Berita

Wakil Panglima OPM Ditangkap di Maybrat, Nyatakan Kembali ke NKRI

tni-menangkap-zakarias-fatem-wakil-panglima-opm-di-papua-barat-daya-1792063782346_169
Foto : John Anderson - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Zakarias Fatem Ditangkap di Maybrat dan Menyatakan Kembali ke NKRI
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Zakarias Fatem Ditangkap di Maybrat dan Menyatakan Kembali ke NKRI

Ceritaberkat.com – Seorang tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah Sorong Raya, Zakarias Fatem, ditangkap oleh TNI di Distrik Aifat Timur, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, pada Rabu, 14 Oktober 2026. Setelah penangkapan itu, ia menyatakan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta menyerukan anggota dan simpatisan OPM untuk menghentikan aktivitas bersenjata.

Zakarias sebelumnya dikenal sebagai Wakil Panglima OPM Kodap IV Sorong Raya. Perkembangan tersebut disampaikan Komandan Satgas Yonif 9 Marinir, Letkol Marinir Laili Nugroho, pada Rabu, 15 Oktober 2026.

“Wakil panglima Kodap IV OPM Sorong Raya, Zakarias Fatem ditangkap TNI dan menyatakan diri kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Pernyataan kembali ke NKRI itu menjadi bagian penting dari rangkaian situasi keamanan yang terjadi di Maybrat. Dalam keterangannya, Zakarias juga meminta pihak-pihak yang masih menjadi anggota maupun simpatisan OPM agar menyerahkan diri kepada aparat dan meletakkan senjata.

“Zakarias Fatem memerintahkan kepada seluruh anggota dan simpatisan OPM segera menyerahkan diri dan meletakan senjata dan kembali ke pangkuan ibu Pertiwi sebelum TNI mengambil tindakan tegas.”

Ajakan Mengakhiri Aktivitas Bersenjata

Seruan Zakarias menempatkan penyelesaian tanpa kekerasan sebagai pesan utama setelah penangkapannya. Ia mengajak kelompok yang masih berada dalam jaringan OPM untuk mengambil langkah menyerahkan diri, menghentikan penggunaan senjata, dan kembali dalam kehidupan bermasyarakat di bawah NKRI.

Dalam konteks wilayah yang pernah mengalami ketegangan keamanan, ajakan untuk meletakkan senjata memiliki arti langsung bagi warga. Keamanan yang lebih terjaga memberi ruang bagi masyarakat untuk menjalankan kegiatan sehari-hari, termasuk bekerja, beraktivitas bersama keluarga, dan mengakses pelayanan yang tersedia di daerahnya.

Zakarias juga menyampaikan pandangannya mengenai perubahan yang ia lihat pada kondisi ekonomi masyarakat Papua, terutama di kawasan yang disebut sebagai wilayah zero OPM. Pengalaman tersebut, menurutnya, mendorong kesadaran bahwa kesejahteraan warga tidak dibangun melalui tindakan teror.

“Zakarias Fatem mengakui melihat pestanya kemajuan ekonomi masyarakat Papua khusus di wilayah zero OPM. Fakta tersebut menyadarkan dirinya bahwa kemajuan rakyat bukan diraih dengan aksi teror.”

Pernyataan itu menekankan pilihan antara konflik dan kehidupan sosial-ekonomi yang lebih stabil. Kemajuan masyarakat pada dasarnya membutuhkan keadaan yang memungkinkan warga bergerak dengan aman, menjalankan usaha, serta terlibat dalam pembangunan di lingkungannya. Ketegangan bersenjata justru dapat menghambat ruang tersebut karena perhatian masyarakat tersita oleh persoalan keamanan.

Berhubungan dengan Kontak Tembak Sebelumnya

Penangkapan Zakarias terjadi beberapa hari setelah kontak tembak antara Satgas gabungan TNI dan kelompok bersenjata OPM Kodap IV/Sorong Raya. Insiden itu berlangsung pada Jumat, 9 Oktober 2026, di kawasan hutan di sebelah utara Kampung Kamat, Distrik Aifat Timur.

Dalam kontak tembak tersebut, Komandan OPM Manfret Fatem dilaporkan tewas bersama dua anggotanya. Peristiwa di kawasan hutan utara Kampung Kamat itu menjadi latar keamanan sebelum Zakarias diamankan pada 14 Oktober.

Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa Aifat Timur menjadi salah satu wilayah yang terdampak dinamika kelompok bersenjata Kodap IV/Sorong Raya. Bagi masyarakat setempat, perkembangan keamanan seperti ini penting karena aktivitas konflik dapat berpengaruh pada rasa aman warga dan kelancaran kehidupan di sekitar kampung.

Makna Pernyataan Kembali ke NKRI

Pernyataan Zakarias untuk kembali ke NKRI bukan hanya berkaitan dengan status pribadinya setelah ditangkap. Ia juga menyertakan ajakan kepada kelompok yang masih bersenjata agar memilih menyerahkan diri. Pesan itu mengarah pada penghentian konflik serta pengurangan risiko kekerasan di wilayah Papua Barat Daya.

Langkah meletakkan senjata dapat dipahami sebagai upaya untuk menghindari pertemuan bersenjata berikutnya. Situasi aman menjadi kepentingan bersama, khususnya bagi warga yang tinggal dan beraktivitas di daerah yang berdekatan dengan lokasi konflik. Ketika gangguan keamanan berkurang, ruang kehidupan masyarakat dapat berlangsung dengan lebih tenang.

Penangkapan Zakarias Fatem pada 14 Oktober 2026 dan pernyataannya sehari kemudian menambah perkembangan baru dalam penanganan kelompok OPM Kodap IV/Sorong Raya. Bersamaan dengan itu, ajakannya kepada anggota serta simpatisan untuk menyerahkan diri menegaskan pesan agar persoalan tidak diteruskan melalui aksi bersenjata.

Perhatian kini tertuju pada tindak lanjut dari seruan tersebut, terutama bagi pihak-pihak yang masih berada dalam kelompok atau lingkaran simpatisan OPM. Yang jelas, Zakarias menyatakan bahwa kemajuan masyarakat Papua tidak dapat dicapai melalui teror, melainkan melalui kondisi yang memungkinkan rakyat menjalani kehidupan dengan aman dan membangun masa depan mereka.

Frequently Asked Questions

What is Wakil Panglima OPM Ditangkap di Maybrat?

Wakil Panglima OPM Ditangkap di Maybrat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Wakil Panglima OPM Ditangkap di Maybrat matter?

Wakil Panglima OPM Ditangkap di Maybrat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.