Visit Agenda: Lara Ratusan Jiwa Terdampak Kebakaran Tambora
Table of Contents
Lara Ratusan Jiwa Terdampak Kebakaran Tambora
Visit Agenda – Kebakaran besar yang melanda permukiman padat di kawasan Tambora, Jakarta Barat, telah menyisakan luka dalam hati banyak warga. Ribuan jiwa terkena dampak langsung dari musibah ini, yang menyebabkan ratusan rumah dan harta benda terbakar. Saat ini, mereka harus berlindung di posko pengungsian yang disediakan setelah kejadian yang terjadi pada Kamis (28/5) malam, 19.47 WIB, menghanguskan seluruh kepemilikan mereka.
Pemadaman Api Berhasil Berlangsung
Kebakaran yang memicu kepanikan warga itu berlangsung selama sekitar tiga jam sebelum akhirnya dipadamkan. Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Barat mengerahkan 21 mobil pemadam untuk mengendalikan api. Pada pukul 23.32 WIB, api berhasil dikendalikan dan reda, meski mengakibatkan kerusakan luas di sekitar lokasi.
Data Kerusakan dan Korban
Kepala Seksi Operasi Suku Dinas Gulkarmat, Syaiful Kahfi, menjelaskan bahwa 27 rumah tinggal terbakar dalam insiden ini. Dampaknya mencakup 115 kepala keluarga yang terpaksa mengungsi, dengan total korban jiwa yang tercatat mencapai 250 orang. Angka ini menunjukkan besarnya kerugian yang dialami masyarakat.
Pemadaman api tidak hanya menjangkau wilayah perumahan, tetapi juga menghancurkan sebagian besar struktur bangunan. Di lokasi kejadian, Jumat (29/5) pagi, api sudah tidak terlihat lagi. Namun, aroma asap dan sisa-sisa bakar masih menggantung di udara. Beberapa rumah tampak berdiri dengan atap yang runtuh, sementara perabotan dalam bangunan hilang tanding tanpa bekas.
Cerita Dadang: Kehilangan Gerobak dan Harapan Bantuan
Satu dari warga yang terkena musibah adalah Dadang (48), seorang pedagang bakso yang tinggal di Krendang. Dia menceritakan bahwa saat kebakaran terjadi, dirinya sedang beristirahat di dalam kontrakan setelah selesai berdagang. Tiba-tiba terdengar teriakan warga sekitar yang memperingatkan kebakaran. Dadang langsung keluar, tetapi api sudah membesar, membuatnya harus berlari menyelamatkan diri sendiri.
“Saya posisi lagi di dalam kontrakan, lagi istirahat, baru selesai pulang dagang. Terus banyak sebagian warga berteriak kebakaran, saya keluar, dilihat api sudah membesar. Jadi, daripada saya menyelamatkan untuk yang lain, terutama saya menyelamatkan diri sendiri,” katanya saat diwawancara di lokasi kebakaran, Jumat (29/5/2026).
Dadang hanya sempat menyelamatkan satu gerobak baksonya, sementara barang dagangannya tidak sempat diambil. Kerugian yang dialami mencapai Rp 4 juta, terutama dari peralatan seperti piring, kompor, dan pakaian yang digunakan untuk berjualan. Ia berharap bantuan dari pihak berwenang segera datang untuk meringankan beban warga yang terdampak.
“Kalau untuk materi, ya kurang lebih piring, kompor, segala peralatan dagang, dan pakaian. Hanya sekitar mungkin sekitar Rp 3 atau Rp 4 juta dah,” ujarnya.
Kisah Sujay: Menyelamatkan Orang Tua Saat Api Membara
Seorang warga lainnya, Sujay (42), juga menceritakan pengalamannya saat api melahap bangunan tempat tinggalnya. Dia menyebut bahwa orang tuanya sedang sakit sehingga ia bergegas menyelamatkan mereka. Saat kebakaran terjadi, dia berada di rumah setelah pulang kerja, tetapi api sudah membesar dengan cepat.
“Ya, kebetulan saya ada di rumah, pulang kerja, tapi api udah membesar. Karena api dekat, udah gede banget, saya nyelamatin orang tua saya dulu. Ke depan, lagi sakit dia,” kata Sujay saat diwawancara di lokasi kebakaran, Jumat (29/5/2026).
Sujay menjelaskan bahwa orang tuanya tidak mampu berjalan setelah mengalami cuci darah beberapa hari sebelumnya. Maka, ia harus menggendong mereka untuk menghindari bahaya. Setelah berhasil mengungsi, dia baru berjalan sedikit demi sedikit ke arah yang lebih aman.
“Lagi sakit dia, lagi nggak bisa jalan, habis cuci darah kemarin hari Rabu. Iya, besok cuci darah lagi,” katanya.
“Digendong. Iya digendong dulu, baru agak jalan dikit ke sana, ke depan,” sambungnya.
Di samping itu, Sujay juga sempat mengevakuasi sepeda motornya. Saat mengambil motor, dia mendengar ledakan yang terdengar dari lokasi kebakaran. Ledakan itu diduga berasal dari gas yang meledak akibat panas api. Meski begitu, Sujay bersyukur bahwa motornya selamat dari api.
“Ada kayak itu pas saya evakuasi motor ya, setelah ibu saya keluar, evakuasi motor tuh ada ledakan kayak gitu, ada gas kayaknya. Ada ledakan itu udah gede banget itu apinya. Gas kayaknya itu,” ujarnya.
Sujay menyebut bahwa motornya sempat berada di area yang hampir terbakar. Namun, beruntungnya, motor itu bisa diselamatkan dalam kondisi relatif baik. “Alhamdulillah, (motornya) selamat. Berapa meter lagilah itu. Kayaknya berapa meter lagi, 5 meter kali ya,” katanya.
Pelaksanaan Pengungsian dan Harapan Masyarakat
Di posko pengungsian, banyak warga yang berada di lokasi sementara. Salah satu tempat yang digunakan sebagai titik evakuasi adalah Musala Al Hikmah di Jalan Krendang Barat I. Warga lainnya juga berusaha merapikan barang-barang yang tersisa dari kebakaran. Meski situasi belum sepenuhnya stabil, mereka tetap berharap bantuan seperti pakaian, makanan, dan perlengkapan lainnya bisa segera datang.
Kahfi menambahkan bahwa kejadian ini memperlihatkan kerentanan permukiman padat di wilayah Tambora. Sebanyak 4 RT di RW 5 menjadi korban utama, dengan distribusi rumah yang terbakar sebagai berikut: RT 10 mengalami kerusakan pada 5 unit, RT 11 sebanyak 4 unit, RT 12 mencapai 10 unit, dan RT 13 sekitar 8 unit. “Jumlah KK dan jiwa 115 KK dan 250 jiwa,” kata Kahfi.
Pemadaman api yang memakan waktu tiga jam tersebut memberikan kesempatan bagi warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Namun, kehilangan yang terjadi tidak hanya berupa barang bawaan, tetapi juga perasaan kehilangan rumah dan tempat tinggal. Beberapa warga menyampaikan kekecewaan mereka karena tidak sempat menyelamatkan seluruh aset.
Kepala Dinas terus berupaya mengkoordinasikan pihak-pihak terkait untuk memberikan bantuan yang diperlukan. “
