New Policy: Presiden Brasil Kritik Tarif 20% Trump di Hormuz: Pembajakan!

Brasilia Mengutuk Kebijakan Tarif Trump: “Ini Bentuk Pembajakan Modern”

New Policy – Pemerintah Brasil melalui Presiden Luiz Inacio Lula da Silva menyampaikan penolakan tegas terhadap rencana Washington yang akan memberlakukan pungutan sebesar dua puluh persen bagi setiap kapal yang melewati jalur perairan strategis Selat Hormuz. Langkah ini dinilai oleh pemimpin Brasil sebagai tindakan yang tidak wajar dari negara adidaya tersebut. Dalam orasi yang dibawakan di kota Sao Paulo pada hari Senin tanggal tiga belas Juli dua ribu dua puluh enam, Lula tidak ragu menyebut kebijakan baru ini sebagai bentuk pembajakan. Menurutnya, istilah tersebut sudah lazim digunakan untuk menggambarkan tindakan mengambil hak orang lain secara paksa.

“Dulu, itu disebut pembajakan,” tegas Lula dalam sambutannya.

Pemimpin Brasil tersebut melanjutkan kritiknya dengan menyoroti ironi situasi saat ini. Amerika Serikat, menurutnya, telah lama dikenal sebagai negara yang aktif memerangi praktik perompakan di laut. Namun kini, justru AS sendiri yang bertindak seperti bajak laut dengan membebankan biaya tambahan kepada kapal-kapal internasional.

“Negara besar seperti Amerika Serikat, yang saya yakini telah lama memerangi pembajakan, tidak bisa menjadi bajak laut sendiri sekarang,” imbuhnya.

Pernyataan Lula ini kemudian dilaporkan oleh kantor berita AFP pada hari Selasa tanggal empat belas Juli dua ribu dua puluh enam.

Reaksi Internasional Terhadap New Policy

Sementara itu, di sisi lain dunia, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memanfaatkan momen ini untuk menegaskan kembali posisi negaranya. Ia menyatakan bahwa Iran memiliki peran fundamental dalam memastikan keamanan navigasi maritim di wilayah Selat Hormuz. Araghchi tidak ketinggalan memberikan sindiran halus kepada Presiden Trump melalui akun media sosial X. Ia menyamakan tindakan AS dengan memberikan imbalan kepada pihak yang sebenarnya sudah melakukan tugasnya.

“POTUS benar sekali. Siapa pun yang menjamin pelayaran aman dan terjamin bagi kapal-kapal komersial di Selat Hormuz patut mendapatkan imbalan atas layanan tersebut,” ucapnya.

Dalam respons panjangnya, Araghchi menekankan bahwa Iran telah lama menjadi penjaga utama jalur perairan tersebut dan akan terus mempertahankan peran tersebut selamanya. Ia menggunakan huruf kapital untuk kata-kata kunci guna memberikan penekanan lebih kuat pada pernyataan tersebut.

“Iran senantiasa menjadi PENJAGA selat ini dan akan tetap demikian SELAMANYA,” tegas Araghchi.

Analisis Dampak New Policy Terhadap Perdagangan Global

Kebijakan tarif yang diusulkan Trump ini tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral antara Amerika Serikat dengan Brasil maupun Iran, tetapi juga memiliki implikasi lebih luas terhadap perdagangan global. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima dari total minyak dunia setiap harinya. Bagi Brasil, kritik Lula mencerminkan kekhawatiran akan dominasi Amerika Serikat dalam mengatur tata kelola laut internasional. Sementara bagi Iran, kesempatan ini digunakan untuk memperkuat narasi bahwa negaralah yang paling layak menerima kompensasi atas kontribusi keamanan yang diberikan. Para pengamat internasional memperkirakan bahwa perkembangan terbaru ini dapat memicu dialog diplomatik intensif antara berbagai negara yang berkepentingan di kawasan Teluk Persia.

“Tarif 20 persen tentu saja terlalu tinggi. Kami akan bersikap adil,” imbuh Menlu Iran itu.

Posisi Brasil dalam New Policy Trump

Sebagai salah satu negara berkembang terbesar di dunia, Brasil memiliki kepentingan strategis dalam menjaga stabilitas jalur perdagangan maritim. Presiden Lula menekankan bahwa New Policy yang diterapkan AS dapat mengganggu keseimbangan ekonomi global. Brasil, sebagai eksportir komoditas utama, sangat bergantung pada kelancaran pengiriman barang melalui Selat Hormuz. Jika tarif yang diusulkan benar-benar diterapkan, biaya logistik akan meningkat secara signifikan. Hal ini tentu akan berdampak pada harga komoditas di pasar internasional. Selain itu, Brasil juga khawatir bahwa kebijakan ini dapat menjadi preseden bagi negara-negara lain untuk memberlakukan pungutan serupa di jalur perairan strategis lainnya.

“Kami tidak bisa membiarkan praktik ini berlanjut tanpa perlawanan,” ujar Lula.

Prospek Ke Depan dan Resolusi Diplomatik

Para ahli hubungan internasional menilai bahwa New Policy Trump ini akan menjadi topik hangat dalam pertemuan-pertemuan diplomatik mendatang. Brasil dan Iran kemungkinan akan membentuk aliansi informal untuk menentang kebijakan tersebut. Selain itu, negara-negara Eropa yang juga bergantung pada impor minyak melalui Selat Hormuz dapat bergabung dalam upaya penolakan. Proses negosiasi mungkin memerlukan waktu beberapa bulan sebelum tercapai kesepakatan yang memuaskan semua pihak. Sementara itu, pasar minyak dunia menunjukkan volatilitas yang meningkat seiring dengan ketidakpastian kebijakan baru ini. Investor dan trader minyak terus memantau perkembangan situasi dengan cermat.

“Kestabilan Selat Hormuz adalah kepentingan bersama seluruh komunitas internasional,” tegas seorang diplomat Brasil.

Kesimpulan: New Policy dan Masa Depan Perdagangan Maritim

Kritik keras dari Brasil dan Iran terhadap New Policy Trump menunjukkan adanya ketegangan dalam hubungan internasional. Kebijakan tarif dua puluh persen yang diusulkan ini tidak hanya menyangkut aspek ekonomi, tetapi juga menyangkut prinsip keadilan dalam tata kelola laut global. Brasil dan Iran, meskipun memiliki perbedaan kepentingan historis, menemukan kesamaan dalam menentang kebijakan AS. Masyarakat internasional kini menunggu respons resmi dari Washington terhadap kritik-kritik tersebut. Apakah New Policy ini akan tetap dipertahankan atau dimodifikasi sesuai masukan dari negara-negara terdampak? Pertanyaan ini akan menentukan arah kebijakan luar negeri AS ke depan. Sementara itu, para pelaku industri maritim bersiap menghadapi kemungkinan peningkatan biaya operasional jika kebijakan ini benar-benar diimplementasikan.