Apa yang dilarang dalam Agama Buddha

Selama yang kita tahu bahwa agama Buddha merupakan agama yang tidak terpaku pada sebuah entitas Tuhan, alih-alih mereka terfokus pada pemahaman individu terhadap realitas, etika, dan meditasi untuk mencapai pencerahan. Dengan pernyataan tersebut, muncul lah rasa ingin tahu dari kita tentang apa yang dilarang dalam agama Buddha? Karena, jika mereka tidak mempercayai sebuah entitas, maka secara umum tindakan dan larangan harusnya tidak ada.

Bagi umat Buddha ajaran-ajaran yang telah diajarkan oleh Sang Buddha Gautama sebagai salah satu ajaran spiritual yang penuh hikmah. Secara umum, dalam perjalanan spiritual nya, umat Buddha untuk mencapai pencerahan dan kedamaian batin, mereka juga memiliki sebuah konsep yang dikenal dengan “Sila” sebuah kode etika yang memandu tindakan dan pemikiran setiap pengikut Buddha.

Dalam agama Buddha “Sila” dikenal sebagai pancasila Buddhis sebagai peraturan yang dilatih dan dilaksanakan oleh umat Buddha. Dalam artikel ini saya akan menjelaskan tentang “Sila” dan apa saja larangan dalam agama Buddha yang mesti kita ketahui.

Pengertian Sila di Kitab Tripitaka

Sila dalam kitab Tripitaka merupakan sebuah pondasi yang kokoh dalam agama Buddha. Kata “Sila” sendiri berasal dari bahasa Pali, yang artinya adalah moralitas dan etika.

Sila adalah serangkaian aturan moral yang diberikan oleh Buddha untuk membimbing perilaku dan pemikiran umatnya. Konsep ini menjadi dasar yang mendukung struktur ajaran Buddha, membantu pengikutnya untuk memahami bagaimana melibatkan diri dalam dunia dengan cara yang penuh kasih sayang, bijaksana, dan bermoral.

Dalam Kitab Tripitaka, yang merupakan koleksi bacaan suci agama Buddha yang sangat dihormati, terdapat banyak panduan dan ajaran yang berkaitan dengan Sila. Kitab-kitab dalam Tripitaka menguraikan Pancasila, lima aturan moral dasar yang menjadi pedoman bagi para pengikut. Pancasila ini meliputi konsep menghindari berfikir negatif, melarang pembunuhan, pencurian, perilaku seksual yang tidak etis, berbicara dusta, mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan, keserakahan, kemarahan, dan kebencian.

Apa yang Dilarang dalam Agama Buddha?

Pentingnya “Sila” dalam kitab Tripitaka yang tercermin dalam ajaran-ajaran Buddha tentang konsep karma, dimana tindakan baik dan buruk dalam hidup memiliki konsekuesnsi dimasa depan. Dengan mengikuti Sila, pengikut Buddha berusaha untuk menghindari tindakan yang dapat menghasilkan akibat negatif dalam kehidupan mereka.

Lantas apa saja isi dari sila tersebut?

Rangkaian larangan dalam agama buddha sering disebut dosa sila sebagai berikut :

Menghindari Berpikiran Negatif

Salah satu larangan pertama dalam Agama Buddha adalah menghindari berpikiran negatif. Ini mencakup berbagai bentuk pikiran yang meracuni jiwa, seperti iri hati, dendam, dan kebencian. Agama Buddha mengajarkan pentingnya menjaga pikiran yang jernih, penuh kasih sayang, dan bebas dari emosi negatif.

Hal ini diyakini bahwa pikiran yang positif dan bijaksana akan membantu individu mencapai kedamaian batin dan hubungan yang lebih harmonis dengan sesama makhluk hidup.

Melakukan Pembunuhan

Ajaran agama Buddha yang kita kenal lebih pada penerapan pencerahan dalam meditasi, pembunuhan merupakan tindakan yang tidak baik bukan hanya di agama Buddha saja, namun tindakan tersebut akan tercela di setiap pandangan agama juga masyarakat.

Dalam agama Buddha, Para pengikut diajarkan untuk menghormati dan menjaga kehidupan dalam segala bentuknya. Ini tidak hanya meliputi larangan membunuh manusia, tetapi juga melibatkan rasa hormat terhadap semua makhluk hidup, termasuk hewan dan serangga. Dalam pandangan Buddha, setiap bentuk kehidupan memiliki nilai dan hak untuk eksis.

Baca juga :  Wajib Tahu! Kapan Sholat Idul Adha 2023 Dilaksanakan

Melakukan Pencurian

Dalam “Sila” juga terdapat larangan berbuat tindakan pencurian atau merampas. Tindakan larangan ini sebagai prinsip moral yang sangat penting dalam Agama Buddha. Para pengikut Buddha diajarkan untuk menghormati hak milik orang lain dan untuk tidak merugikan atau mencuri barang-barang yang bukan milik mereka. Ini adalah panggilan untuk berperilaku dengan integritas dan menghargai kepemilikan pribadi.

Memiliki Perilaku Seksual yang Tidak Etis

Sama halnya dengan larangan dalam agama lainnya, ajaran spiritual Buddha juga melarang tentang tindakan seksual yang tidak etis.

Ini termasuk larangan terhadap perzinaan, pemerkosaan, dan hubungan seksual yang tidak sah. Buddhisme mendorong hubungan yang didasarkan pada saling pengertian, rasa hormat, dan persetujuan antara pasangan. Ini adalah panggilan untuk menjaga keintiman dalam batasan moral yang ditetapkan.

Berbicara Dusta

Kita tidak dianjurkan dalam berbohong di kondisi seperti apapun. Agama Buddha dalam pancasila “sila” berbicara dusta merupakan perilaku yang sangat dihindari dalam Agama Buddha. Kejujuran dianggap sebagai nilai yang sangat dihargai, dan para pengikut diajarkan untuk berbicara dengan tulus dan jujur. Berbohong dianggap sebagai tindakan yang merusak kepercayaan antara individu dan merusak integritas pribadi.

Mengkonsumsi Alkohol dan Obat-Obatan

Agama Buddha menyarankan pengikutnya untuk menjauhi alkohol dan obat-obatan yang dapat memengaruhi pikiran dan perilaku. Ketergantungan pada zat-zat ini dianggap menghambat kemajuan spiritual dan mengganggu pemahaman diri menuju spiritual yang membebaskan diri dari dukha.

Keserakahan

keserakahan dalam harta
keserakahan dalam harta

Dalam pandangan Buddha, keserakahan adalah salah satu akar dari penderitaan manusia. Ketika seseorang terjerat dalam siklus berkelanjutan mencari kebahagiaan melalui akumulasi harta, hal ini seringkali menghasilkan kecemasan, ketidakpuasan, dan ketegangan emosional.

Keserakahan membuat seseorang terpaku pada pemikiran tentang apa yang kurang dalam hidup mereka daripada menghargai apa yang telah mereka miliki. Ini mengganggu kedamaian batin dan menghalangi perkembangan spiritual.

Keserakahan adalah salah satu hambatan utama dalam perjalanan menuju pencerahan dalam Agama Buddha. Mempelajari dan mengatasi keserakahan adalah langkah penting dalam membebaskan diri dari penderitaan (dukkha) yang bersumber dari diri sendiri dan mencapai kedamaian sejati pada dirinya.

Kemarahan dan Kebencian

Dalam Agama Buddha, kemarahan (dikenal sebagai “krodha”) dan kebencian (dikenal sebagai “dosa”) dianggap sebagai emosi negatif yang perlu diatasi oleh para pengikut.

Pandangan Buddha tentang kemarahan dan kebencian sangatlah jelas, merek adalah emosi yang merusak dan merugikan seseorang. Ketika seseorang terbawa emosi akan kemarahan dan kebencian, mereka cenderung bertindak dengan cara yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Tentu, hal ini akan sangat mengganggu kedamaian batin seseorang, mengacaukan pikiran yang jernih, dan menghambat perkembangan spiritual.

Dengan kata lain, bahwa ajaran Buddha tentang mengatasi kemarahan dan kebencian adalah bagian penting dari perjalanan spiritual dalam Agama Buddha.

Pada artikel di atas kita telah mengetahui tentang apa yang dilarang dalam agama Buddha yang sudah seharusnya kita kenali bahkan menjalankannya pada kehidupan sehari-hari sebagai umat Buddha yang mencapai kedamaian sejati.

Larangan-larangan seperti yang telah saya jelaskan diatas merupakan sebuah pijakan yang mengarahkan kita untuk menjalani kehidupan dengan integritas, kasih sayang, dan pemahaman.

Melalui praktik dan penghayatan dari larangan-larangan ini, kita dapat mengejar perjalanan spiritual yang lebih dalam, merasa puas dengan pencapaian kita dalam mengendalikan diri, dan memberikan kontribusi positif kepada dunia di sekitar kita.

Dengan mengawali hari-hari, sebagai Buddhis akan lebih baik untuk Anda menerapkan beberapa doa mantra berikut :

Amitofo sebagai mantra spiritual dalam meditasi umat Buddha.

Doa umat Buddha sebagai Mantra pelindung diri  

Agama Buddha adalah bukan hanya agama, tetapi juga sebuah panduan untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan bijaksana.

Jangan lupa sebarkan artikel ini pada saudara dan kerabat Anda, agar kita semua berjalan bersama dalam kebijaksanaan, dan memberikan cinta kasih kepada semua makhluk. Terima kasih.

By Cerita Berkat

Menggali potensi diri dan mengejar kesuksesan dengan mempraktikkan manfaat kebaikan dan menerapkan motto kehidupan inspiratif.