Historic Moment: Masuki Musim Kemarau, Polres-Pemkab Rohul Gelar Simulasi Atasi Karhutla
Table of Contents
Historic Moment: Rohul Simulasi Karhutla Saat Musim Kemarau
Historic Moment – Dalam upaya meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), jajaran Polres Rokan Hulu (Rohul) bersama Pemkab Rohul menggelar simulasi penanggulangan bencana yang dianggap sebagai momen historic dalam pembangunan sistem siaga di wilayah tersebut. Kegiatan ini diadakan di halaman Kantor Bupati Rohul pada Selasa (9/6/2026), dengan tujuan memperkuat kolaborasi antarlembaga dan masyarakat untuk tanggap darurat. Simulasi ini menjadi bukti komitmen bersama dalam menghadapi tantangan musim kemarau yang sering menjadi pemicu karhutla.
Kerja Sama Stakeholder dalam Sinergi Penanganan Karhutla
Acara yang dipimpin Wakil Bupati Rohul, Syafaruddin Poti, dihadiri oleh berbagai stakeholder seperti Kapolres Rohul AKBP Emil Eka Putra, Dandim 0313/KPR, anggota Forkopimda, BPBD Riau, Camat se-Kabupaten Rohul, serta relawan masyarakat. Kehadiran seluruh pihak ini mencerminkan bahwa karhutla bukan hanya tanggung jawab satu institusi, tetapi memerlukan koordinasi lintas sektor untuk mencegah kekeringan dan penyebaran api. Penyelarasan peran masing-masing lembaga menjadi bagian penting dari upaya menegakkan kesiapsiagaan.
Simulasi juga melibatkan Bhabinkamtibmas, Babinsa, BPBD Kabupaten Rohul, Polisi Kehutanan, Satpol PP, dan tim pemadam kebakaran. Peserta menguji kemampuan respons cepat dan kerja sama tim dalam kondisi darurat. Wakil Bupati Rohul menekankan bahwa kerja sama antarpihak akan menjadi pilar utama dalam mengurangi risiko bencana. “Simulasi ini adalah historic moment untuk mengukuhkan sinergi dan siap siaga,” tambahnya, menyoroti pentingnya keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
Kesiapsiagaan Terukur untuk Mengatasi Ancaman Musim Kemarau
Sebagai bagian dari persiapan, simulasi dilakukan secara serentak di 14 polsek di wilayah hukum Polres Rohul. Hal ini bertujuan memastikan setiap area memiliki kemampuan tanggap darurat yang optimal. Selain apel, kegiatan juga dilengkapi dengan Focus Group Discussion (FGD) dan pengujian peralatan. FGD membahas strategi pencegahan, termasuk penguatan kesadaran masyarakat tentang dampak karhutla dan pentingnya pengawasan terhadap kegiatan pembukaan lahan.
Kapolres Rohul, AKBP Emil Eka Putra, menegaskan bahwa historic moment ini membuktikan kesiapan tim penanggulangan bencana. “Simulasi memperkuat sinergi hingga tingkat bawah, sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan secara terukur dan efektif,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa dengan koordinasi yang baik, tim dapat bergerak cepat sebelum situasi memburuk. Penekanan pada kesiapsiagaan dianggap sebagai langkah proaktif menghadapi musim kemarau yang diprediksi akan memuncak mulai bulan Juli 2026.
“Simulasi ini adalah historic moment penting untuk menguji kemampuan tim dan memperkuat kesadaran masyarakat,” pungkas AKBP Emil, yang menyoroti peran relawan dan masyarakat dalam pencegahan. Ia berharap kegiatan serupa akan menjadi rutinitas untuk meminimalkan kerugian akibat karhutla.
Analisis Cuaca dan Langkah Antisipatif Pemkab Rohul
Wakil Bupati Rohul, Syafaruddin Poti, dalam sambutannya menyebutkan bahwa kondisi cuaca memasuki fase kemarau sejak bulan Juni hingga Oktober 2026. BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada bulan Juli dan Agustus, yang meningkatkan risiko kekeringan dan penyebaran api di hutan serta lahan. Dengan memahami pola cuaca, Pemkab Rohul mengambil langkah antisipatif untuk mengurangi dampak serius karhutla.
Menghadapi tantangan ini, Syafaruddin menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga dan masyarakat. “Historic moment ini menjadi bukti komitmen kita untuk menegakkan sistem pencegahan yang solid,” ujarnya. Ia juga menyampaikan rencana pengawasan rutin di wilayah rawan kekeringan, serta pemeriksaan persiapan alat pemadam dan sumber daya manusia. “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi antarpihak adalah kunci keberhasilan,” tambahnya.
“Kita perlu meningkatkan kesadaran warga agar partisipasi mereka terjaga,” kata Syafaruddin, yang mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari tindakan membuka lahan secara sembarangan. Langkah-langkah ini diharapkan mencegah kejadian karhutla dan menegakkan sistem siaga yang lebih kuat.
Pemeriksaan Peralatan dan Kesiapan Tim di Lapangan
Setelah apel kesiapsiagaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan peralatan yang dimiliki Polres Rohul, BPBD, Damkar, dan relawan. Verifikasi ini menjamin semua kendaraan dan alat berada dalam kondisi prima, siap digunakan saat keadaan darurat terjadi. Tim juga melakukan simulasi penggunaan peralatan di lapangan untuk menguji efektivitas responden terhadap kebakaran hutan.
Kesiapan tim diuji melalui latihan membakar lahan yang dikontrol secara terstruktur. Seluruh peserta memperhatikan prosedur penanggulangan api, termasuk pembagian tugas dan komunikasi lintas sektor. Kapolres Rohul menyampaikan bahwa latihan ini menjadi bukti realisasi historic moment dalam meningkatkan kemampuan respons darurat. “Kesiapan ini akan memberikan kepercayaan pada masyarakat bahwa kita selalu siap menangani kejadian kritis,” tambahnya.
