BNN: Jaringan 2,6 Ton Sabu Cair yang Disergap Berkaitan Kasus 1,3 Ton Ketamin
Daftar Isi
Dua Penangkapan Besar Narkotika di Perairan Kepri Ternyata Satu Benang Merah
Ceritaberkat.com – BNN – Perairan Kepulauan Riau kembali menjadi titik panas pemberantasan narkotika nasional. Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, Komjen Suyudi Ario Seto, menegaskan bahwa penyitaan 2,6 ton metamphetamine cair yang digagalkan pada pertengahan Agustus 2026 bukan peristiwa berdiri sendiri. Operasi tersebut, kata Suyudi, merupakan kelanjutan dari jaringan yang sama dengan kasus 1,3 ton ketamin yang lebih dulu digerebek di perairan Bintan.
Pengakuan ini disampaikan Suyudi di Batam pada Jumat (21/8/2026), beberapa hari setelah tim gabungan berhasil membongkar modus operandi penyelundupan kedua. Penjelasan tersebut sekaligus mengonfirmasi bahwa jalur laut di kawasan Kepri masih menjadi koridor utama peredaran gelap narkotika berskala internasional, khususnya yang melibatkan pelintas dari Asia Tenggara dan Asia Timur.
Kaitan Jaringan dan Asal Pelaku
Suyudi menjelaskan bahwa hubungan antara kedua operasi tidak berhenti pada kesamaan kewarganegaraan pelaku. Ia menekankan bahwa ada irisan konkret dalam struktur jaringan, bukan sekadar kebetulan geografis.
“Terkait dengan jaringan yang kami ungkap kali ini, 2,6 ton methamphetamine cair, itu ada kaitan dengan jaringan sebelumnya yang membawa ketamin 1,3 ton.”
Ia menambahkan bahwa pengembangan kasus masih berjalan ke arah aktor-aktor di atas rantai distribusi.
“Ada kaitan ya. Bukan karena sesama orang Myanmar, tapi memang kebetulan ada irisan dan ada kaitan. Dan ini masih kita kembangkan untuk pengungkapan yang ke atasnya.”
Fakta bahwa pelaku berasal dari Myanmar menjadi salah satu indikator pola yang sudah lama terpantau di kawasan. Myanmar, yang berbatasan langsung dengan Thailand dan Vietnam, kerap menjadi titik awal pengiriman narkotika sintetis ke pasar Asia Tenggara sebelum didistribusikan lebih jauh. Keterlibatan warga negara Taiwan dalam operasi ketamin juga menunjukkan bahwa jaringan ini memiliki dimensi lintas-negara yang lebih luas dari sekadar rute darat Asia Tenggara.
Operasi Ketamin: Dari Intelijen hingga Bongkar Muatan
Penindakan 1,3 ton ketamin bermula dari informasi intelijen internasional yang diterima Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dari otoritas Thailand pada Mei 2026. Data tersebut kemudian diperkuat oleh informasi dari Taiwan Coast Guard yang diteruskan melalui Bareskrim Polri pada awal Agustus 2026. Dengan dua sumber intelijen yang saling menguatkan, tim gabungan yang melibatkan Bareskrim Polri, DJBC, BNN RI, dan TNI AL memperketat pemantauan terhadap pergerakan kapal target.
Pada Kamis (6/8), kapal tersebut akhirnya dihentikan oleh Satgas Patroli Laut Bea dan Cukai bersama KRI Kerambit-627 di perairan utara Berakit, Bintan. Seluruh awak kapal dikawal menuju Dermaga Kodaeral IV Batam untuk pemeriksaan lanjutan.
Keberhasilan membongkar modus operandi baru tercapai keesokan harinya, Jumat (7/8). Petugas menemukan muatan disembunyikan di kompartemen tersembunyi yang berada dekat anjungan kapal. Total 65 karung berisi 1.300 bungkus teh cina dengan berat keseluruhan sekitar 1,3 ton berhasil diamankan. Pengujian menggunakan instrumen Rigaku mengonfirmasi bahwa seluruh sampel positif mengandung ketamin.
Dalam operasi itu, delapan anak buah kapal ditangkap. Mereka terdiri atas satu warga negara Taiwan berinisial TSM (43 tahun) serta tujuh warga negara Myanmar: KH (29), MML (36), ML (55), PL (27), TA (51), ZO (38), dan MML (44).
Penyitaan 2,6 Ton Metamphetamine Cair dan 1,5 Juta Rokok Ilegal
Di sisi lain, pada Senin (17/8) aparat gabungan menggagalkan peredaran 2,6 ton narkotika cair sekaligus 1,5 juta batang rokok ilegal di perairan Kepulauan Riau. Sepuluh orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam penindakan tersebut. Bentuk cair metamphetamine yang disita menunjukkan bahwa jaringan ini tidak hanya mengedarkan narkotika dalam bentuk padat siap jual, tetapi juga dalam bentuk konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut di titik distribusi berikutnya.
Kombinasi penyitaan narkotika cair dengan rokok ilegal dalam satu operasi mengindikasikan bahwa kapal-kapal yang melintas di perairan Kepri kerap dimanfaatkan untuk mengangkut berbagai komoditas secara bersamaan, sehingga meningkatkan nilai ekonomi setiap pelayaran dan memperbesar insentif bagi penyelundup.
Implikasi bagi Pemberantasan Narkotika di Perairan Kepri
Kepulauan Riau, dengan posisi strategis di selat yang menghubungkan Laut China Selatan dan Samudra Hindia, sejak lama menjadi jalur favorit penyelundupan lintas negara. Keterlibatan TNI AL dalam operasi gabungan serta penggunaan kapal perang seperti KRI Kerambit-627 menunjukkan bahwa pendekatan keamanan maritim kini menjadi komponen integral dalam strategi pemberantasan narkotika nasional.
Pernyataan Suyudi bahwa pengembangan kasus masih berlangsung ke arah “pengungkapan yang ke atasnya” mengisyaratkan bahwa BNN menargetkan bukan hanya pelakur di lapangan, tetapi juga jaringan pendanaan dan perantara di tingkat yang lebih tinggi. Jika berhasil, langkah tersebut berpotensi memutus rantai pasok dari sumbernya, bukan sekadar menahan muatan di titik transit.
Bagi masyarakat dan pelaku usaha pelayaran di kawasan Kepri, intensifikasi patroli dan pemantauan intelijen di perairan setempat diperkirakan akan terus meningkat dalam waktu dekat. Koordinasi antar-lembaga yang telah terbukti efektif dalam dua operasi besar ini menjadi fondasi bagi operasi lanjutan yang tengah disiapkan aparat.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is BNN?
BNN is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does BNN matter?
BNN matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.