Topics Covered: 68 Hari Israel Gempur Lebanon, 2.727 Orang Tewas dan 8.438 Terluka

68 Hari Israel Gempur Lebanon, 2.727 Orang Tewas dan 8.438 Terluka

Topics Covered – Sejak operasi militer Israel dimulai di Lebanon enam puluh delapan hari lalu, jumlah korban jiwa dan luka-luka terus tercatat. Pada Kamis (7/5), data terkini mengungkapkan bahwa total ada 2.727 orang yang meninggal, sementara 8.438 individu lainnya mengalami cedera. Angka-angka ini mencerminkan dampak serangan yang berkelanjutan dari pasukan Israel terhadap wilayah Lebanon, termasuk desa-desa yang terletak di luar zona pendudukan selatan.

Serangan Terbaru di Wilayah Utara

Menurut laporan CNN Internasional pada Jumat (8/5/2026), serangan terbaru yang diluncurkan Israel terjadi pada Rabu (6/5) malam. Dalam serangan ini, militer Israel mengklaim telah menghancurkan 20 situs infrastruktur yang dikenal sebagai basis kegiatan Hizbullah. Tindakan ini memicu reaksi dari pihak Lebanon, yang menyatakan bahwa Israel secara aktif menyerang area-area strategis untuk memperkuat tekanan militer.

Sebelumnya, kedua negara telah menandatangani perjanjian gencatan senjata pada 17 April lalu. Namun, ketegangan kembali memuncak karena Israel dan Hizbullah saling menuduh melanggar kesepakatan tersebut. Pada beberapa hari terakhir, militer Israel terus melakukan serangan udara dan tembakan artileri ke berbagai wilayah Lebanon, menyebabkan kerusakan infrastruktur dan kerugian besar bagi populasi sipil.

Kerusakan pada Pusat Kesehatan

Dalam upaya memperluas dampak operasi, Israel juga menargetkan fasilitas perawatan kesehatan dan personel medis. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengutuk tindakan ini, dengan menyebutkan bahwa serangan terhadap pusat-pusat medis dan petugas kesehatan merusak akses masyarakat terhadap layanan perawatan. “

Perjanjian gencatan senjata ini menjadi jaminan bagi perlindungan fasilitas medis dan pekerja kesehatan, tetapi tindakan Israel mengancam keberlanjutan kesehatan publik di Lebanon,” kata perwakilan PBB dalam pernyataan resmi.

Laporan dari World Health Organization (WHO) yang diterbitkan pada Rabu (6/5) menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata ditetapkan, Israel telah melakukan 151 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Lebanon. Serangan-serangan ini menyebabkan kerusakan berat pada rumah sakit, pusat perawatan, dan klinik, yang secara langsung memengaruhi kemampuan Lebanon dalam menangani kebutuhan medis masyarakat setelah rangkaian serangan udara. Para pejabat kesehatan setempat mengeluhkan bahwa pasokan bantuan darurat semakin sulit dikirim ke daerah terpencil yang terisolasi akibat kegiatan militer Israel.

Kontroversi dan Ketegangan Diplomatik

Sementara itu, negosiasi antara Israel dan Lebanon terus berlangsung, meski masih terkendala karena kesenjangan kepercayaan antara kedua pihak. Dalam beberapa minggu terakhir, Israel menuntut perwakilan Lebanon untuk mematuhi perjanjian, sementara Lebanon menekankan bahwa gencatan senjata harus mencakup perlindungan terhadap wilayah-wilayah utara yang justru menjadi target utama serangan.

Presiden Lebanon Joseph Aoun, hingga saat ini, menolak untuk menghadiri pertemuan tatap muka langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Meski demikian, Amerika Serikat mengumumkan akan menjadi tuan rumah putaran ketiga pembicaraan antara duta besar kedua negara pekan depan. Amerika Serikat diharapkan dapat memediasi perbedaan pandangan dan membantu mengembalikan kepercayaan antara kedua belah pihak.

Dalam konteks internasional, serangan Israel ke Lebanon memicu kritik dari berbagai organisasi dan negara. Beberapa negara anggota PBB menyampaikan keberatan terhadap tindakan militer yang dinilai melanggar prinsip hak asasi manusia. Sementara itu, pihak Lebanon mengatakan bahwa mereka sedang mencoba menyeimbangkan kebutuhan pertahanan dengan perlindungan terhadap masyarakat sipil.

Kerugian Humaniter dan Dampak Jangka Panjang

Kerusakan akibat serangan udara dan peluncuran roket Israel telah menimbulkan kekhawatiran terhadap situasi humaniter di Lebanon. Berbagai kota dan kawasan perumahan di utara Sungai Litani, terutama di luar zona pendudukan, menjadi sasaran utama. Dalam satu operasi, militer Israel memperbarui seruan evakuasi untuk tiga desa, menyebabkan sejumlah warga Lebanon terpaksa meninggalkan rumah mereka dan berpindah ke daerah yang lebih aman.

Angka kematian dan cedera yang terus meningkat memperkuat tekanan internasional untuk melibatkan PBB lebih aktif dalam mediasi konflik. Beberapa organisasi kemanusiaan mengatakan bahwa jumlah korban jiwa di Lebanon sudah melebihi batas yang dapat diterima, terutama karena serangan-serangan terus berlangsung tanpa jeda. “Kerusakan yang terjadi tidak hanya mengancam kehidupan warga Lebanon, tetapi juga mengganggu kestabilan politik dan ekonomi negara tersebut,” tambah seorang ahli krisis internasional.

Dalam beberapa hari terakhir, informasi tentang dampak serangan terus berdatangan dari berbagai sumber. Korban yang meninggal terdiri dari warga sipil, pekerja kesehatan, dan tentara Lebanon. Kondisi darurat yang terjadi di wilayah utara memaksa pemerintah Lebanon untuk menyiapkan bantuan darurat lebih besar, termasuk menyalurkan bantuan logistik dan medis ke desa-desa yang terisolir. Meski upaya evakuasi telah dilakukan, ribuan warga masih mengalami kesulitan memperoleh akses ke perawatan yang memadai.