Special Plan: Bima Arya Ungkap Pentingnya Sistem Pangan-Pengelolaan Lingkungan bagi Kota
Table of Contents
Special Plan: Bima Arya Sorot Pangan dan Lingkungan Kota
Special Plan – Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa ketangguhan sebuah kota tidak bisa berdiri sendiri. Melalui Special Plan yang digagas, pembangunan daerah yang kuat memerlukan fondasi dari sistem pangan yang berkelanjutan serta pengelolaan lingkungan hidup yang terintegrasi. Menurut pejabat tersebut, kedua aspek ini memiliki peran krusial dalam meningkatkan daya tahan wilayah sekaligus berkontribusi pada ketahanan nasional secara keseluruhan.
Posisi strategis pemerintah kota dalam mendukung ketahanan pangan nasional menjadi salah satu poin utama yang disampaikan Bima Arya. Ia menjelaskan bahwa kota bukan sekadar tempat tinggal, melainkan pusat aktivitas yang mampu memperkuat rantai distribusi. Selain itu, kota juga bertanggung jawab memperluas akses masyarakat terhadap pangan berkualitas serta mendorong terciptanya berbagai inovasi baru di sektor pangan melalui pendekatan Special Plan.
Kota tidak boleh hanya menjadi konsumen pangan. Kota harus menjadi pelopor inovasi, membangun jejaring antardaerah, memperkuat distribusi, dan menghadirkan berbagai solusi agar masyarakat memperoleh akses terhadap pangan yang berkualitas.
Ungkapan tersebut disampaikan oleh Bima Arya dalam keterangannya pada hari Jumat, tanggal 10 Juli 2026. Sebelumnya, ia telah menyampaikan pandangan serupa dalam Forum Pangan yang merupakan bagian dari rangkaian Rakernas XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI). Acara tersebut berlangsung di Kota Medan, Sumatera Utara, pada hari Senin, 29 Juni 2026, dengan fokus pada implementasi Special Plan.
Kolaborasi Lintas Wilayah sebagai Kunci Solusi
Bima Arya menjelaskan bahwa tantangan pangan tidak dapat diatasi oleh satu daerah secara terpisah. Diperlukan kerja sama lintas wilayah yang memperhatikan karakteristik dan potensi unik masing-masing kota. Setiap daerah memiliki keunikan tersendiri yang harus dipertimbangkan dalam merumuskan solusi bersama melalui pendekatan Special Plan yang telah dirancang.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi pemerintah kota akan terus berkembang seiring waktu. Oleh karena itu, modal terbesar yang dimiliki APEKSI bukan hanya pengalaman para kepala daerah, melainkan juga tradisi kolaborasi yang telah terbangun selama bertahun-tahun. Tradisi ini menjadi fondasi penting dalam menghadapi berbagai permasalahan yang semakin kompleks.
Kami bangga melihat kepala daerah yang memilih berpeluh daripada mengeluh. Tangguh tidak bisa sendiri. Tangguh itu karena terampil berkolaborasi dan berkokreasi dengan berbagai pihak. Yang membedakan APEKSI adalah semangat guyub, persaudaraan, dan kebersamaan. Tradisi itu harus terus dijaga karena di sanalah kekuatan kita menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi berbagai masukan dan kesepakatan yang dihasilkan dalam sidang pleno maupun forum-forum selama Rakernas XVIII APEKSI. Bahan-bahan tersebut akan menjadi pertimbangan dalam penguatan kebijakan pembangunan daerah ke depan, termasuk penerapan Special Plan di berbagai kota.
Melalui berbagai forum dalam Rakernas XVIII APEKSI, Kemendagri juga menegaskan komitmennya untuk mendengar, memfasilitasi, dan menindaklanjuti aspirasi serta rekomendasi pemerintah kota. Ketangguhan daerah hanya dapat terwujud apabila inovasi, penguatan sektor strategis, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan berjalan beriringan.
Rekomendasi dari Berbagai Perspektif
Direktur Eksekutif APEKSI, Alwis Rustam, menjelaskan bahwa rekomendasi yang disahkan dalam Sidang Pleno para wali kota merupakan hasil proses yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan selama rangkaian Rakernas. Berbagai rekomendasi yang disepakati dalam Sidang Pleno para Wali Kota dilengkapi dengan pokok-pokok pikiran yang lahir dari forum-forum tematik yang berlangsung sejak tanggal 28 Juni hingga 2 Juli di berbagai lokasi di Medan.
Forum-forum tersebut masing-masing dilakukan oleh Kepala Bappeda, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Komunikasi dan Digital, kepala dinas yang terkait dengan ketahanan pangan, Ketua Tim Penggerak PKK/Dekranasda, hingga kaum muda kreatif kota seluruh Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan melibatkan banyak pihak dengan keahlian berbeda-beda.
Kota menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, solusinya juga harus dibangun secara bersama-sama. Forum-forum ini menunjukkan bahwa penguatan regulasi, transformasi digital, investasi, lingkungan hidup, ketahanan pangan, hingga pelibatan generasi muda merupakan satu kesatuan dalam membangun kota yang tangguh.
Alwis Rustam menambahkan bahwa tantangan yang dihadapi kota saat ini tidak lagi dapat diselesaikan melalui satu pendekatan. Karena itu, Rakernas XVIII APEKSI menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai perspektif untuk menghasilkan rekomendasi yang saling melengkapi. Setiap elemen yang dibahas dalam Special Plan harus diimplementasikan secara terpadu untuk menciptakan kota yang berkelanjutan dan tangguh menghadapi masa depan.
