Key Discussion: Umumkan Gencatan Senjata Berakhir, Trump Sebut Pemerintah Iran ‘Sampah’
Table of Contents
Trump: Gencatan Senjata Iran Berakhir, Pemerintah ‘Sampah’
Key Discussion – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengumumkan bahwa perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati bersama Iran telah “berakhir”. Dalam pernyataannya, Trump tidak ragu untuk mengecam keras pemerintahan Iran dengan menyebut mereka sebagai “sampah” dan “gila”. Pernyataan ini muncul setelah kedua negara kembali melakukan serangan timbal balik satu sama lain. Key Discussion menyoroti perkembangan terbaru dalam hubungan diplomatik antara kedua negara yang sempat memanas.
Menjelang penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Turki, Trump menyampaikan bahwa para negosiator Amerika Serikat masih dapat melanjutkan pembicaraan jika pihak Iran menghendaki. Namun, menurut Trump, langkah tersebut dinilai sebagai “buang-buang waktu” belaka. Key Discussion mencatat bahwa situasi ini menjadi titik balik penting dalam kebijakan luar negeri AS terhadap Iran.
“Saya pikir ini sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Mereka itu sampah… mereka dipimpin oleh orang-orang yang sakit dan mereka adalah orang-orang yang kejam serta penuh kekerasan,” kata Trump.
“Kami membuat kesepakatan. Mereka [Iran] keluar, berbicara kepada pers, lalu mengatakan, ‘kami bahkan tidak pernah membicarakannya’. Ada yang tidak beres dengan mereka. Mereka gila. Bagi saya, ini sudah berakhir.”
Skala Serangan dan Reaksi Militer
Gelombang serangan terbaru dimulai setelah tiga kapal tanker minyak diserang di Selat Hormuz. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan pada Selasa (07/07) bahwa mereka telah menggempur lebih dari 80 target, termasuk lebih dari 60 kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Key Discussion menyoroti intensitas serangan yang terjadi dalam waktu singkat ini.
Serangan tersebut menghantam sejumlah wilayah, termasuk Bandar Abbas dan Sirik, serta menyebabkan beberapa orang terluka akibat serpihan ledakan, menurut media pemerintah Iran. Pada Rabu (08/07), Iran menyatakan bahwa mereka menargetkan fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan AS tersebut.
Respons Diplomatik dan Ekonomi
Harga minyak melonjak setelah komentar Trump, meskipun masih jauh di bawah level tertinggi yang terjadi saat Selat Hormuz ditutup sepenuhnya. Sebelumnya, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan serangan AS itu “benar-benar diperlukan”, seraya menuduh Iran “pada dasarnya melanggar gencatan senjata” setelah sejumlah kapal menjadi sasaran serangan. Key Discussion mencatat bahwa pasar minyak global merespons dengan signifikan terhadap perkembangan ini.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa justru AS yang melanggar nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) dengan “mengganggu penyesuaian yang dilakukan Iran di Selat Hormuz”. Bulan lalu, Teheran dan Washington menandatangani MoU setebal 14 halaman yang bertujuan memperpanjang gencatan senjata dan mengakhiri konflik “di semua front”. Key Discussion menambahkan bahwa dokumen ini menjadi fondasi penting dalam upaya perdamaian.
Tuduhan Pelanggaran dari Teheran
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh AS melakukan “pelanggaran terang-terangan” terhadap nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) yang ditandatangani kedua negara. Dalam sebuah pernyataan, Araghchi mengatakan serangan AS, pemberlakuan kembali sanksi terhadap penjualan minyak Iran, serta konflik yang masih berlangsung antara Israel dan Hizbullah di Lebanon telah membuat “bagian-bagian penting dan mendasar dari kesepahaman untuk mengakhiri perang menjadi tidak efektif”. Key Discussion menyoroti bagaimana Iran memandang serangkaian tindakan AS sebagai pelanggaran sistematis.
Ia menegaskan bahwa Iran “tidak akan ragu” untuk mempertahankan “keutuhan wilayah, kedaulatan nasional, dan keamanan nasionalnya”. Araghchi juga menyampaikan peringatan kepada negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer AS. Menurutnya, Iran akan “menargetkan sumber dan titik asal” dari setiap serangan yang ditujukan terhadap negaranya.
Konfirmasi Serangan di Wilayah Pesisir
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, yang kemudian direspons Teheran dengan serangan terhadap fasilitas militer AS di kawasan Teluk. Media-media Iran melaporkan bahwa serangan baru terjadi pada Rabu pagi di kota pelabuhan Bushehr, di barat daya negara tersebut. Key Discussion mencatat bahwa wilayah pesisir menjadi salah satu titik konflik utama.
Kantor berita semi-resmi Mehr melaporkan sejumlah ledakan terdengar di Bushehr dan wilayah sekitarnya. Sementara itu, seorang pejabat senior keamanan di Bushehr mengatakan bahwa “proyektil musuh” menghantam dua markas militer, yakni satu di Kabupaten Dashti dan satu lagi di dekat kota Choghadak, menurut laporan kantor berita Fars.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat serangan tersebut. Di sisi lain, beredar laporan mengenai dugaan serangan terhadap Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama yang terletak di lepas pantai Iran. Namun, kantor berita Mehr menyatakan laporan tersebut tidak benar.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, juga menunjukkan kenaikan signifikan setelah aksi saling serang antara AS dan Iran berlangsung intensif dalam beberapa hari terakhir. Key Discussion menyimpulkan bahwa situasi ini masih terus berkembang dan perlu dipantau secara ketat oleh komunitas internasional.
