Paniknya Rara Selamatkan Diri Saat KRL Ditabrak di Bekasi

Peristiwa Kecelakaan KRL di Bekasi Timur

Paniknya Rara Selamatkan Diri Saat KRL Ditabrak – Dalam kejadian yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur, seorang penumpang bernama Rara mengalami pengalaman seram saat kereta api rel listrik (KRL) yang ia tumpangi ditabrak oleh kereta api Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah Jakarta. Kejadian ini memicu reaksi cemas dan kepanikan di tengah para penumpang, sebagaimana diceritakan oleh Rara melalui unggahan di media sosialnya.

“Saya masih nggak percaya bahwa KRL yang saya tumpangi ternyata menjadi korban kecelakaan. Saat itu, saya jatuh dan tubuh saya terlempar hingga mengalami luka di pipinya. Saya juga merasa tiga jari tangan saya terlempar ke aspal KRL. Badan saya sendiri tidak bisa mengontrol gerakannya karena terlempar, dan HP saya terlempar. Tapi untungnya saya masih bisa menangkapnya karena layar HP tiba-tiba menyala. Saya hanya ingat sebelum jatuh, ada seorang lelaki yang berteriak, ‘Woi keluar!’ Semua orang belum sadar sampai bunyi ledakan dan lampu gelap,” kata Rara.

Menurut Rara, kejadian tersebut terjadi secara mendadak. Ia menjelaskan bahwa dirinya terbaring di dalam gerbong kereta, dan kondisi gelap serta kekacauan membuatnya sulit bergerak. Namun, Rara tetap bersyukur karena dalam kondisi tersebut, tubuhnya tidak terinjak-injak oleh penumpang lain.

“Saya berusaha bangun meskipun cukup sulit. Tapi saya berterima kasih karena tidak ada yang menumpahkan badan saya saat saya tiduran di lantai. Kondisi jadi sangat gelap, dan pikiran saya hanya fokus pada rasa takut. Saya coba nggak panik, tapi tetap tidak bisa menemukan sepatu saya karena keadaan gelap. Karena kejadian ini, saya merasa seperti terlempar dan tidak tahu seberapa jauh tubuh saya akan terpental,” ujarnya.

Kejadian kecelakaan ini juga menyebabkan sejumlah penumpang lain mengalami cedera serius. Rara menuturkan bahwa saat pintu KRL tertutup, ia sempat panik karena handphone (HP) yang terlempar ke lantai. Setelah pintu terbuka, dia langsung keluar dan melihat asap serta debu yang mengepul dari dalam kereta. Dengan cepat, Rara berusaha menyelamatkan diri ke peron.

“Saya coba ambil HP yang ikut terlempar, untungnya masih bisa dijangkau. Saya juga coba bangun dan lari ke tangga karena pintu gerbong saya berada tepat di depannya. Saat sampai di tangga, saya melihat asap atau debu yang sudah melekat erat, hingga membuat napas sesak. Saya duduk di samping tukang jualan yang langsung memberikan air, dan dari jauh, saya melihat banyak orang terluka parah,” tambah Rara.

Kronologi Kecelakaan di Bekasi Timur

Kejadian kecelakaan KRL di Bekasi Timur bermula dari sebuah taksi bernama Green SM yang tertahan di tengah rel kereta api, tidak jauh dari Stasiun Bekasi Timur, pada Senin (27/4) malam. Taksi tersebut kemudian tertabrak oleh KRL yang melaju dari arah Cikarang menuju Jakarta. Akibat tabrakan, KRL tersebut berhenti di tengah rel dan warga sekitar langsung berkumpul untuk membantu evakuasi.

KRL yang terlibat dalam kecelakaan itu berhenti di Stasiun Bekasi Timur lebih lama karena dampak dari tabrakan dengan taksi. Selama waktu itu, para penumpang terus berusaha mengamati situasi. Namun, kejadian kembali memicu chaos ketika KRL yang telah berhenti tersebut ditabrak kembali oleh KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah Jakarta. Tabrakan kedua ini menyebabkan kerusakan yang lebih parah dan mengakibatkan korban jiwa.

Menurut informasi yang diberikan oleh KAI, pada Selasa (28/4) jumlah korban meninggal akibat kecelakaan tersebut mencapai 15 orang. Namun, pada hari berikutnya, jumlah korban meninggal terus bertambah menjadi 16 orang. Kejadian ini menjadi perhatian publik karena dampaknya yang luas dan kepanikan yang terjadi di dalam kereta.

Rara menambahkan bahwa ia tidak menyangka akan terlibat dalam kecelakaan besar. Ia hanya merasa bahwa kereta seperti ditarik oleh kekuatan yang luar biasa, sekaligus mendengar suara orang-orang yang berteriak meminta penumpang lain untuk turun dari gerbong. Ia pun mengungkapkan bahwa kondisi kekacauan di dalam kereta membuatnya sulit mengenali sejumlah hal.

“Saya awalnya tidak percaya akan ada kecelakaan besar. Saya hanya merasa seperti ada yang mendorong dari dalam kereta, dan suara teriakan orang-orang memerintahkan penumpang untuk turun. Tapi sampai akhirnya, saya mengerti bahwa ini adalah kecelakaan parah. KAI menyebut ada 15 korban meninggal, tapi sekarang jumlahnya sudah bertambah menjadi 16. Saya berharap ada alarm di dalam kereta untuk memberi peringatan sebelum terjadi kecelakaan besar seperti ini,” imbuh Rara.

Kejadian ini menunjukkan betapa cepatnya kecelakaan bisa terjadi, bahkan tanpa peringatan dini. Rara pun mengungkapkan rasa syukur karena ada orang-orang yang membantu, terutama seorang ibu yang langsung memberinya air minum saat berada di peron. Meski masih dalam kondisi terluka, Rara berhasil menyelamatkan diri dan memberi laporan yang memperlihatkan kepanikan serta kejadian tak terduga yang terjadi.