Key Strategy: Israel Bunuh 9 Orang di Lebanon Saat Gencatan Senjata, Termasuk 2 Bocah

Israel Serang Lebanon Selatan, 9 Korban Tewas Termasuk Anak-anak

Key Strategy – Dilaporkan oleh AFP, Kamis (30/4/2026), Israel melanjutkan operasi militer di wilayah selatan Lebanon meskipun gencatan senjata yang terbilang lemah telah berlangsung hampir dua minggu. Serangan tersebut menewaskan sembilan orang, di antaranya dua anak-anak, menurut laporan awal dari pihak Lebanon. Kementerian Kesehatan setempat mengatakan ada 23 orang yang terluka, termasuk delapan anak dan tujuh perempuan.

Menurut sumber berita, peristiwa ini terjadi tidak lama setelah Presiden Lebanon Joseph Aoun mengkritik apa yang ia sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Israel. Ia menyoroti bahwa serangan berlanjut secara intensif, bahkan menyebabkan penghancuran rumah-rumah serta tempat ibadah. “Korban tewas dan luka semakin bertambah setiap hari,” ujarnya, menyoroti ketidakstabilan situasi di wilayah yang terkena dampak.

Gencatan senjata yang diumumkan setelah perundingan langsung antara duta besar Lebanon dan Israel di Washington, dikenal sebagai titik awal kesepakatan yang rapuh. Meski begitu, Israel tetap melakukan serangan ke Lebanon selatan, yang dianggap sebagai bagian dari strategi mereka untuk memperluas operasi militer. Tahun ini, dengan status gencatan senjata yang masih menggantung, Israel diberi ruang untuk bertindak menghadapi ancaman dari Lebanon.

Komentar dari Pihak Lebanon

Presiden Aoun menegaskan bahwa gencatan senjata tidak bisa menjadi alasan untuk terus menghancurkan kehidupan warga sipil. Ia menilai bahwa kebijakan Israel bertentangan dengan prinsip hukum internasional, khususnya dalam menargetkan paramedis, petugas pemadam kebakaran, dan organisasi kemanusiaan. “Tekanan harus diberikan kepada Israel untuk memastikan mereka menjunjung hukum dan konvensi yang berlaku, serta berhenti menyerang warga yang tidak terlibat perang,” tutur Aoun kepada delegasi dari Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.

“Serangan musuh Israel di Lebanon selatan menyebabkan, dalam penghitungan awal, sembilan orang tewas, di antaranya dua anak dan lima perempuan, serta 23 korban luka, termasuk delapan anak dan tujuh perempuan,” kata Kementerian Kesehatan Lebanon dalam pernyataan resmi.

Selama dua minggu terakhir, media pemerintah Lebanon memperlihatkan serangan udara berulang dari Israel ke berbagai titik wilayah selatan. Dalam pernyataan terpisah, Presiden Aoun menunjukkan kekecewaannya terhadap pihak Israel yang terus menyerang, meski situasi damai telah dicanangkan. “Ini bukan hanya pelanggaran terhadap gencatan senjata, tetapi juga terhadap prinsip kemanusiaan,” katanya, sambil mengingatkan bahwa tiga paramedis yang dibunuh oleh Israel dimakamkan pada hari tersebut.

Ketua Parlemen Nabih Berri, yang merupakan sekutu dari Hizbullah, mengkritik pernyataan Aoun dengan menyebutnya “tidak akurat.” Ia menambahkan bahwa perjanjian November 2024, yang dianggap sebagai dasar gencatan senjata saat ini, tidak sempurna dan tidak memiliki kesepakatan luas dari semua pihak. “Text gencatan senjata yang diumumkan Departemen Luar Negeri AS jelas memungkinkan Israel untuk menyerang wilayah Lebanon secara terus menerus,” ujarnya dalam pernyataan yang diterbitkan Rabu (28/4).

Pemetaan Wilayah Operasi Israel

Mengenai lokasi serangan, Israel memperkenalkan “Garis Kuning” sebagai wilayah operasional mereka di selatan Lebanon. Wilayah ini berukuran sekitar 10 kilometer lebarnya, sepanjang perbatasan antara kedua negara. Pernyataan ini memicu kontroversi karena dianggap sebagai alasan untuk melanjutkan invasi ke wilayah yang sebelumnya dianggap aman.

Sebagai respons terhadap gencatan senjata, juru bicara militer Israel meminta evakuasi delapan desa di selatan Lebanon sebelum aksi militer yang rencananya akan dilakukan. Pernyataan ini dikeluarkan pada Kamis (30/4), menjelang peristiwa serangan yang menewaskan sembilan orang. Menurut laporan, pengumuman “Garis Kuning” diterbitkan setelah keputusan gencatan senjata, tetapi tetap memungkinkan Israel melakukan tindakan keras.

Hizbullah, yang menjadi salah satu pihak utama dalam perang dengan Israel, menyatakan bahwa mereka mengklaim beberapa operasi yang menargetkan pasukan Israel. Selain itu, organisasi ini juga meluncurkan roket ke wilayah utara Israel sejak gencatan senjata dimulai. “Kita tidak bisa membiarkan Israel menyerang secara bebas, terutama ketika mereka memiliki alasan legal untuk terus bertindak,” kata pihak Hizbullah dalam pernyataan terbaru.

Sebagai bagian dari perjanjian November 2024, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memberikan Israel kebebasan untuk bertindak melawan serangan yang direncanakan, sedang berlangsung, atau akan segera terjadi. Teks gencatan senjata ini diterbitkan sebagai kesepakatan yang mendukung keamanan di daerah perbatasan. Namun, Hizbullah menolak keputusan tersebut karena mereka menganggap bahwa teks itu tidak disetujui secara bersama oleh kabinet Lebanon.

Aoun menambahkan bahwa teks gencatan senjata yang sama telah diadopsi pada November 2024 dan dianggap sebagai alat untuk mengakhiri perang sebelumnya antara pihak Lebanon dan Israel. Ia menekankan bahwa semua kelompok terlibat dalam kesepakatan tersebut, tetapi Hizbullah bersikeras bahwa teks itu tidak sepenuhnya diterima oleh pihak Lebanon. “Ini adalah perjanjian yang tidak lengkap dan masih memungkinkan Israel untuk menyerang secara bebas,” ujarnya.

Dengan adanya serangan terbaru, ketegangan antara Lebanon dan Israel kembali memanas. Meski gencatan senjata berjalan, keadaan di wilayah selatan tetap tidak stabil. Para warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan, terus menjadi korban dari operasi militer Israel. Situasi ini memicu kritik internasional terhadap tindakan Israel yang dinilai tidak sesuai dengan komitmen mereka dalam menjaga perdamaian.

Perspektif Internasional

Sementara itu, pernyataan Aoun tentang pelanggaran Israel memperoleh perhatian dari organisasi kemanusiaan. Ia menilai bahwa kebijakan Israel berpotensi mengakibatkan kerusakan lebih lanjut di Lebanon. “Mereka menggunakan gencatan senjata sebagai alasan untuk menargetkan masyarakat sipil, yang justru menjadi korban utama,” jelas Aoun. Hal ini semakin memperkuat kekhawatiran bahwa kesepakatan yang diumumkan tidak cukup untuk memutus siklus konflik.

Dalam konteks ini, Hizbullah menegaskan bahwa mereka tidak terima dengan penafsiran “Garis Kuning” sebagai alasan untuk terus menyerang. Kelompok ini mempertahankan posisi bahwa gencatan senjata harus dihormati sepenuhnya, termasuk dalam penggunaan kekuatan