Peneliti Coba Rekayasa Nyamuk Jantan demi Bikin Malaria Musnah
Table of Contents
Upaya Rekayasa Genetik Nyamuk Jantan untuk Memusnahkan Malaria di Uganda
ceritaberkat.com – Peneliti Coba Rekayasa Nyamuk Jantan demi – Pernahkah Anda mengalami demam malaria? Gejala yang menyertai bisa sangat luar biasa—tubuh menggigil hebat hingga terasa seperti rumah akan runtuh akibat getaran. Kepala terasa berputar-putar bagaikan sedang naik wahana roller coaster. Keringat bercucuran deras, mirip dengan kondisi setelah melakukan banyak push-up di tengah siang yang terik. Ditambah lagi dengan rasa mual, muntah, nyeri otot, serta berbagai keluhan lain yang menyertai. Kini, para ilmuwan di Uganda sedang berupaya keras agar penyakit mematikan tersebut benar-benar hilang dari permukaan bumi.
Angela Nakamura, seorang asisten laboratorium, terlihat mengenakan sarung tangan plastik berwarna biru. Ia perlahan meraih sebuah kotak yang dibungkus jaring nyamuk di sekelilingnya. Di dalam kotak tersebut terdengar suara dengungan. Ratusan nyamuk sedang beterbangan mencari sumber darah untuk dimakan.
“Sebelum memulai pekerjaan, saya harus memastikan mematuhi semua aturan keselamatan, termasuk memakai sarung tangan dan jas laboratorium untuk menghindari risiko gigitan nyamuk,” jelas peneliti serangga asal Uganda tersebut.
Di balik pintu dan jendela yang tersegel rapat, terdapat laboratorium berkeamanan tinggi di Institut Virus Uganda. Para ilmuwan di sana sibuk meneliti nyamuk Anopheles yang telah mengalami modifikasi genetik. Seperti yang diketahui umum, nyamuk jenis ini merupakan vektor pembawa parasit penyebab malaria yang sangat berbahaya bagi manusia.
Di pusat laboratorium berkeamanan tinggi tersebut, para nyamuk menjadi objek utama penelitian. “Untuk memastikan mereka dapat bertelur, kami perlu memberi makan nyamuk dewasa selama tiga hari dengan darah,” terang Nakamura.
Dalam proses tersebut, ia memberikan darah manusia kepada nyamuk dari bank darah yang telah dipanaskan hingga mencapai suhu tubuh 37 derajat. “Keesokan harinya, kami menunggu telur-telur nyamuk menetas. Kami juga sudah menyiapkan tempat penetasan khusus untuk telur-telur tersebut,” tambahnya.
Malaria: Penyakit Menyerang di Daerah Tropis
Malaria, yang juga dikenal dengan sebutan demam rawa, merupakan salah satu penyakit paling mematikan di wilayah tropis, khususnya bagi anak-anak kecil. Hampir setiap menit, satu anak di bawah usia lima tahun kehilangan nyawanya akibat penyakit ini di seluruh dunia.
Berdasarkan estimasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 263 juta orang terinfeksi malaria setiap tahunnya. Dari total kasus tersebut, 94 persen terjadi di benua Afrika. Malaria menjadi penyakit infeksi paling umum di dunia. Penyebarannya semakin meluas akibat perubahan iklim dan kenaikan suhu global, bahkan kini mulai menjalar ke Eropa dan Amerika Utara.
Komunitas internasional telah menetapkan target untuk memberantas malaria sepenuhnya pada tahun 2030. Untuk mendekati target ambisius tersebut, institut penelitian terkemuka di Uganda—yang juga meneliti virus-virus mematikan seperti Ebola dan Zika—mencoba pendekatan baru yang inovatif.
Rekayasa Genetik: Solusi Masa Depan
Inti dari ide ini adalah memodifikasi genetik nyamuk secara cermat dengan tujuan menghempaskan mereka dari dunia sepenuhnya di masa depan. Dikutip dari situs Kementerian Kesehatan Indonesia, penyakit malaria disebabkan oleh infeksi parasit plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Nyamuk ini aktif pada waktu petang hingga pagi hari. Parasit tersebut akan menetap di organ hati, berkembang biak, kemudian menyerang sel-sel darah merah.
Indonesia termasuk salah satu negara endemis malaria dengan jumlah kasus mencapai 443.530 pada tahun 2022. Sebanyak 89 persen kasus positif malaria dilaporkan berasal dari Provinsi Papua (Sumber: Situasi Malaria Terkini Indonesia 2022).
Mengapa hanya nyamuk betina yang dianggap berbahaya? Saat asisten laboratorium Nakamura mengunci pintu laboratorium berkeamanan tinggi, di ruang depan terdapat Doktor Jonathan Kayondo yang sedang meneliti gambar mikroskopik larva nyamuk di mejanya.
Kayondo merupakan kepala departemen penelitian serangga di Institut Virus Uganda. Ia memimpin tim riset berjumlah 40 orang yang merupakan bagian dari konsorsium internasional. Mereka memiliki proyek bersama bernama “Target Malaria”, di mana lebih dari 200 peneliti terlibat, berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Italia, dan Burkina Faso.
“Dengan memanipulasi satu gen, kami bisa meningkatkan jumlah nyamuk jantan,” jelas peneliti serangga tersebut.
Jika selama beberapa generasi lebih banyak larva jantan menetas dibandingkan larva betina, papar Kayondo, maka transmisi malaria akan terhenti karena hanya nyamuk betina yang menggigit dan menyebarkan penyakit.
Proyek unik ini masih berada dalam tahap awal. Sejauh ini, rekayasa gen baru dilakukan di laboratorium Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat, beserta uji coba efeknya. Larva nyamuk hasil rekayasa genetika kini telah diterbangkan ke Uganda dalam kotak berkeamanan tinggi, untuk diuji coba di alam bebas dalam waktu dekat.
“Modifikasi gen mungkin bagian termudah,” jelas Kayondo. Namun setelah gen diubah, nyamuk harus melewati berbagai studi keamanan.
“Kami ingin memastikan modifikasi gen hanya mempengaruhi penularan penyakit, bukan aspek lain dari kehidupan nyamuk,” tambahnya. Dengan pendekatan ini, para peneliti berharap dapat menciptakan solusi berkelanjutan untuk memerangi malaria di seluruh dunia.
