaikan sampai tahun 2029, mudah-mudahan 70-80 persen soal sampah selesai. Tinggal 20 persen sisanya itu di tingkat rumah tangga yang memang memerlukan waktu dan edukasi lebih banyak,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pemilahan antara sampah organik dan anorganik perlu diperkuat di berbagai lingkungan, mulai dari perkantoran, institusi pendidikan, hingga pasar. Ketika pemilahan berjalan konsisten, fraksi sampah yang benar-benar memerlukan pengolahan lanjutan menjadi jauh lebih kecil, sehingga beban operasional TPA dan fasilitas PSEL dapat ditekan secara signifikan.

Tantangan di Tingkat Rumah Tangga

Walaupun percepatan pembangunan infrastruktur pengolahan terus digas, Zulhas menilai bahwa pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga tetap menjadi segmen paling sulit dan membutuhkan waktu serta edukasi yang lebih panjang. Perubahan kebiasaan memilah sampah tidak dapat dicapai dalam semalam; ia memerlukan kampanye berkelanjutan, insentif ekonomi, serta penegakan regulasi yang konsisten di tingkat daerah.

“Tinggal 20 persen itu rumah tangga, itu perlu waktu lebih banyak. Kuncinya sebetulnya ada di pemilahan. Sekarang kan sampah semua dicampur dan dibawa, makanya muncul gunungan sampah dan bikin masalah baru,” pungkasnya.

Sampah yang tercampur sejak awal—organik bercampur plastik, logam, dan bahan kimia—memperumit proses pemisahan di fasilitas pengolahan, menurunkan efisiensi konversi energi, dan berpotensi menghasilkan residu berbahaya. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong pembentukan budaya pemilahan dari tingkat rumah tangga sebagai bagian dari strategi jangka panjang agar pengelolaan limbah berjalan lebih efektif, ekonomis, dan berkelanjutan.

Dengan kombinasi percepatan pembangunan PSEL di 40 kota, penguatan pemilahan dari sumber, serta skema pengolahan mandiri di sektor komersial dan publik, pemerintah berharap target penyelesaian persoalan sampah nasional pada 2029 dapat tercapai secara bertahap. Keberhasilan strategi ini akan menjadi penentu apakah Indonesia mampu keluar dari krisis limbah urban yang telah berlangsung puluhan tahun, atau justru terus terjebak dalam siklus penumpukan yang mengancam kesehatan publik dan lingkungan.

Frequently Asked Questions

What is Zulhas Dorong Percepat Pengolahan Sampah Jadi?

Zulhas Dorong Percepat Pengolahan Sampah Jadi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Zulhas Dorong Percepat Pengolahan Sampah Jadi matter?

Zulhas Dorong Percepat Pengolahan Sampah Jadi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.