4 Kebenaran Mulia dalam Agama Buddhasumber: freepik.com

Cerita berkat – Untuk menjadi umat Buddha yang sejati tentu saja pertama-tama kita harus memahami dasar-dasar ajaran agama buddha yang tentu saja sesuai dengan kitab suci agama Buddha.  Terlepas dari banyaknya aliran dalam agama Buddha, dasar dari ajaran Buddha tetaplah sama yaitu 4 kebenaran mulia.

Dengan mengenal konsep dasar dalam agama buddha tentang 4 kebenaran mulia dalam agama Buddha yang menyatakan bahwa kehidupan di dunia ini penuh dengan penderitaan (dukkha), dan penderitaan ini disebabkan oleh hasrat (tanta) dan keinginan.

Kebenaran selanjutnya adalah bahwa kita bisa mengatasi penderitaan dengan membebaskan diri dari hasrat dan keinginan tersebut.

Apa Itu Agama Buddha?

Mari kita mengenal agama Buddha!

Untuk mengenal agama Buddha yang merupakan suatu ajaran yang sudah ada mulai dari abad ke 6 SM, diperkirakan sudah ada sejak 2540 tahun lalu, dan menjadi agama tertua yang masih dianut di dunia hingga saat ini.

Dalam proses perkembangannya agama ini, praktis telah menyentuh hampir seluruh benua asia yang di bawa oleh Siddhartha Gautama yang dikenal sebagai Buddha Gautama oleh pengikut-pengikutnya, yang hingga saat ini sekitar 475 juta orang di seluruh dunia menganut agama ini.

“Buddha” yang artinya “yang telah sadar” atau “yang telah terjaga”. Istilah ini berasal dari bahasa sansekerta “Budh” (terjaga, menyadari, memahami), kata buddha menjadi gelar untuk seseorang yang telah mencapai pencerahan sempurna.

Buddhis melakukan ibadahnya dan mempercayai kitab suci juga tempat beribadah yang berbeda,  mereka beribadah dengan memberikan penghormatan terhadap patung Buddha serta melakukan kebaktian dan berdoa.

Lantas siapakah Sang Buddha? Sang Buddha atau dikenal sebagai Siddharta Gautama merupakan seseorang pangeran  kerajaan sakya yang berhasil mencapai pencerahan dengan perjalanan yang panjang hingga menemukan “Jalan Tengah” menuju pencerahan sesungguhnya menjadi Sang Buddha.

Para buddhis biasanya melakukan kegiatan ibadah di rumah ataupun di vihara yang berhadapan dengan patung Buddha yang di lakukan setiap hari minggu secara rutin, Penghormatan kepada sang Buddha, Dhamma sebagai kebaktian ini disebut dengan puja Bakti.

Dalam perayaan agama Buddha yang dikenal dengan Waisak, istilah waisak berasal dari bahasa sangsekerta Waishakha, pali vasakha. Hari waisak sebagai peringatan kelahiran, dan kematian sang Buddha, Siddharta Gautama.

Ajaran-ajaran dasar dalam agama Buddha :

Sekarang ini, para bhikkhu, adalah kebenaran mulia penderitaan: kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan, sakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan; berkumpul dengan apa yang tidak menyenangkan adalah penderitaan; berpisah dengan apa yang menyenangkan adalah penderitaan; tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan; singkatnya, kelima kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan adalah penderitaan.

Dengan kebenaran mulia tersebut merupakan kelompok kesejatian dalam empat fakta yang di pandang sebagai pembelajaran oleh makhluk-makhluk.

4 Kebenaran Mulia Dalam Agama Buddha

berkat 4 Kebenaran Mulia Agama Buddha
sumber: freepik.com

Sifat mulia dalam Agama Buddha terkait dalam pengembangan mutu, baik cita kita-kasih, welas asih, kemurahan hati dan kebijakan yang terdapat dalam 4 kebenaran mulia yang di ajarkan dalam agama Buddha.

Kebenaran mulia berlaku bagi siapa saja tanpa membeda-bedakan suku, ras, budaya, maupun agama. Mengaku atau tidak mengakui, suka atau tidak suka, setiap manusia mengalami dan diliputi oleh hukum kebenaran ini.

4 kebenaran mulia ini yang ditemukan itu lantas di ajarkan oleh Buddha Gautama kepada umat manusia di bumi ini, 4 Kebenaran Mulia dalam Agama Buddha akan tetap ada dan berlaku secara universal. Adapun dari penjelasan 4 kebenaran mulia tersebut antara lain :

Dukkha

Kebenaran mulia tentang dukkha merupakan istilah dalam bahasa pali, yang artinya sebagai penderitaan dan kesedihan, namun secara harfiah dukkha berarti sulit untuk bertahan/sulit ditahan.

Dukkha dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:

  1. Dukkha, yaitu dukkha dari penderitaan fisik, yang mencakup kelahiran, usia tua, sakit, dan kematian. Menurut Buddhisme, saat dilahirkan ke dunia seorang bayi mengalami kesakitan (oleh sebab itu, bayi menangis saat dilahirkan); usia tua yang menyebabkan tubuh jasmani melemah (tulang kropos, otot mengendor dan  penglihatan kabur). Jelas merupakan penderitaan; saat kematian unsur-unsur pembentuk kehidupan terurai sehingga menyebabkan kesakitan bagi orang yang meninggal dunia.
  2. Viparimana-dukkha, yaitu dukkha karena perubahan, yang mencakup berkumpul dengan hal yang tidak menyenangkan, berpisah dengan yang dicintai, dan tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Ini menyatakan adanya hal yang tidak diinginkan dan menjadi putus asa.
  3. Sankhara-dukkha, yaitu dukkha karena keterkondisian (sankhara): segala sesuatu yang muncul bergantung pada penderitaan yang tidak kekal, Fenomena fisik dan mental yang membentuk kehidupan, seperti kecewa, sedih dan sebagainya.

Samudaya

Kebenaran mulia tentang sebab dukkha (Samudaya) yaitu problem kehidupan ini disebabkan oleh keinginan dan kemeletakan/ keterikatan kita terhadap hal-hal yang kita cintai, kita benci dan rasa yang menimbulkan sebab.

Penderitaan pada kebenaran mengenai sebab Dukkha, terjadinya Dukkha tentu ada sebabnya, yaitu manusia diselimuti dengan rasa benci, sifat serakah, hingga batin yang gelap. Hal ini tentu akan membuat manusia yang mengalaminya akan berujung pada kelahiran yang berulang dari waktu ke waktu. Manusia dengan sebab ini terjadi dan dialami tanpa disadari.

Niroda

Kebenaran mulia tentang lenyapnya dukkha (Niroda), yaitu sama halnya dengan penyakit yang sembuh saat penyebabnya diketahui dan dilakukan pengobatan yang tepat, penderitaan yang di alami seseorang juga akan menuju pada berakhirnya penderitaan kesakitan yang dialaminya, hal ini memberikan status sebagai kebahagiaan nirwana.

Kebahagiaan yang di maksud merupakan kebahagiaan yang dapat di capai bukan adanya setelah meninggal namun kebahagiaan yang di capai ketika seseorang pun masih hidup.

Seorang buddhis yang miliki sifat jernih dan terbebas dari sifat serakah benci dan gelap batin, ia lah yang akan dapat mencapai dalam kebijakan dalam hidup, ini lah yang dinamakan dengan kebahagiaan nirwana pada 4 kebenaran mulia dalam agama buddha.

Magga

4 Kebenaran Mulia dalam Agama  yang terakhir merupakan tentang dukkha Nirodha Gamini Patipada (Mangga) ajaran ini mengajarkan bagaimana kita dapat melenyapkan dukkha dalam diri. Kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya dukkha akan sangat bermanfaat bagi setiap manusia yang masih bergelut dalam urusan duniawi dan miliki dukkha (penderitaan).

Ada beberapa cara dalam upaya melenyapkan Magga ini, berikut :

  1. Moralitas (sila), yaitu menjaga dalam ucapan kita dengan benar, perbuatan kita agar tidak melakukan hal buruk, hingga melakukan pengembangan yang benar.
  2. Konsentrasi (samadhi) mampu mengendalikan pikiran dan senantiasa penuh perhatian pada kehidupan dan aktivitas dalam keseharian kita
  3. Kebijaksanaan (panna) mendapatkan pengembangan yang benar terhadap pandangan kehidupan yang ketidakkekalan, dan mampu mengendalikan pikiran yang sehat.

Ajaran Agama Buddha Terbuka Untuk Semua Orang

Buddha mengajarkan ajaran demi kebahagiaan umatnya, kebahagiaan semua makhluk, begitupun juga dengan pandangan Buddha terhadap manusia biasa, Buddha melihat kenyataan tentang pola pikir dan perbedaan yang adanya secara paripurna.

Dalam ajaran Buddha menyebutnya “Pencerahan”, yang di mana Buddha dalam ajaran mencangkup dalam memberikan penyelesaian mendasar kehidupan yang berkaitan dengan realitas, eksistensi, pengetahuan, nilai, dan akal sehat. Alih- alih ini akan memberikan kebebasan diri dari masalah-masalah hidup.

Pada dasarnya agama Buddha dikenal dengan agama yang tidak berlandaskan pada ketuhanan seperti konsep Tuhan pencipta alam semesta seperti yang ada di agama-agama lain tidak dianggap sebagai fokus utama dalam ajaran Buddha.

Alih-alih, fokusnya adalah pada pemahaman individu terhadap realitas, etika, dan meditasi untuk mencapai pencerahan.

Maka dari itu, ajaran agama Buddha ini bersifat terbuka, tidak ada satupun yang dirahasiakan.

Ajaran-ajaran dalam pengembangan Buddha sendiri melibatkan setiap manusia, terlepas dari konsep ketuhanan dalam agama Buddha lebih bersifat nonteistik, yakni tidak menekankan keberadaan Tuhan sang pencipta atau bergantung kepada-nya.

Bagi umat Buddha, tujuan akhir hidup manusia adalah pencapaian kebuddha-an (Annutara Samyak Sambodhi) atau pencerahan sejati, maka dari itu kita akan menghargai ajaran-ajaran Buddha moralitas, konsentrasi dan kebijakan

Hal ini tentu berlandaskan umat Buddha, agar senantiasa kita dapat terbiasa menahan diri dari tindakan-tindakan yang bersifat buruk dan akan menjadi giat dalam kegiatan positif, mampu memberikan dampak yang bermanfaat dan memberikan bimbingan dengan apa yang kita dambakan semua kebahagian dan kebijakan.

Jadi, konsep 4 Kebenaran Mulia dalam Agama Buddha mengajari dan mengingatkan untuk selalu memperbanyak perbuatan baik, kurangi perbuatan jahat dan sucikan hati, dengan melakukan perbuatan baik maka akan mendatangkan kebahagiaan bagi kita.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca dan semoga makhluk dalam kebaikan dan kebahagiaan menghampiri kehidupan kita.

By Cerita Berkat

Menggali potensi diri dan mengejar kesuksesan dengan mempraktikkan manfaat kebaikan dan menerapkan motto kehidupan inspiratif.