Key Strategy: Densus 88 Gandeng Pemkot Cilegon Cegah Masyarakat dari Paham Radikal
Table of Contents
Densus 88 dan Pemkot Cilegon Tegaskan Peran Sosial dalam Pencegahan Radikalisme
Key Strategy – Upaya pencegahan penyebaran paham radikal di Kota Cilegon semakin digencarkan melalui kolaborasi antara Densus 88 Anti Teror (AT) Polri dengan Pemerintah Kota setempat. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kekuatan masyarakat sebagai penjaga keutuhan bangsa dan negara, dengan fokus pada penguatan toleransi serta kesadaran akan bahaya ideologi ekstrem. Sebagai bagian dari strategi nasional, program ini melibatkan berbagai elemen penting, seperti tokoh agama, perangkat desa, dan pemuda, untuk bersama-sama mengantisipasi ancaman yang muncul dari media sosial.
Penguatan Sosial dan Kebangsaan sebagai Benteng Utama
Kegiatan bertajuk ‘Wawasan Kebangsaan: Peran Keluarga dalam Menjaga Keutuhan Bangsa’ diadakan di Hotel Permata Krakatau, Cilegon, menghadirkan sekitar 400 peserta. Peserta yang terdiri dari penyuluh agama, petugas kecamatan, dan Bhabinkamtibmas berpartisipasi aktif dalam diskusi yang bertujuan menegaskan pentingnya kebersamaan dalam memerangi radikalisme. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan wawasan tentang peran penting keluarga sebagai lingkungan pertama yang membentuk nilai-nilai nasionalis dan toleran di kalangan generasi muda.
Media Sosial Jadi Sarana Utama Penyebaran Ideologi Radikal
Kombes Mayndra Eka, Kepala Satgaswil Banten dan Jubir Densus 88 AT Polri, mengungkapkan bahwa media sosial telah menjadi jalur utama dalam menyebarkan paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme sejak 2014. Ia menekankan bahwa seluruh elemen masyarakat harus terlibat aktif dalam mengawasi dan mengedukasi masyarakat terhadap isu-isu yang muncul di platform digital.
“Media sosial telah menjadi salah satu sarana utama penyebaran propaganda intoleransi, radikalisme, dan terorisme sejak tahun 2014, sehingga pengawasan sekaligus edukasi kepada masyarakat menjadi kebutuhan yang mendesak,” kata Mayndra melalui keterangan, Kamis (25/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Mayndra juga mengapresiasi upaya yang telah dilakukan oleh berbagai pihak untuk menangani masalah anak-anak yang terlibat dalam kelompok seperti True Criminal Community (TCC). Menurutnya, tujuh remaja di wilayah Banten telah diberikan perlindungan dan pembinaan intensif guna mencegah mereka terjerumus lebih dalam ke dalam ideologi ekstrem.
Persiapan Kebijakan Strategis untuk Masa Depan
Mayndra menyarankan Pemkot Cilegon agar mengembangkan kebijakan strategis yang selaras dengan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE) Fase 2. Ia menekankan bahwa pencegahan radikalisme tidak bisa dilakukan secara terpisah oleh aparat keamanan, tetapi memerlukan dukungan kolektif dari berbagai sektor masyarakat.
“Penanggulangan radikalisme dan terorisme tidak dapat dibebankan kepada aparat semata, melainkan menuntut keterlibatan seluruh elemen masyarakat,” tegasnya.
Dalam rangka mewujudkan hal tersebut, Mayndra mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap konten yang bisa memicu kebencian atau persaingan. Ia menyoroti pentingnya melibatkan tokoh agama dan pemuda sebagai agen perubahan yang bisa memperkuat budaya perdamaian di tengah masyarakat.
Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Kunci Keberhasilan
Ketua Pemkot Cilegon, Robinsar, mengapresiasi kerja sama antara Densus 88 dengan pihak kecamatan dan keluarga. Ia menilai sinergi ini merupakan langkah penting dalam menciptakan masyarakat yang kuat dan berdaya tangkal terhadap paham radikal. Menurut Robinsar, keberhasilan pencegahan radikalisme bergantung pada keterlibatan aktif dari berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan dan tokoh agama.
“Pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme memerlukan keterlibatan seluruh elemen bangsa melalui sinergi pemerintah, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan masyarakat,” ujar Robinsar.
Senada dengan pandangan tersebut, Wakapolres Cilegon Kompol M. Ridzky Salatun menyoroti pergeseran ancaman keamanan ke ranah ideologi. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pencegahan terorisme tidak hanya bergantung pada operasi keamanan, tetapi juga pada upaya peningkatan literasi digital. Menurut Ridzky, masyarakat perlu mampu memilah informasi yang menyebarkan kebencian dari berita yang sehat.
“Ancaman keamanan saat ini tidak hanya berbentuk kejahatan konvensional, tetapi juga penyebaran ideologi yang dapat mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, upaya deteksi dini, penguatan toleransi, serta peningkatan literasi digital menjadi langkah penting,” jelas Ridzky.
Peran Keluarga sebagai Filter Pertama bagi Generasi Muda
Kepala Kemenag Kota Cilegon, Amin Hidayat, menegaskan bahwa keluarga merupakan unit terkecil yang memegang peran kritis dalam membentuk generasi muda. Ia menilai lingkungan rumah tangga adalah tempat pertama untuk menanamkan nilai-nilai moral, kesadaran kebangsaan, dan sikap toleran. Dalam era digital yang berkembang pesat, keluarga harus menjadi garda depan dalam memerangi pengaruh negatif dari media sosial.
“Keluarga merupakan lingkungan pertama yang menanamkan nilai moral, toleransi, dan semangat kebangsaan sehingga mampu menjadi benteng terhadap pengaruh intoleransi dan ekstremisme, khususnya di era perkembangan media sosial yang semakin pesat,” pungkas Amin.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh jajaran Kesbangpol Provinsi Banten dan Kota Cilegon, serta organisasi seperti FKUB dan MUI Kota Cilegon. Partisipasi dari berbagai lembaga menunjukkan komitmen lintas sektor dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkuat koordinasi antar institusi dalam mencegah radikalisme di tingkat lokal.
Kesiapan Masyarakat dan Kemudahan Akses Informasi
Mayndra menambahkan bahwa masyarakat harus memiliki kemudahan akses untuk mendapatkan informasi yang akurat. Ia menekankan pentingnya kesadaran bahwa media sosial bisa menjadi alat yang sangat efektif untuk menyebarkan ideologi ekstrem, tetapi juga bisa menjadi sarana edukasi jika dikelola dengan baik. Dengan masyarakat yang lebih paham tentang berbagai bahaya, peran organisasi keamanan akan semakin efektif.
Kolaborasi ini juga membuka peluang untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pencegahan radikalisme melalui kegiatan rutin, seperti dialog lingkungan dan pelatihan keamanan digital. Dengan membangun kesadaran akan ancaman ideologi, diharapkan keberhasilan pencegahan bisa tercapai secara berkelanjutan. Tantangan utama terletak pada bagaimana menjaga keseimbangan antara pengawasan dan kebebasan berbicara di ranah digital.
Dukungan Lembaga dan Kesadaran Pemuda
Peserta kegiatan, terutama dari kalangan pemuda, diharapkan menjadi mitra strategis dalam pencegahan radikalisme. Mereka dianggap memiliki potensi besar untuk menyebarkan pesan perdamaian dan
