Pulihkan Hubungan, Presiden Terpilih Kolombia Mau Buka Kedubes di Yerusalem
Table of Contents
De la Espriella Inisiatif Pulihkan Hubungan Presiden Terpilih Kolombia dengan Israel Lewat Kedubes Yerusalem
Pulihkan Hubungan Presiden Terpilih Kolombia Mau Buka – Sebagai bagian dari agenda diplomasi barunya, Pulihkan Hubungan Presiden Terpilih Kolombia telah mengumumkan rencana ambisius untuk membuka kembali kedutaan besar di Yerusalem. Abelardo de la Espriella, kandidat sayap kanan yang baru saja memenangkan pemilihan presiden putaran kedua, melihat langkah ini sebagai kunci untuk memperbaiki hubungan bilateral yang sempat memburuk. Kemenangannya dengan selisih tipis kurang dari satu persen dari total suara memberikan mandat kuat untuk mengubah arah kebijakan luar negeri negara tersebut. De la Espriella juga berkomitmen untuk membentuk aliansi militer yang lebih erat dengan Amerika Serikat dan Israel dalam menangani kelompok bersenjata di wilayah Kolombia.
Sejarah Pemutusan Hubungan Diplomatik
Pergeseran kebijakan ini berawal dari keputusan Presiden Gustavo Petro pada tahun 2024 yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Langkah kontroversial tersebut diambil sebagai respons langsung terhadap serangan militer Israel di Jalur Gaza. Sebagai salah satu mitra keamanan utama Kolombia, Israel memainkan peran penting dalam urusan pertahanan regional. Petro, yang beraliran kiri, tidak hanya memutuskan hubungan diplomatik tetapi juga menghentikan ekspor batubara ke Israel serta menghentikan impor senjata dari negara tersebut. Ia bahkan mendukung kasus genosida yang diajukan Afrika Selatan di Mahkamah Internasional. Selain itu, Petro pernah menyatakan niatnya untuk membuka misi diplomatik di Ramallah, Tepi Barat, namun proyek tersebut tidak pernah terwujud hingga akhir masa pemerintahannya.
Transisi Kekuasaan dan Komitmen Baru
De la Espriella, yang mendapat dukungan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dijadwalkan akan resmi menjabat pada tanggal 7 Agustus mendatang. Kantor presidennya telah menyatakan bahwa pemerintahan yang akan datang sedang melanjutkan proses pembukaan Kedutaan Besar Kolombia di Yerusalem. Israel secara resmi menganggap Yerusalem, termasuk bagian timur yang diduduki, sebagai ibu kota negara tersebut. Namun, pengakuan ini belum diterima secara internasional. Sebagian besar negara masih menjalankan misi diplomatik mereka dari Tel Aviv. Sebelumnya, Amerika Serikat telah memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem pada tahun 2018 selama masa jabatan pertama Donald Trump.
“Hubungan historis yang secara sepihak diputus oleh pemerintahan Petro akan diperkuat kembali,” bunyi pernyataan resmi yang dikeluarkan setelah pertemuan antara kedua menteri luar negeri.
Langkah Konkret Pemulihan Hubungan
Selain rencana pembukaan kedutaan di Yerusalem, Kolombia juga akan menarik dukungannya terhadap kasus yang diajukan Afrika Selatan di Mahkamah Internasional. Langkah ini menunjukkan pergeseran kebijakan luar negeri yang signifikan di bawah kepemimpinan baru. Menteri Luar Negeri yang baru ditunjuk, Omar Bula, pada hari Rabu, 15 Juli, mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, di Washington. Dalam pertemuan tersebut, kedua menteri menyepakati peta jalan untuk memulihkan hubungan diplomatik secara menyeluruh. Salah satu poin penting dalam kesepakatan ini adalah penghapusan visa perjalanan antara kedua negara.
Perubahan kebijakan ini mencerminkan orientasi baru Kolombia dalam hubungan internasional. Dengan memulihkan hubungan dengan Israel dan menarik dukungan terhadap kasus ICJ, de la Espriella menunjukkan komitmen untuk memperkuat posisi Kolombia di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah. Langkah-langkah ini diharapkan dapat membuka babak baru dalam kerja sama ekonomi, keamanan, dan politik antara kedua negara yang memiliki sejarah hubungan panjang.
