Table of Contents
Pengamat: Insentif Langkah Strategis Pengembangan Kendaraan Listrik
Dari Jakarta, seorang ahli kebijakan publik, Agus Pambagio, mengajukan usulan agar pemerintah menerapkan regulasi yang lebih komprehensif dalam mendukung adopsi kendaraan listrik. Ia menyoroti bahwa kebijakan ini penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) di tengah tekanan harga energi global.
“Insentif kendaraan listrik dinilai tetap penting sebagai langkah strategis. Dari sisi operasional, kendaraan listrik menawarkan efisiensi biaya yang signifikan,” jelas Agus dalam pernyataannya.
Menurutnya, adanya insentif membuat pengeluaran energi untuk kendaraan listrik hanya berkisar ratusan ribu rupiah per bulan, jauh lebih murah dibandingkan kendaraan bermotor berbahan bakar konvensional yang bisa mencapai jutaan rupiah. Angka tersebut menunjukkan potensi biaya operasional yang lebih rendah, yang membuat EV semakin menarik bagi masyarakat.
Menurut catatan, anggaran subsidi energi terus meningkat sejak 2020, dengan total mencapai Rp95,7 triliun hingga 2023. Pada 2024, jumlahnya melonjak menjadi Rp203,4 triliun, dan di 2025, total subsidi serta kompensasi mencapai Rp394,3 triliun. Sementara itu, RAPBN 2026 menetapkan alokasi sebesar Rp210,06 triliun.
Meski demikian, Agus menekankan bahwa kebijakan transisi energi harus dilakukan secara menyeluruh, sehingga diperlukan pengembangan skema insentif yang lebih tepat sasaran. Ia mengusulkan untuk menghubungkan pembelian kendaraan listrik dengan mekanisme tukar tambah (trade-in) kendaraan lama yang menggunakan bahan bakar minyak. Hal ini, katanya, bisa mempercepat perpindahan ke teknologi ramah lingkungan.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa tingginya konsumsi energi, terutama dari sumber fosil, mendorong pemerintah untuk lebih serius mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional. Ia menyebutkan upaya ini dilakukan melalui penguatan industri, penyediaan infrastruktur pendukung, serta pemberian insentif guna memperluas adopsi kendaraan listrik secara terintegrasi.
Pemerintah, lanjutnya, tengah menyiapkan berbagai kemudahan dan insentif untuk mempercepat pelaksanaan program tersebut. Tujuan utamanya adalah agar transisi energi tidak hanya meningkatkan jumlah kendaraan listrik, tetapi juga secara efektif mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Kebijakan ini diharapkan dapat sejalan dengan target nasional yang telah ditetapkan.
