New Policy: Warga Kecele Sangka Ada CFD di Rasuna Said Minggu Ini: Tahunya Zonk

New Policy: CFD di Rasuna Said Tahun Ini Ditiadakan, Warga Terkejut dan Kecewa

New Policy – Dalam suasana yang seharusnya penuh antusiasme, warga Jakarta Selatan, khususnya di sekitar area Rasuna Said, mengalami kekecewaan berlebihan setelah mengetahui bahwa kebijakan baru mengenai penggunaan ruang terbuka hijau (RTH) memaksa penyelenggaraan Festival CFD (Cerita Festival Daring) di kawasan tersebut dibatalkan. Banyak dari mereka yang datang dengan harapan bisa menikmati acara olahraga terbuka, namun malah menyadari bahwa acara ini tidak diadakan. Hal ini menimbulkan reaksi yang beragam dari para peserta, termasuk kekecewaan dan kebingungan yang terlihat jelas.

Penyelenggaraan CFD Tidak Sesuai Ekspektasi

Minggu (17/5/2026) pagi, sejumlah warga membanjiri jalur sekitar Stasiun LRT Kuningan hingga Rasuna Said dengan harapan bisa berolahraga secara bebas. Namun, ketika tiba di lokasi, mereka menemukan bahwa kebijakan baru telah membatalkan acara CFD yang sebelumnya dijadwalkan. Beberapa orang mengenakan pakaian olahraga lengkap, sementara yang lain datang dengan keluarga. Meski tanpa CFD, aktivitas mereka tetap berjalan, tetapi secara menyusuri trotoar dan jalan-jalan umum.

Dari pengakuan Ina (45), warga Depok, ia mengungkapkan rasa kecewa yang dalam. “Saya sampai sini, tadi pas naik LRT, pas turun kok kayaknya masih banyak kendaraan. Oh ya udah, jalan aja ke sana, dikit aja. Eh tahunya ya zonk juga. Malah kecele. Udahlah, kita CFD sendiri, ngarang aja,” ujarnya saat ditemui di dekat Stasiun LRT Rasuna Said. Ina dan putranya yang turut serta mengaku tidak mengetahui bahwa acara CFD di tempat tersebut ditiadakan hari itu. Mereka terkejut karena mengira suasana sekitar masih ramai dan siap digunakan.

Reaksi Warga Terhadap Kebijakan New Policy

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Nawal (18), anak Ina, yang menginginkan mencoba olahraga lari di acara CFD. “Iya, masih bunyi-bunyi suara motor, mobil. Padahal saya pengin coba pertama kali gitu,” kata Nawal. Penyelenggaraan CFD yang diumumkan sebelumnya menjadi momen spesial bagi warga sekitar, terutama mereka yang ingin mencoba aktivitas fisik di ruang terbuka. Kebijakan new policy ini mengejutkan banyak orang, termasuk Waluyo (60), warga Bendungan Hilir, yang sampai ke sana dengan harapan bisa merasakan suasana baru.

Waluyo mengatakan bahwa ia pergi dari Benhil melewati Jalan Satrio untuk menyaksikan CFD. “Saya jalan dari Benhil lewat Satrio, ke sini. Loh kok mana CFD-nya? Jalan ajalah saya. Minggu kemarin itu saya malah nggak tahu ada CFD di sini, baru tahu pas baca berita. Sekarang ke sini malah nggak ada,” katanya. Meskipun terkejut, Waluyo menyatakan bahwa ia tidak terlalu kecewa. Ia lebih memilih untuk melanjutkan aktivitas jalan kaki menuju rumah, sambil mengharapkan kebijakan new policy ini bisa diubah kembali.

Dalam penerapan kebijakan baru ini, pemerintah mengklaim bahwa adanya penyesuaian penggunaan RTH untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan efisiensi ruang. Meski demikian, banyak warga yang menganggap bahwa kebijakan tersebut kurang memperhatikan kebutuhan masyarakat. Aktivitas olahraga di lingkungan terbuka menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, terutama di tengah seringnya kepadatan lalu lintas di kawasan Jakarta Selatan.

Perubahan Kebijakan New Policy dan Dampaknya

Kebijakan new policy ini juga mempengaruhi suasana sekitar Rasuna Said. Sebelumnya, area tersebut menjadi tempat favorit warga untuk berolahraga, bersepeda, atau sekadar bersantai. Kini, warga terpaksa beradaptasi dengan kondisi yang berbeda. Beberapa di antara mereka mengatakan bahwa keputusan ini mengejutkan karena tidak disampaikan dengan cukup jelas sebelumnya. “Minggu ini ternyata CFD tidak ada, padahal kami sudah menyiapkan diri. Tahunya zonk,” keluh Ina.

Pengelola kawasan Rasuna Said juga memberikan penjelasan bahwa perubahan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menyesuaikan kebutuhan kota modern. Namun, menurut warga, CFD tetap menjadi momen yang menghadirkan energi positif dan keberagaman dalam aktivitas sehari-hari. Mereka berharap pemerintah bisa mempertimbangkan kembali kebijakan new policy ini, terutama jika dampaknya terasa jelas pada masyarakat.

Dalam hal ini, kebijakan new policy harus mampu menjaga keseimbangan antara penggunaan ruang publik dan kepuasan warga. Ada kecenderungan bahwa keputusan ini mengambil alih ruang yang sebelumnya dianggap sebagai tempat khusus untuk olahraga dan kegiatan sosial. Meski demikian, pemerintah bisa menjadikan ini sebagai pelajaran untuk menyelenggarakan CFD dengan lebih baik di masa depan, termasuk memperjelas jadwal dan durasi acara agar warga tidak kaget.

Sebagai contoh, kegiatan olahraga di jalan raya seperti CFD telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Jakarta. Dengan kebijakan new policy ini, pemerintah mungkin ingin mengurangi kepadatan di kawasan tertentu, tetapi juga perlu memastikan bahwa warga tetap bisa menikmati manfaatnya. Dengan adanya CFD, mereka bisa merasakan ruang terbuka yang lebih nyaman, terlepas dari kondisi lalu lintas yang sering kali menyebabkan kelelahan.

Dalam kesimpulan, kebijakan new policy yang mengatur penyelenggaraan CFD di Rasuna Said memang mengejutkan. Warga yang datang dengan harapan bisa berolahraga di area tersebut justru menemukan bahwa acara tidak diadakan. Meski ada alasan yang mendasari perubahan ini, pengakuan dari para peserta menunjukkan bahwa kebijakan harus lebih transparan dan memperhatikan kebutuhan masyarakat. Kebijakan new policy ini bisa menjadi contoh baik untuk perbaikan di masa depan, terutama jika dampaknya bisa diminimalkan dengan baik.