Siswa SD di Lombok Tewas Usai Tiru Freestyle Game Free Fire

Siswa SD di Lombok Tewas Usai Tiru Freestyle Game Free Fire

Penjelasan Kapolsubsek Lenek

Siswa SD di Lombok Tewas Usai – Kepala Kepolisian Subsektor (Kapolsubsek) Lenek, Ipda Alam Prima Yogi, memberikan keterangan mengenai insiden yang terjadi di SDN 3 Lenek Baru. Menurut Yogi, korban adalah seorang pelajar SD kelas satu yang meninggal dunia pada hari Minggu, 3 Mei. Insiden tersebut terjadi setelah bocah tersebut melakukan aksi freestyle yang viral di media sosial.

“Korban masih kelas 1 SD, meninggal dunia pada 3 Mei yang lalu. Korban bernama Hamad Izan Wadi. Korban meninggal dunia setelah melakukan aksi freestyle yang sedang tren di internet,” kata Yogi, seperti yang dilaporkan detikBali pada Kamis, 7 Mei 2026.

Menurut informasi yang didapat, Hamad sempat dilarikan ke rumah sakit setelah insiden terjadi. Namun, kondisinya tidak stabil, dan ia akhirnya meninggal akibat cedera serius di bagian leher. Yogi menjelaskan bahwa freestyle ini merupakan tarian atau gerakan yang diadaptasi dari game Free Fire, yang sedang populer di kalangan remaja.

Konteks Freestyle yang Viral

Penggunaan freestyle dalam konteks ini bukan hanya sekadar hobi, tetapi menjadi tren yang menyebar cepat melalui platform digital. Yogi menyoroti bahwa banyak anak-anak, termasuk Hamad, terpukar oleh tampilan ekstrem dalam game tersebut. “Ada gim online menampilkan gaya yang ekstrem, itu yang diikuti oleh anak-anak zaman sekarang,” jelas Yogi.

Free Fire, yang merupakan game battle royale populer, memang dikenal memiliki aksi dinamis dan gerakan cepat. Dalam beberapa video yang viral, pemain menunjukkan kombinasi gerakan lompat, putar, dan geser yang menarik perhatian. Namun, tidak semua anak mampu memahami risiko yang terkandung dalam freestyle tersebut. Hamad, yang masih berusia 7 tahun, mungkin belum menyadari bahwa meniru gerakan dalam game bisa mengarah pada kecelakaan nyata.

Detil Kecelakaan

Dalam pengakuan dari sumber lokal, Hamad melakukan freestyle di rumah seorang temannya, setelah melihat video yang beredar di media sosial. Aktivitas ini dilakukan di area yang cukup sempit, tanpa pengawasan orang dewasa. Ia terjatuh saat mencoba meniru gerakan lompat tinggi, yang biasanya dilakukan dalam game. Kecelakaan ini mengakibatkan kerusakan serius pada leher, yang menyebabkan kematian dalam waktu singkat.

Meski sebelumnya Hamad menunjukkan antusiasme tinggi terhadap freestyle, keluarga dan guru menilai bahwa ia tidak memiliki pengalaman atau kemampuan fisik untuk meniru gerakan tersebut secara aman. “Anak-anak sering terpukau oleh tampilan menarik dalam video, tapi mereka belum tahu bagaimana cara melakukan freestyle dengan benar,” ujar salah satu wali murid yang diwawancarai.

Isu Keselamatan Anak-anak

Kasus Hamad menjadi perhatian publik terkait keselamatan anak-anak dalam meniru tindakan yang dipengaruhi media sosial. Yogi menambahkan bahwa freestyle merupakan bagian dari budaya hiburan yang berkembang pesat di era digital. Namun, ia menekankan pentingnya pendidikan keselamatan untuk mengurangi risiko serupa. “Anak-anak harus diajarkan cara bergerak dengan hati-hati, terutama ketika meniru freestyle yang tampak menantang,” tambah Yogi.

Dalam beberapa hari terakhir, fenomena freestyle semakin menggema di berbagai komunitas remaja. Banyak orang tua khawatir bahwa kebiasaan ini bisa memicu kecelakaan, terutama jika dilakukan tanpa pengawasan. “Freestyle memang seru, tapi tidak semua orang bisa menyesuaikan diri dengan kecepatan dan intensitas gerakannya,” kata seorang guru SD yang juga menjadi saksi mata.

Yogi juga mengungkapkan bahwa insiden ini bukan yang pertama. Di beberapa daerah, anak-anak telah mengalami cedera serius karena meniru freestyle dari video yang beredar. Namun, di Lombok, kasus ini menimbulkan kejutan karena korban masih berusia sangat muda. “Kami berharap masyarakat lebih waspada dan mengajarkan anak-anak untuk menghindari risiko yang tidak terduga,” lanjut Yogi.

Tren di Media Sosial

Dalam dunia digital, freestyle menjadi salah satu trending topic yang menarik perhatian. Video-video freestyle sering kali menampilkan aksi yang menantang, sehingga mendorong banyak anak-anak untuk mencoba meniru. Free Fire, sebagai salah satu game yang menjadi inspirasi, memiliki kontribusi signifikan dalam menyebarluaskan gerakan-gerakan ini.

Yogi mengakui bahwa kepopuleran game Free Fire telah memengaruhi pola perilaku anak-anak. “Anak-anak meniru apa yang mereka lihat di layar, termasuk gerakan freestyle. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa kecelakaan bisa terjadi hanya dalam hitungan detik,” ujarnya. Kapolsubsek Lenek mengusulkan agar orang tua lebih aktif dalam memantau aktivitas anak-anak, terutama ketika mereka menonton video yang menampilkan aksi ekstrem.

Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan, freestyle dan tren serupa telah mengalami peningkatan penggunaan di kalangan pelajar SD. Meski banyak yang menganggap freestyle sebagai bentuk hiburan, tetapi Yogi memperingatkan bahwa tidak semua anak mampu menyesuaikan diri dengan risiko yang ada. “Kami juga sedang berupaya memperkenalkan kelas keselamatan tambahan di sekolah, agar anak-anak lebih paham bagaimana menghindari cedera,” jelasnya.

Reaksi Masyarakat

Kasus Hamad memicu reaksi beragam dari masyarakat setempat. Banyak orang merasa sedih dan menyesal atas kejadian ini, sementara yang lain mengkritik cara anak-anak mengikuti tren tanpa mempertimbangkan keselamatan. “Anak-anak itu kecil, mereka masih belajar dan tidak memahami konsekuensi dari aksi mereka,” kata seorang warga setempat.

Di sisi lain, beberapa orang mengapresiasi freestyle sebagai bentuk kreativitas dan keberanian. Namun, mereka sepakat bahwa pendidikan keselamatan harus diberikan sejak dini. “Kami berharap video viral tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya berhati-hati saat meniru,” tambah Yogi.

Para ahli pendidikan menyoroti bahwa kejadian ini mengingatkan tentang pengaruh media sosial terhadap perilaku anak-anak. Mereka menyarankan agar orang tua dan pendidik bersama-sama mengawasi aktivitas online anak-anak, serta mengajarkan cara meniru freestyle dengan langkah-langkah yang aman. “Kasus ini menunjukkan bahwa tarian atau gerakan dari game bisa menjadi bahaya jika tidak diperhatikan dengan baik,” kata seorang psikolog anak.

Korban meninggal dunia saat usia masih 7 tahun, yang membuat kasus ini lebih mengenaskan. Hamad, yang sebelumnya dikenal aktif di komunitas anak-anak, meninggalkan kenangan yang tak terlupakan bagi keluarga dan teman-temannya. Kapolsubsek Lenek berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi anak-anak lain untuk lebih berhati-hati dalam meniru freestyle.

Baca selengkapnya di sini.